
Eve dan kedua kakak sepupunya segera bergeges pergi ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawa Samuel, mereka sangat cemas dan memanggil dokter untuk di tangani secepatnya.
Eve sangat takut, bahkan tubuhnya juga terkena darah dari dua pria yang sama-sama memperjuangkan cintanya. Tapi nasib Julian sangat malang, dia tewas di tangan Alex yang tidak merasa bersalah sedikitpun. Tubuh pria malang itu akan dibersihkan dan kemudian membawanya ke ruang mayat.
Beberapa suster dan dokter mulai mendorong brankar menuju ruang operasi, sementara ketiganya hanya bisa menunggu di luar ruangan sambil mendoakan kesehatan Samuel. Eve mengusap wajahnya dengan kasar, dia sangat panik dan tak terasa air mata mengalir di kedua pipi.
"Ini salahku, tidak seharusnya mereka bertengkar. Julian meninggal juga karena aku, berat untuk memaafkan diriku sendiri. Ya Tuhan…tolong sembuhkan Sam," batin Eve yang berdoa.
Air mata terus saja mengalir dengan deras, beranjak dari duduknya dan mengintip di jendela, melihat dokter dan beberapa perawat yang sedang menangani Samuel. Dia merasakan sebuah tangan berada di atas bahunya, segera menoleh menatap pria itu. "Apa ini yang kalian inginkan?" lirihnya yang masih terluka dan juga syok.
"Maaf Eve, kami tak bermaksud untuk membuat mereka celaka. Hanya memberikan pelajaran saja!" sahut Niki, yang menghela nafas.
"Pelajaran? Kak Alex membunuh Julian tepat di hadapan mataku."
"Tapi dia hanya ingin menyelamatkan Samuel, jika pria psikopat itu tidak ditembak? Nyawa Sam dalam bahaya." Jelas Niko. "Kau marah pada kakakmu?"
"Jangan sentuh aku," Eve segera pergi dari tempat itu dan menuju taman, dia tak menyangka jika hal ini begitu menyakitinya. Dua tidak bisa memaafkan dirinya jika Samuel juga menyusul Julian.
Niko dan Niki menatap kepergian Eve dengan tatapan sendu yang berlinang air mata. "Apa Eve akan membenci kita?"
"Kita akan mencoba untuk menjelaskannya," jawab Niki dengan nada pelan.
Eve manatap taman yang dipenuhi bunga, pertama kali bertemu dengan Julian. Terdapat bayang-bayang pria itu yang menghantuinya dan membuatnya semakin bersalah. Cukup lama dia berada di sana, mencari udara segar untuk menenangkan pikiran yang kusut.
"Sudah lama aku di sini, sebaiknya aku melihat perkembangan Sam."
Eve berjalan menuju bangsal Samuel yang baru saja selesai dioperasi dan sudah dipindahkan. Melihat semua keluarga dan Lili sudah hadir dengan perasaan sedih, mereka kecewa dengan twins N dan Alex yang kembali membuat keluarga marah.
__ADS_1
Al dan El menampar anak-anak mereka dengan begitu keras, hingga suaranya terdengar sangat nyaring. Ketiga pria yang kembali membuat mereka sangat marah, terutama Al dan El selaku orang tua twins N dan Alex.
"Dad tidak menduga, kalian masih bersikap keras seperti ini. Mempertaruhkan nyawa orang lain, dan sekarang salah satu dari mereka sudah tiada. Apa kalian tidak berpikir sedikitpun, hah? Lihat wanita itu!" bentak El yang sangat murka dan menunjuk Lili sebagai ibu kandung Samuel.
Ketiga pria itu menatap ke arah yang ditunjukkan oleh El, melihat seorang ibu yang terluka dan menangis mengetahui nasib putranya yang belum sadarkan diri.
"Maaf, Dad." Ucap Niko yang tak berani menatap wajah sang ayah yang sangat murka.
"Maaf?" El kembali menampar putra kembarnya hingga membuat hati Anna sakit.
"Hentikan, sudah cukup kau menyiksa putraku." Ujar Anna yang menghentikan suaminya yang memukul Niko dan Niki.
"Biarkan aku memberikan mereka pelajaran, selalu saja bertindak sesuka hati." Amuk El yang melayangkan tangannya.
"Sudah cukup! Ini rumah sakit," sarkas Nathan sebagai kakek.
