Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 49 - Keluh Samuel


__ADS_3

Cukup lama Samuel berada di toilet, sudah lima kali bolak balik membuat kedua kakinya menjadi lemas. "Siapa yang melakukan ini? Makanan pelayan tidak pernah salah, dan juga aku tidak memakan makanan pedas." Monolognya seraya berpikir keras mengenai sesuatu hal, hingga terlintas di otak saat Dave meminta coklat yang membuatnya mengalihkan perhatian.


"Telur cicak? Ya, aku sangat yakin jika dialah pelakunya. Awas kau!" tekadnya seraya melanjutkan aktivitas.


Tak lama, reaksi dari pencuci perut berkurang. Segera menghampiri dua kakak beradik yang masih setia menunggunya. "Maaf, aku sedikit lama!" ucapnya dengan ramah, melirik Dave sebagai musuhnya.


"Syukurlah, kami pulang dulu."


"Hei, kenapa cepat sekali?" protes Samuel yang belum bisa menjalankan misinya.


"Karena kak Alex telah membatasi waktunya. Ayu, Dave!" 


"Baik Aunty." Serunya bersemangat.


Eve segera pergi meninggalkan tempat itu, namun Dave masih berdiri dan tersenyum memandang Samuel. "Itu hanya perumpamaan, Paman!" ucapnya sembari tersenyum jahil, segera pergi dari tempat itu setelah menginjak kaki pria tampan. "Dan itu bonus dariku, sampai jumpa Paman!" melambaikan tangannya dengan riang.


"Apa kau ingin di goreng, hah? Dasar telur cicak!" umpat Samuel yang sangat kesal dengan bocah laki-laki itu.


Menatap kepergian mereka dan segera menutup pintu dengan keras, misi untuk mendekati Eve gagal saat adanya sang pengacau. "Baru pertama bertemu, dia sudah menjahiliku. Bagaimana dengan satu bulan penuh? Semoga telur cicak itu segera pergi ke habitatnya." 


Di dalam mobil, kedua kakak beradik itu tertawa sepuasnya, bertos ria karena berhasil mengerjai Samuel. "Kau sangat pintar sekali!" puji Eve yang menoel pipi adik sepupunya.


"Tentu saja, tapi kenapa Aunty bisa terjebak dengan pria licik sepertinya?"


"Kau tidak akan mengerti, tapi bisakah kau memanggilku dengan sebutan kakak? Aku bukan bibimu!"


"Entahlah, Dave lebih menyukai panggilan itu."


"Tidak! Kau harus mengubahnya mulai sekarang, karena aku tidak setua itu!" cetus Eve.


"Ya…ya, baiklah. Mulai sekarang Dave akan memanggilmu dengan sebutan kakak, puas?" ucap Dave santai.


"Sangat puas!" balas Eve tersenyum sumringah.


Dave memandangi kota yang ramai akan lalu lintas, menikmati suasana dengan sangat baik. "Kak!"


"Ya," jawab Eve yang menoleh.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita jalan-jalan dulu dan menikmati es krim?" 


"Apa kau ingin aku dimarahi oleh bibi Kayla?" 


"Sekali saja, aku sangat merindukan tempat ini. Ayolah, Kak!" bujuk Dave yang terus merengek.


"Baiklah!" sahut Eve dan meminta sang supir untuk mengantar mereka dan menikmati semangkuk es krim.


Eve tak bisa menolak permintaan dari adiknya itu, menghabiskan waktu bersama memainkan wahana permainan dengan puas setelah memakan es krim. 


Selesai bermain, mereka memilih duduk di kursi yang telah disediakan. Dengan keringat di dahi, menandakan keduanya kelelahan. "Sudah cukup untuk hari ini, kita akan pulang! Sebelum kak Alex datang." 


"Baik, Kak! 


****


Di pagi hari, Eve selesai bersiap-siap dan segera berangkat ke kampus. Tak menghiraukan panggilan semua orang, karena dia sudah sangat terlambat. Masuk ke dalam mobil dengan perasaan gusar, apalagi dosen yang mengajar adalah tipe killer. "Semoga saja dosennya tidak masuk!" doa sang mahasiswi teladan. 


Mobil berhenti, dengan cepat dia keluar dan segera masuk ke kelas. Langkah yang begitu tergopoh-gopoh tak sengaja menabrak sebuah dada bidang. "Maaf, aku tidak sengaja!" ucapnya sembari menoleh.


