
Eve memaksakan diri untuk masuk ke dalam, tak sabar melihat kelanjutan dari Samuel yang di hajar oleh Niki. Sesampainya di depan ruangan, dia membuka pintu dan masuk ke dalam. Namun, apa yang dilihatnya sangat bertolak belakang. Menjatuhkan rahang, mata yang terbelalak dan mulut yang menganga. "Ini di luar dugaanku!" gumamnya.
Eve tak menyangka, melihat kakak sepupunya sedang bercengkrama seraya menyeruput kopi. Mereka tertawa saat mengingat masa sekolah dulu, dimana Samuel mempunyai bobot tiga kali lipat dibandingkan saudara kembar itu. "Bagaimana badak bercula satu bisa menjadi pangeran kodok sepertimu?"
"Ck, aku ini sangat tampan bahkan hampir menyeimbangi dirimu." Samuel membenarkan dasinya yang sedikit miring, menyombongkan diri dengan bangga.
"Kau luar biasa!" puji Niki yang menyeruput kopinya.
"Kenapa Kakak tidak menghajar nya?" pekik Eve yang menghentakkan kaki, kesal saat melihat hal itu.
Niki sangat terkejut, melupakan kemarahan yang ingin memberi Samuel perhitungan. Karena tidak bisa menghindar dari rasa terkejut membuatnya menyemburkan kopi mengenai wajah pria tampan di hadapannya. "Eve, kau?"
"Ya, kenapa Kakak malah bersantai di sini dan melupakan tujuan utama?" Eve menolak pinggang, mengintrogasi sang kakak dan sesekali melirik Samuel dengan sinis.
"Sialan! Apa kau ini dukun hingga menyemburku?" ketus Samuel, kembali menyeka wajahnya yang kotor.
"Lupakan itu!"
"Ayolah Kak, hajar pria itu." Seru Eve yang bersemangat.
"Kau kenapa?" ucapnya yang seketika mengingat, jika tujuannya adalah memberikan Samuel pelajaran yang tak akan dilupakan dengan mudah. Dia menepuk kening, karena benar-benar lupa mengenai rencana awalnya. Sedangkan Samuel mengelap wajahnya dengan tisu, melihat pertengkaran dua orang yang tak berada jauh darinya. Niki Menggebrak meja membuat orang lain tersentak kaget, berdiri seraya memegang kerah leher Samuel. "Berani sekali kau menindas adik cantikku itu! tekannya penuh ancaman. Samuel menatap Niki keheranan, berpikir jika pria itu berkata membela sang adik sepupunya.
Eve menghela nafas panjang, melihat kakak sepupunya yang baru bertindak setelah diperingatkan. " Hentikan ini, karena dramanya telah usai!" gerutunya yang cemberut.
__ADS_1
Samuel yang geram melakukan serangan balik, keduanya saling mengunci pergerakan, hingga mereka tidak bisa lepas. Mereka terlihat sangat intim dengan posisi wajah yang berjarak sejengkal. "Dasar badak! Berani sekali kau menindas adikku."
"Ck, kau dan boneka santet itu sama saja."
Pletak
"Rasakan itu hadiah dariku untukmu." Niki sangat geram, menjitak kepala sahabat lamanya dengan sangat keras membuat sang empunya meringis. Samuel tak ingin mengalah hingga membalas perbuatan Niki, jangan tanya bagaimana perasaan Eve saat ini, yang pasti dia sangat kesal karena kejadian itu tak sesuai ekspektasi. "Adakah seseorang yang ingin menjadi temanku?" batinnya yang meringis, karena seluruh anggota keluarga Wijaya tidak ada yang normal.
"Coba kau ulangi lagi perkataanmu itu!" cetus Niki songong, kembali menantang pria itu dan menunjukkan kebolehan dan bakat.
"Ck, kau dan boneka santet itu sama saja." Ulang Samuel yang tak memahami kenapa sahabat lamanya memintanya.
Niki sangat kesal, dia tidak bisa mendengar satu perkataan buruk mengenai Eve. Dia semakin mengeratkan penguncian membuat Samuel kesulitan bernafas, berusaha untuk melawan tapi nihil karena Niki lebih kuat dibandingkan dirinya. "Heh, kau tidak akan bisa melawanku."
