
Samuel sangat senang, tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dapat merasakan kehangatan kasih sayang dari wanita yang pernah melahirkannya. Air mata kembali menetes, namun bukan kesedihan, melainkan tangisan bahagia. Sungguh keajaiban luar biasa, ujian yang dia hadapi lolos setelah menunggu puluhan tahun.
"Ini Sam, Bu." Lirihnya seraya mengeratkan pelukannya, melimpah ruahkan kasih sayang dan jiwa penuh kerapuhan. Masa kecil yang di renggut paksa darinya, membuahkan hasil luar biasa. Menjadi pria tangguh dan sukses dalam berkarir.
"Sam, dia membawa wanita lain. Ayahmu telah mengkhianati kita!" ucap Lili yang menangis mengingat kejadian yang membuatnya tertekan dan depresi. Seketika membuat pria tampan itu terdiam, begitu dalam luka yang digoreskan oleh ayahnya.
"Lupakan pria itu, yang terpenting Ibu sudah sehat." Tukasnya menoleh beberapa detik dan menatap lurus.
"Kau berkata benar, kau sangat tampan!" puji Lili yang melepaskan pelukannya, memegang wajah putranya dan mengamati.
"Tentu saja!"
"Ayo, bawa aku pulang ke Mansion!"
"Kita tidak akan kesana!"
"Kenapa?"
"Kerena Mansion sudah dikuasai oleh wanita licik itu."
"Dia tidak ada hak dengan Mansion."
"Lupakan saja, Bu. Biarkan wanita licik itu melakukan sesuka hatinya, yang terpenting kita hidup dengan nyaman tanpa di bayangi oleh mereka."
"Ibu tidak sudi, jika semua kekayaan kita dipakai oleh istri ke dua ayahmu. Apa kau tahu? Jika semua kekayaan yang mereka nikmati adalah milik keluarga Ibu, kaulah yang berhak menikmatinya, bukan wanita itu!"
"Apa? Jadi itu milik Ibu, bukan pria brengsek itu?"
"Karena sebelumnya Bramantyo hanyalah pria miskin yang tak mempunyai apapun, dan nama Matthew merupakan marga dari keluarga Ibu. Sudah seharusnya kau rebut semua itu dari mereka."
Samuel terdiam, karena ini kali pertama yang diketahui, jika semua harta yang dinikmati istri kedua merupakan harta milik sang Ibu. "Inilah saatku untuk menghancurkan merek!" tekad nya.
Dia segera memanggil dokter dan memeriksa keadaan ibu. "Bagaimana hasilnya, Dok?" desaknya yang menatap pria berjas putih.
"Ini seperti keajaiban, satu banding seribu. Nyonya Lili sudah sembuh dan diperbolehkan pulang."
"Benarkah? Itu kabar yang sangat bagus."
__ADS_1
"Itu benar, saya permisi dulu." Ujar sang dokter yang berlalu pergi meninggalkan ibu dan anak untuk melepas rindu.
Samuel dan Lili saling berpelukan erat beberapa detik, buah kesabaran berbuah manis. Setelah itu, dia mengemasi beberapa pakaian yang ingin dibawa oleh ibunya, dan membawanya masuk ke dalam mobil. Tak henti-hentinya dia tersenyum bahagia.
Di sepanjang perjalanan, Samuel selalu menceritakan kenangan mereka saat menghabiskan waktu. Namun dia melihat raut wajah sang ibu yang tidak bersemangat, mengetahui penyebabnya. "Apa yang Ibu pikirkan? Apa Ibu memikirkan pria brengsek itu?"
"Tidak, Ibu hanya berpikir mengenai dirimu."
"Sudahlah, jangan terlalu memikirkan diriku. Aku sudah dewasa dan bisa mengurus diriku sendiri!"
"Tapi tetap saja, Kau putraku satu-satunya. Aku ibu yang gagal dan tidak berguna!" Lili menyeka air matanya, begitu banyak kenangan masa kecil Samuel yang dilewatkan begitu saja akibat kejadian puluhan tahun lalu.
"Apa yang Ibu katakan?" sahut Samuel yang menyeka air mata sang Ibu,
"Ibu sangat menyesal tidak melihatmu tumbuh, bagaimana kau dibesarkan."
"Tidak masalah, sekarang yang terpenting Ibu bersama dengan ku."
Setelah sampai, Samuel membawa ibunya ke apartemen yang sangat luas, bahkan beberapa para pelayan juga menyambut kedatangannya.
