
Pagi hari yang indah, kelas akan segera dimulai dan seperti biasanya para mahasiswa dan mahasiswi tidak begitu bersemangat, saat mengetahui jika mata kuliahnya saat ini adalah pak Burhan. Mereka berdoa agar dosen killer tidak masuk dan berharap jika Samuel kembali menggantikan sang dosen, lain halnya dengan Eve berharap jika tidak ada dosen pengganti.
"Semoga saja pak Burhan masuk kelas," gumam Eve yang penuh semangat, tapi senyum di wajahnya tiba-tiba memudar saat harapan tak berjalan dengan semestinya melihat pria tampan yang masuk.
Ya, dia adalah Samuel melirik kekasih kontraknya dengan senyuman manis, bahkan beberapa orang menjadi iri dengan nasib baik yang dimiliki si cupu.
"Kenapa pak Burhan tidak masuk hari ini? Bukankah dia dosen teladan?" ucap Eve yang pelan, tak sengaja terdengar oleh Anita dan juga Liam.
"Seperti yang lalu, saya merupakan dosen pengganti bagi pak Burhan. Tolong semuanya untuk bisa bekerja sama dan ikuti aturan di kelas saya."
Ucapan Samuel berhasil mengembalikan semangat dari semua orang yang ada di dalam kelas itu, mereka sangat menyambut dengan antusias. Bahkan Anita bersorak mengikuti para wanita di kelas, lain halnya dengan Eve yang berdecak kesal. "Sungguh mencurigakan, semoga tidak ada niat buruk dibalik tindakannya." Batinnya.
Samuel mengedipkan sebelah matanya, menebarkan pesona saat melirik wanita yang dicintainya. "Aku tidak peduli apapun lagi, yang terpenting Eve menjadi istriku." Gumamnya di dalam hati.
Kelas dimulai dengan begitu semangat atas antusias para mahasiswa juga mahasiswi, para wanita begitu menyanjung dosen tampan mereka, apalagi penyampaian yang begitu detail dan terlihat santai.
Sementara Liam sangat tidak bersemangat, mengenai pengkhianatan kedua orang tuanya yang menyakiti kakak tirinya. Selama ini, dia ditipu dan membenci orang yang salah, hal itu membuatnya tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Sebenarnya dia enggan untuk datang ke kampus, dan dia tahu jika Samuel akan menggantikan pak Burhan yang masih berada di rumah sakit akibat ulah kakak tirinya sendiri. "Ternyata dugaanku benar, semoga saja dia bisa memaafkan aku." Batinnya yang hanya memikirkan hal itu.
Beberapa menit kemudian, kelas telah selesai. Samuel handak mencegah Eve, tapi Liam membuatnya tak jadi melakukannya. Menatap pria itu dengan sengit karena masih mengingat Bagaimana sifat dari adik tirinya yang sangat kurang ajar. "Ada apa kau kemari? jika ingin merebut Eve, kau tidak akan bisa melakukannya. Gadis ini hanya milikku!" ucapnya dengan tegas mengklaim.
Liam tersenyum kecut, karena dia tidak ada masa untuk memikirkan wanita perasaannya begitu hancur saat mengetahui segalanya. "Kau tidak perlu cemas dengan hal itu, aku tidak ingin memikirkan apapun lagi. Pengkhianatan keluarga membuatku sangat terpuruk, dan aku kesini hanya ingin minta maaf kepadamu." Dia mengatakan segalanya tanpa berani menatap mata kakak tirinya, begitu banyak kesalahan di masa lalu.
"Berhentilah membual, aku tahu Ini hanya salah satu dari rencanamu." Ucap Samuel yang tersenyum miring.
Sedangkan Eve hanya terdiam, dia menyaksikan dua orang itu berinteraksi. Sorot mata dari Liam terlihat sangat tulus, mengakui kesalahannya dengan meminta maaf.
"Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku kesini hanya ingin berbicara denganmu dan juga Eve," ucapnya yang melirik dua orang di hadapannya secara bergantian.
"Aku?" Eve menunjuk dirinya sendiri, mengerutkan kening karena penasaran.
Liam memegang kedua tangan putih dan juga lentik, menatap mata Eve sangat dalam. Hal itu berhasil membuat Samuel menggertakkan giginya menahan rasa kesal, tapi dia hanya terdiam karena tak ingin merusak citranya di hadapan sang pujaan.
Eve sedikit gugup, dia tidak tahu kenapa Liam tiba-tiba menatapnya sangat tak biasa. "Ada apa?"
__ADS_1
"Kau wanita pertama yang berhasil membuat aku merasakan jatuh cinta, dan aku tidak menyesal dengan perasaan itu. Walaupun begitu kau bukanlah milikku, inilah saatnya aku harus pergi dan merelakanmu, Eve."
"Aku tidak mengerti."
"Aku mencintaimu, Eve. Cinta pertamaku yang tidak akan pernah aku melupakan, tapi aku harus merelakanmu kepada kakak tiriku, Sam."