Niki segera melepaskan Samuel dan membantu pria itu berdiri, kemudian mereka saling berpelukan dan tertawa lepas. Sontak membuat Eve membelalakkan kedua matanya, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. "Eh, apa mereka sedang mengerjaiku?" batinnya sambil mengusap kelopak mata.
"Aku akui kau masih saja hebat, kemampuanmu semakin terasah." Puji Samuel.
"Heh, tentu saja." Jawab Niko menyombongkan diri. Kedua pria itu duduk di sofa, Eve memilih tetap berdiri di hadapan dua pria aneh.
"Jadi, dia adikmu?" Samuel sungguh tak menduga jika pelayan nya seorang cucu sultan, ada rasa takut menyelimuti pikirannya. Namun, dia semakin tertantang untuk menaklukkan si cupu sebagai kekasihnya.
"Ya, lebih tepatnya adik sepupu. Tolong lepaskan adikku, dia selalu bertingkah ceroboh." Jelas Niki yang membicarakannya dengan baik-baik, prihatin dengan Eve, berharap jika Samuel mengabulkan perkataannya.
__ADS_1
"Boleh saja, asal dia menjadi kekasihku." Samuel melirik Eve dan menggodanya, mengedipkan sebelah mata terlihat sangat seksi di mata orang yang melihatnya. Tapi, tidak bagi Eve yang semakin mendelik kesal. "Jangan macam-macam, atau aku akan menghajarmu!" ketus Eve berteriak, memperlihatkan salah satu kepalan tangannya. "Aku tidak ingin menjadi kekasihmu, ambil kartu ini dan permasalahan selesai." Dia melemparkan kartu tanpa limit, karena sangat geram dengan majikan dadakan nya.
"Sudahlah, memangnya apa yang kau lihat dari Eve? Lupakan itu dan anggaplah kalian tidak saling mengenal." Bujuk Niki dengan kesabaran kian menipis.
"Aku tidak merubah keputusan itu." Ucapan Samuel berhasil membuat Niki tak menyukainya, karena Eve adalah adik sepupu yang paling dia sayangi, tak akan membiarkan orang lain menyakiti. Memegang pergelangan tangan adiknya dan beranjak dari tempat itu, tak menghiraukan perkataan dari sahabat lamanya.
Langkah Samuel sangat cepat dan menghadang kedua kakak beradik itu, tatapan sengit saling di lontarkan. "Aku pikir kau masih Bimbom yang dulu, ternyata aku salah. Kau pria yang sangat berbeda!" terlihat guratan kekecewaan kepada pria itu, beberapa tahun tak bertemu dan melewatkan sesuatu.
"Jangan salahkan aku, tapi situasi lah yang membuatku seperti ini." Ucap Samuel dingin, Niki menatap dalam mata sahabat lamanya, tersimpan rasa sedih, kepahitan, dan juga penyesalan.
"Apapun alasanmu, aku tidak peduli. Jauhi Eve, ternyata Niko benar mengenaimu."
"Jadilah kekasihku!" Samuel tak menggubris pria itu, lebih tertarik menatap wajah Eve.
"Tidak! Mulai sekarang kau bukan lagi majikanku, dan simpan saja ucapanmu itu." Ketus Eve, karena dia sangat yakin jika Samuel hanya memainkannya seperti para wanita lainnya, menolak pria itu mentah-mentah dan berlalu pergi di ikuti Niko.
Samuel mengalihkan pandangan, dia sangat benci kata penolakan, sikap berani Eve membuatnya bertekad. "Kau akan tetap menjadi kekasihku." Penolakan yang terasa sakit di hati. "Hanya dua wanita yang menolakku, pertama wanita cantik di Cafe, dan kedua Eve. Ini akan menjadi sangat menarik!" gumamnya di dalam hati.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar, keempat pria datang berkunjung. Mereka tak sengaja mendengar percakapan penolakan Eve, dan menertawai nasib sial Samuel. Gelak tawa pecah di dalam ruangan itu, mereka tak menyadari jika ada seseorang yang sangat tersinggung dengan ucapannya.
"Aku tak menyangka, apa pesonamu sudah anjlok sekarang?" ejek salah satu dari temannya.
"Wah sepertinya kau kalah taruhan, berikan kunci mobilmu!"
__ADS_1
Dengan terpaksa Samuel memberikan mobil kedua mobilnya yang mahal juga kesayangan, namun ambisinya tak mempermasalahkannya.