"Apa Ibu suka apartemen ini?"
"Sangat menyukainya."
Samuel mengajak ibunya untuk makan siang bersama, suasana apartemen yang dulunya mati sekarang hidup saat kedatangan ibu, cinta pertamanya. "Apa kau sudah mempunyai tambatan hati, Sam?" tanya Lili hampir membuat pria itu tersedak makanan.
"Kenapa ibu menanyakan itu?"
"Ibu tidak melihatmu saat kau kecil menuju remaja, tapi Ibu tidak ingin melewatkan tumbuh kembang anakmu. Itu pasti sangat menyenangkan, sebagai obat yang menutupi luka lama." Jelas Lili antusias.
"Sam belum memikirkannya."
Tiba-tiba tersengar suara bel berbunyi, Samuel ingin beranjak dari kursinya, namun di cegat oleh Lili. "Kau makanlah, biar Ibu yang membukakan pintu."
Samuel mengangguk, sedangkan Lili melangkahkan kakinya ke arah pintu dengan seny di wajah yang mulai berkeriput. Terlihat seorang gadis berpenampilan sangat cantik, hal itu membuatnya terpukau akan kecantikan Eve. "Ayo, masuklah!"
"Baiklah." Sahut Eve yang segera masuk, tapi sebelum itu dia merasa asing dengan wanita paruh baya di hadapannya. "Siapa dia? Apa Samuel sudah bangkrut dan menyewakan tempat ini?" gumamnya di dalam hati.
__ADS_1
"Eve, kau kesini?" celetuk Samuel yang menghentikan aktivitasnya menyendok makanan ke dalam mulut, apalagi polesan tipis di wajah sang kekasih membuatnya menganga akibat terpesona. "Ya tuhan…ingin rasanya aku membawa gadis itu ke kamar!" gumamnya yang mulai berpikiran kotor.
"Sepertinya aku datang di waktu yang salah, aku pergi dulu!" ucap Eve segan.
"Kau baru saja sampai, kenapa ingin pergi? Ayo, bergabunglah bersama kami." Ajak Lili yang berbinar cerah.
Eve tidak bisa memahami situasinya, hingga dia hanya diam dan melirik kekasihnya, Samuel yang mengertipun berusaha untuk menjelaskannya. "Dia ibuku! Dan Ibu, dia adalah Eve, KEKASIHKU!" tekannya membuat Lili tersenyum sumringah.
"Apa itu artinya dia calon menantu Ibu?"
"Uhuk!"
Eve segera meminum segelas air yang tersedia di atas meja, melirik kekasih kontraknya dengan tajam. Sedangkan yang di tatap hanya memasang raut wajah polos. "Aku kesini ingin memberikan ini!" ucapnya memecahkan rasa kesal bercampur canggung, menyodorkan rantang yang berisi masakan dari Lea.
Samuel segera mengambil rantang itu, lalu membukanya. Menghirup aroma masakan dan mencicipi tanpa tahu malu. Sementara Lili tersenyum melihat itu, dia sangat menyukai Eve.
"Ibu lihat? Bahkan dia sudah bersiap menjadi istri yang baik untukku!" puji Samuel.
"Apa itu masakan buatanmu, Eve?"
"Bukan, Tante. Sebenarnya itu masakan mommy dan menitipkannya padaku untuk Sam."
"Tidak masalah. Kapan kalian akan menikah?"
"Secepatnya, Bu." Jawab Samuel.
"Kami belum memikirkannya!" Jawab Eve.
Jawaban yang sangat berbeda dari keduanya membuat Lili menatap mereka secara bergantian. Eve sangat kesal dengan Samuel dan merasa menyesal, menggoda kaki pria tampan itu menggunakan kakinya.
"Wow, sepertinya Eve sangat liar. Hah, si otong seakan bereaksi dengan godaanya." Batin Samuel menatap kekasihnya dengan lirikan mata menggoda. Namun hal itu di luar ekspektasinya, saat gadis itu menendang tulang keringnya. "Auh," ringisnya.
"Kau kenapa?" tanya Lili penasaran, melihat Samuel yang sedang mengusap tulang kering kakinya.
"Ada nyamuk yang menggigitku, Bu." Jawab Samuel asal, sementara Eve menahan tawa yang hampir saja meledak.
"Dasar pria mesum!" batinnya tersenyum puas.
__ADS_1