Samuel sangat terkejut dengan ucapan dari adik tirinya dia tidak menyangka jika obsesi yang dimiliki Liam terhadap sang pujaan hatinya menghilang, sedangkan Eve menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?"
"Aku akan pergi dari sini dan menetap ke luar negeri, ingin menata hatiku ku yang telah hancur akibat penghianatan keluarga." Jawab Liam yang sangat tulus, dia tersenyum tipis sambil mengalihkan perhatian menatap kakak tirinya. "Aku mohon kepadamu untuk menjaga Eve, karena aku tak ingin tinggal di sini lagi."
Samuel tersentuh mendengar ucapan dari Liam, dia segera menghamburkan pelukan yang kali pertamanya dilakukan, keduanya tampak akrab memeluk erat satu sama lain beberapa detik, lalu melepaskannya. "Aku sudah memaafkanmu, dan aku akan berdoa untuk kebaikanmu. Hubungi aku, jika kau membutuhkan bantuan!"
"Itu pasti, kau adalah Kakakku."
Eve terlihat sedih, kedua mata yang tampak berkaca-kaca karena kepergian dari pria itu. Dia memang tidak mempunyai perasaan kepada Liam, namun pria itu sudah seperti sahabatnya sendiri, tetesan air mata mengalir tanpa disadari. "Kau pria yang sangat baik, walau sebelumnya kau selalu membully ku. Aku berdoa agar kau menemukan wanita yang melebihi ku, dan jangan mengharapkan banyak mengenai hubungan ku dengan kakak dirimu itu."
Perkataan dari Eve berhasil membuat Liam terkekeh, tapi tidak dengan Samuel yang tersenyum masam. "Tolong maafkan kesalahanku yang lalu, apa aku boleh memelukmu?" pintanya dengan kedua mata berbinar cerah, ingin memeluk wanita yang menjadi cinta pertamanya.
"Tidak boleh!" sarkas Samuel yang menjadi posesif, segera menarik tangan Eve ke belakang tubuhnya.
"Itu sudah menjadi keputusannya, bahwa kau tidak perlu memeluk wanitaku. Jika ingin pergi maka pergilah!" kesal Samuel.
"Kenapa Kakak begitu posesif padanya? Aku hanya ingin memeluk sebagai salam perpisahan saja."
"Tidak ada alasan untuk itu, pergilah dengan cara yang normal!" ketus Samuel.
"Baiklah…baiklah, aku akan pergi. Tapi, sebelum itu aku ingin melihat Eve sekali lagi."
Samuel sedikit melunak, kembali menarik tangan Eve dengan lembut. "Jangan menyentuhnya, atau kau akan aku hajar!" ancamnya penuh penekanan.
"Eve, aku harus pergi. Jagalah dirimu dengan baik, ini terakhir kali kita bertemu. Aku pergi dulu!" Liam segera berlalu pergi dari tempat itu, meninggalkan semua kenangan pahit untuk bisa maju ke masa depan.
Sementara Samuel dan Eve menatap kepergian pria itu dengan pikiran masing-masing yang sekarang sudah menghilang dari balik pintu.
__ADS_1
"Semoga saja dia menemukan wanita lain, memang susah jika menjadi orang cantik, itulah sebabnya aku berdandan cupu untuk menutupinya," gumam Eve yang terdengar di telinga Samuel.
"Berhentilah berpikiran seperti itu, aku tidak ingin ada pria lain yang melirikmu tetaplah berdandan seperti ini!"
Eve segera mendongakkan kepala menatap dia tampan di sebelahnya. "Berhentilah bersikap seakan aku ini milikmu, karena beberapa hari lagi kontrak sebagai kekasihmu usai, dan kita hanya akan menjadi orang asing." Tutur Eve yang berlalu pergi.
Samuel menatap kepergian Eve. "Sejauh ini kau belum mencintaiku, tapi aku akan membuktikannya."
Bersambung..
...****************...
Sambil nunggu aku up, kalian boleh mampir juga ke mari, karya Rini Sya
Cekidot!!🥰🤭
Judul: Penjara Cinta Untuk Stella
Penulis: Rini Sya
Stella ditalak sang suami, usai dia melakukan malam pertama.
Keadaan ini membuat orang tua Stella tidak terima dan mengusir wanita cantik itu dari rumah.
Bukan hanya diusir, Stella juga dihajar hingga hampir kehilangan nyawa.
Beruntung, takdir baik masih berpihak padanya.
Dalam keadaan antara hidup dan mati itu, Stella dipertemukan dengan seorang pemuda baik hati yang diam-diam menaruh hati padanya.
Mungkinkah Stella mau menerima cinta pemuda tersebut? Ataukah dia masih mengharapkan cinta pertamanya🥰🥰
Penasaran?? yuk lanjut ke lapaknya langsung..cus😍
__ADS_1