Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 69 - Hukuman Nathan


__ADS_3

Abian segera memeluk anaknya,berusaha untuk menenangkan. Eve baru menyadari sakitnya perpisahan untuk selamanya, segera berlari dan memeluk tubuh tak berdaya di hadapannya dengan sangat erat. Dia mencintai pria itu di saat telah tiada, terlambat memahami perasaan amatlah menyakitkan hati. Rasa kehilangan begitu dalam membuatnya hampir depresi.


"Sam, bangunlah demi diriku. Aku memahami rasanya kehilangan, aku membutuhkanmu. Tolong, jangan tinggalkan aku. Ka-kau menginginkan kita menikah 'bukan?" Eve terus mengguncangkan tubuh lemah itu, berharap ada setitik harapan. 


Alex, dan twins N sangat menyesali tindakan mereka. Bahkan hukuman yang paling berat ialah melihat Eve menangis hampir seperti orang gila, tanpa sengaja mereka telah melukai adik kesayangan yang akan membenci mereka. Hukuman apa yang lebih berat dari ini? Hanya timbul rasa penyesalan mendalam.


Eve terlambat memahami perasaannya yang sangat kehilangan, berbeda dari Liam dan Julian. Tapi kali ini dia hampir gila, berteriak dalam sedih dan tawa yang bercampur menjadi satu. "Aku menyerah! Tolong, jangan permainkan aku, Sam. Sudah cukup! Heh, terserah kau saja. Aku akan menikah dengan pria lain, dan kau akan menyesalinya. CEPAT BANGUN!" bentaknya yang sudah tak tahan.


Eve melangkahkan kakinya menghampiri sang ibu yang terdiam membeku, menyaksikan betapa putrinya menyesali telah menganggap Samuel remeh. "Apa kalian lihat? Sebentar lagi dia akan bangun," ucapnya tersenyum.


"Sadarlah Eve, Sam sudah tiada." Jelas El.


"Tidak! Jangan katakan kalimat itu!" pekik Eve yang menutup kedua telinganya dengan erat.


"Ini salahku," gumam Niko yang segera keluar dari ruangan dan di ikuti oleh Niki. 


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku juga bersalah dalam hal ini." Niki memegang pundak kembarannya yang juga tak sanggup melihat betapa terpukulnya Eve.


"Setelah hari ini, aku tak sanggup menghadapi Eve." Niko menangis dengan rasa bersalah yang teramat dalam, menghukum orang lain membuat mereka merasakan hal yang sama.


Alex juga sangat menyesali hal itu, dan memutuskan keluar dari ruangan dan menuju markas untuk melampiaskan segala kesedihannya.


Eve berlari memeluk tubuh tak berdaya, mengguncang sekuat tenaga. "Bangunlah, aku sangat yakin jika kau masih hidup. Aku baru menyadari, betapa sakitnya kehilangan dirimu. Aku berjanji padamu akan mengikuti semua keinginanmu," lirihnya yang terpaksa menerima kenyataan yang ada. "Sam, aku mencintaimu." Mengecup kening pria itu dengan sangat lembut dan menangis sambil memeluk tubuh lemah.


Lili terbangun dari pingsannya, menangis sejadi-jadinya saat melihat putranya yang sudah tiada. Namun kesedihan itu berubah saat melihat alat di samping pasien kembali bekerja dengan normal, mereka terkejut dengan raut wajah pongah.


"Dokter…dokter!" panggil Eve yang berteriak, menyeka air mata yang membasahi pipi. 


Sang dokter segera memeriksa Samuel dengan hati-hati, mereka sangat takjub dengan keajaiban yang mendatangi pria beruntung itu. 

__ADS_1


"Ini suatu keajaiban yang sangat langkah terjadi, pasien hanya mati suri dan kondisinya sekarang jauh lebih baik. Dalam dua atau tiga hari lagi, dia akan sadar."


"Benarkah?" kedua mata Eve berbinar cerah, kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan. 


"Benar, kondisi pasien sudah aman. Saya pamit dulu!" 


"Terima kasih, Dok."


"Sama-sama."


Eve menghamburkan pelukan, dia sangat bahagia dengan keajaiban yang tidak disangka-sangka. Seakan dunia masih menginginkan kisah mereka yang tetap berlanjut. 