Nathan menunjukkan kelima jari, memberikan isyarat agar tidak ada yang membantah perkataannya. "Kalian bertiga akan Kakek hukum, untuk tinggal ke pulau terpencil setelah permasalahan ini selesai."
"Baik, Kek." Ucap twins N dan Alex serempak dan terpaksa menerima hukuman.
"Apa aku boleh masuk ke dalam?" celetuk Eve yang menatap semua orang, ingin memastikan bagaimana kondisi Samuel.
"Boleh, masuk saja!" jawab Lili yang menyetujui, dia tidak menyalahkan siapapun. Bangga akan anaknya yang bisa memperjuangkan cinta.
Eve membuka pintu setelah menarik nafas panjang, ada keraguan di hatinya untuk masuk di sebabkan rasa bersalah. Tubuh lemah yang terbaring di atas brankar dengan perban yang membalut luka di lengan juga perut, sangat tak berdaya. Berjalan menghampiri dengan linangan air mata, merasa ada yang kurang jika pria itu tak mengganggunya.
Eve memegang sebelah tangan Samuel, kondisi yang belum sadarkan diri membuatnya sangat cemas. "Kau pria yang sangat bodoh, bertarung untuk mendapatkan gadis sepertiku. Aku bahkan tidak mencintaimu, tapi kau selalu saja membuktikan cintamu. Bangunlah demi aku…apa kau tidak lelah berbaring di sana?" lirihnya yang menangis, dengan cepat dia menyeka air matanya. "Lihat, kau membuatku menangis."
__ADS_1
Eve terus menatap wajah teduh yang terlihat pucat, namun suara kecil dan terdengar nyaring membuatnya tersentak dan melihat alat di sebelah Samuel yang hanya ada garis lurus. "Tidak…ini tidak mungkin, Sam…Sam!" pekiknya yang mengundang semua orang masuk ke dalam ruangan.
Lili segera menghampiri putranya, menangis dengan sesegukan saat alat pendeteksi jantung atau EGK memperlihatkan garis lurus saja, dia tak tahan hingga tubuhnya tumbang dan pingsan dan di sambut oleh Anna. Tak lama dokter datang dan beberapa suster, mereka meminta keluarga itu keluar dari ruangan demi melakukan tugas dengan baik. Semua orang sangat panik, karena kondisi Samuel.
Dokter segera bertindak dengan menggunakan alat pacu jantung, berharap jika pasien melewati masa kritis yang berbahaya. Namun, tidak ada sinyal ataupun tanda-tanda yang membuat pasien aman. Setelah melakukan segala upaya, akhirnya mereka menyerah dan kecewa akan hasilnya.
"Pasien sudah tiada, Dok."
"Hem." Dokter segera keluar dari ruangan dan menghadapi semua orang.
Eve segera menyeka air matanya dan mendatangi wanita yang mengenakan jas putih. "Bagaimana kondisi Sam? Dia selamatkan?" desaknya penuh harap.
Dokter menggelengkan kepala, karena tak ada harapan. "Maaf, pasien sudah tiada."
Eve tertawa di saat air matanya menetes, hatinya menjadi sakit saat mendengar hal yang dia takutkan terjadi. "Ini bukan ulang tahunku, jadi jangan membuat kejutan."
"Pasien sudah meninggal."
"Kau bohong!" pekik Eve yang sangat emosi, menatap sang dokter dengan tatapan penuh amarah.
Lea segera memeluk putrinya agar menerima kenyataan yang terjadi saat ini. "Sam telah tiada," bisiknya.
"Itu tidak mungkin, ini bukan hari ulang tahunku. Jadi, jangan mengerjai ku!" Eve tertawa di sela-sela tangisnya, menatap semua orang. "Akan aku buktikan, jika Samuel masih hidup!" Dia segera masuk ke dalam ruangan dan berjalan penuh hati-hati, tertawa melihat pria yang berbaring tak berdaya.
"Hei kau, bangunlah! Jangan membuat semua orang khawatir, Sam…BANGUN!" Eve berteriak, masih belum bisa menerima kematian pria yang membuatnya sangat kehilangan. "Jangan bercanda!"
Semua orang sangat sedih dengan kondisi Eve, mereka mencoba untuk menghentikan aksi gadis itu.
__ADS_1