"Tidak masalah, aku sangat merindukanmu." 


"Tidak ada dosen yang mengajar, bagaimana jika kita jalan-jalan?"


"Apa kau ingin dihajar para penjahat lagi?" ledek Eve.


"Hah, kau mengingatkan ku mengenai hari itu. Bagaimana kabarmu? Kemarin aku belum sempat menanyakan apapun padamu."


"Seperti yang kau lihat, tapi maafkan aku yang tidak bisa ikut denganmu. Ada urusan dengan Anita." Eve segera berlalu pergi tanpa menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut pria tampan itu. 


Eve celingukan mencari keberadaan sang sahabat yang belum terlihat, hingga seseorang menepuk bahunya pelan, membuatnya terlonjak kaget. "Eve, aku sangat merindukanmu." ucap Anita yang menghamburkan pelukannya.


"Aku juga, apa kau mengalami kesulitan?"


"Tentu saja, kekasihmu itu sangatlah gila. Dia selalu memantau rutinitasnya ku layaknya seorang penguntit, dan juga mengancamku."


Eve sedih, dia sangat menyesal mengenal Samuel yang membuat hari-hari nya buruk.

__ADS_1


"Dia selalu saja berbuat seenaknya, jika dia mengancammu lagi, katakan padaku!" 


"Ehem, pantas saja telingaku panas. Ternyata aku dijadikan bahan obrolan!" sela Samuel yang selalu mengikuti Eve.


Kedua wanita itu segera menoleh ke asal suara, ekspresi wajah melongo saat melihat keberadaan pria yang menjadi bahan obrolan hadir. Anita melirik Eve, dan segera pergi dari tempat itu untuk memberikan ruang. "Aku pamit dulu, tidak enak mengganggu kalian!"


Mereka menatap kepergian Anita yang sudah menjauh, Samuel menatap kekasihnya yang kembali berdandan cupu. "Kenapa kau kembali menjadi boneka san…maksudku boneka Annabelle?" ralatnya dengan cepat.


"Aku lebih nyaman menggunakanya, kenapa kau kesini? Tindakan konyol mu itu membuat sahabatku ketakutan."


"Memangnya apa yang aku lakukan?" ujar Samuel tak merasa bersalah.


"Ck, kau selalu saja begitu. Apa yang kau inginkan? Berhentilah menguntit sahabatku!"


"Baiklah, asal kau ingin jalan-jalan denganku!"


"Sepertinya syarat itu sangat mudah, baiklah! Aku menerimanya. Tapi sebelum itu, kita singgah dulu ke toko roti."


"Itu tidak masalah."


Setelah sepakat, keduanya setuju untuk pergi bersama. Di dalam mobil tidak ada percakapan dari keduanya, tidak ada yang ingin memulai membuat keadaan hening. Tak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai ke toko roti, Eve memborong semua roti yang tersedia di toko itu, sedangkan Samuel keheranan.


"Apa kau sanggup menghabiskan roti sebanyak ini?" tanya Samuel seraya mengerutkan keningnya. 


"Jangan banyak bertanya, cepat bantu aku membawakan ini."


Samuel mengambil paper bag yang berisi roti dan memasukkan ke dalam mobil, membantu kekasihnya. "Apa yang kita lakukan dengan semua roti itu?" 


"Untuk dibagikan pada anak jalanan, mereka pasti sangat senang."


"Anak jalanan?" 


"Iya, apa kau pikir aku menghabiskan roti itu sendiri? Kau sendirilah yang menyusulku ke kampus. Kebetulan yang sangat pas!"


Samuel sedikit terkejut, jika mereka akan melewati perkampungan kumuh. "Astaga, ini kali pertamanya aku melewati jalanan rusak ini." Batinnya yang mengeluh.


Eve menyadari jika Samuel tak menyukai rute mereka, tersenyum melihat raut wajah tampan itu. "Sepertinya kau tidak pernah melewati jalanan rusak ini?" 

__ADS_1


"Aku ingin membawamu berkencan, bukan piknik ke kampung kumuh dengan jalanan yang rusak."


"Nikmati saja, bukankah kau kekasih tampan dan juga dermawan?" puji Eve yang tersenyum. Seakan mendapatkan suntikan Vitamin, kembali membuat pria itu bersemangat.


__ADS_2