Semua keluarga sangat bahagia dan saling memeluk, tidak bisa mereka bayangkan bagaimana nasib Eve nantinya. Satu hal yang terungkap, jika cinta keduanya sangatlah suci dan murni. Ungkapan cinta yang datang terlambat, membuat pria itu bisa melewati masa kritis di ambang kematian. Rasa cinta yang begitu terikat, menambah semangat untuk melawan takdir.


"Mom, Samuel masih hidup!" Eve tersenyum ke arah Lea, dan kembali memeluk pria itu.


Satu persatu orang mulai meninggalkan tempat itu, pergi meninggalkan ruangan menuju ke Mansion. "Sebaiknya kau pulang!" bujuk Lea yang mendekati putrinya.


"Aku tidak ingin pulang, jangan memaksaku Mom."


"Hem, baiklah. Tapi bagaimana dengan pakaianmu yang penuh noda darah?"


"Minta saja pelayan mengantarkan pakaianku kesini."


"Aku akan kembali lagi ke sini." Celetuk Lili.


"Hem." Eve mengangguk dan tinggallah mereka berdua.


****

__ADS_1


Alex, dan twins N menghadap keluarga dan kembali mendapatkan penghakiman dari Nathan selaku para petuah di Mansion mewah itu. "Kalian lihat, bagaimana terpukulnya Eve?"


"Ya, kami melihatnya."


"Ini kali pertama kalian membuat Eve hampir gila, apa kalian merasakan berkuasa dengan kekuasaan keluarga Wijaya?" tanya Nathan menatap ketiga cucunya bagai seorang tawanan. Sedangkan ketiga pria itu bungkam, tak ingin menjawab dan takut memperburuk suasana.


"Tidak bisa aku bayangkan, jika kalian melakukan tindakan yang sangat melanggar. Kalian telah melukai hatiku dengan membuat Eve menderita. Untuk itu, aku tidak ingin melihat wajah kalian setelah pernikahan selesai."


"Apa yang kakek maksud?" sontak ketiganya mendongakkan kepala, mereka terkejut dengan hukuman yang akan di terima.


"Perusahan dan markas akan aku serahkan kepada orang tua kalian, yaitu Al dan juga El. Mereka tidak pernah membuat kesalahan, tapi kalian malah membuatku terluka. Setelah pernikahan Eve, kalian bertiga menjauhlah dari Mansion, pergi kemanapun yang kalian sukai selama satu tahun."


Anna dan Shena sangat terkejut, mereka tak ingin menyetujui hukuman yang diberikan ayah mertua untuk putra-putra mereka, ingin sekali ikut protes tapi Al dan El menghentikan niat mereka.


"Baiklah, kami akan pergi setelah pernikahan Eve. Itu hukuman yang pantas, dan kami bersedia." Tutur Alex dengan tegas. 


"Hem, jangan beritahukan ini pada Eve. Ingat! Setelah pernikahan mereka, kalian harus angkat kaki dari Mansionku. Semua fasilitas dan kartu akan aku sita, kalian akan berbaur. Jalani kehidupan kalian tanpa menggunakan nama Wijaya." Tegas Nathan yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


Dita segera mengejar suaminya dan membujuk untuk tidak memberatkan hukuman ketiga cucunya. "Suamiku, apa tidak ada hukuman lainnya?"


"Jangan mencoba untuk membujukku." 


"Aku tidak membujukmu, hanya saja kau memisahkan anak dari orang tuanya, cucu dari neneknya, memisahkan adik dari kakaknya dan begitu seterusnya. Itu sama saja kau mengusir mereka."


"Cukup Dita! Aku muak menghadapi sikap mereka yang semena-mena, aku hanya ingin membuat mereka mengerti."


Dita diam terpaku, karena suaminya marah dan tidak mudah merubah keputusan yang sudah dikatakan.


Di sisi lain, Eve menatap mata indah, tersenyum melihat wajah pucat di hadapannya. "Kenapa aku baru menyadarinya setelah kau hampir benar-benar tiada. Aku mencintaimu," gumamnya yang membelai rambut Samuel dengan sangat lembut.

__ADS_1


__ADS_2