
Tiga hari kemudian…
Akhirnya Samuel sembuh dari penyakit gilanya, dia sangat kesal mengenai informasi yang dikatakan oleh asistennya, bahwa semua yang terjadi padanya dikarenakan Niko, Niki, dan kekasihnya kontraknya sendiri. Meneguk segelas kecil alkohol hingga habis, dan menyeka mulutnya dengan kasar. Rasa sakit di hatinya seakan menyebar begitu cepat, sebuah penghinaan yang selama ini tidak ada yang berani bertindak melewati batas padanya.
"Apa kau yakin jika informasi itu benar?"
"Benar, bahwa ini kejahilan nona Eve yang memberimu bubuk kecubung."
Samuel mengeraskan rahangnya, tak terima dengan perlakuan di luar batas. Gelas kosong di tangannya digenggam begitu erat, hingga gelas itu menjadi pecah dan melukai tangannya. "Eve, aku tidak menduga hal ini karena ulahmu. Aku pastikan kau akan menyesal melakukan hal ini padaku." Gumamnya tak menghiraukan darah segar yang menetes dari sela jari-jarinya.
Asisten Li bergidik ngeri melihat tuannya kembali bersikap kejam seperti dulu, menelan saliva dengan susah payah. "Tamatlah riwayatmu nona, semoga kau bisa mencairkan suasana hati tuan Samuel." Batinnya.
Samuel menendang kursi dan bergegas pergi dari tempat itu menuju kantor, sudah banyak pekerjaan yang terbengkalai akibat dirinya berada di rumah sakit jiwa akibat calon istri minim akhlak. Dia kembali bekerja bagai bos yang kejam, memarahi seluruh karyawan yang tidak becus menjaga kestabilan perusahaan saat dia tiada memantau.
"Apa yang kalian lakukan, hah? Pekerjaan yang begitu mudah membuat kalian tak bisa menanganinya? Apa aku harus turun tangan?" bentak Samuel dengan suara bariton yang menggema seluruh ruangan itu.
"Ma-maaf Tuan, kami sudah berusaha keras." Sahut salah satu karyawan yang memberanikan diri untuk menjawab, namun dengan kepala yang masih menunduk.
"Berusaha keras?" bentak Samuel yang melemparkan setumpuk berkas ke lantai, membuat semua orang terlonjak kaget. "Kertas itu hanya berisi sampah, dan kalian mengatakan bekerja keras? Kalian digaji untuk bekerja dengan baik, bukan bersantai di kantorku. Cepat keluar dari ruangan ini!" usirnya yang menunjuk pintu.
Semua orang meninggalkan ruangan dan kembali bekerja, mereka sangat takut apa yang sebenarnya terjadi.
Asisten Li hanya diam dan tak ingin menambah kemarahan dari atasannya yang bisa berakibat fatal baginya. Dia mengikuti langkah kaki Samuel yang menuju ruangan presdir.
__ADS_1
Eve sangat menyesal karena melakukan kejahilan di luar batas, kakeknya Nathan memberikan peringatan keras mengenai hal itu dan menghukum cucunya yang sudah mengerjai Samuel. Kali ini dia memberanikan diri untuk datang ke kantor milik calon suaminya, berdandan dengan sangat cantik dan membawa makanan kesukaan Samuel sesuai petunjuk Lili.
"Semoga saja Sam memaafkan aku," gumamnya yang sedikit bersedih, apalagi dia membuat keluarganya kehilangan wajah di hadapan calon ibu mertuanya. Apa yang lebih membuatnya sedih? Semua orang tidak memaafkan perbuatannya. Niko dan Niki juga mendapatkan ganjaran dari perbuatan mereka, ayah mereka yang bernama El sudah memutuskan segala akses IT mereka.
Pintu terbuka dengan kasar membuat seseorang di dalam ruangan terlonjak kaget, dua tatapan penuh arti saling berkontak. Sementara asisten Li semakin gugup dengan situasinya saat ini, menelan saliva dengan susah payah seakan tersangkut di tenggorokannya. "Ya Tuhan…akan terjadi perang dunia ke tujuh, aku harus pergi dari sini secepatnya dan tidak ingin terlibat." Batinnya. "Ada berkas yang tertinggal, aku pamit dulu Tuan." Tanpa menunggu jawaban, dia berhasil keluar dari zona berbahaya.
Inilah saatnya, mempertemukan dua orang yang dengan perasaan bertolak belakang. Samuel menatap seorang gadis yang sangat cantik tengah duduk di sofa di ruangannya, dia menutup pintu dan menguncinya. Sorot mata yang seakan tak melepaskan Eve, berjalan mendekatinya dengan rahang yang mengeras saat mengingat perlakuan gadis itu padanya.
"Kenapa kau di sini?" ucapnya dingin, membuat suasana mencekam.
"A-aku kesini hanya…hanya," gugup Eve takut dengan Samuel yang mendekatinya.
"Mengapa kau mundur? Bukankah kau gadis pemberani?" Samuel tersenyum miring sangat puas dengan ekspresi Eve yang ketakutan.
"A-aku hanya ingin__"
Eve mengalihkan wajahnya ke samping, karena jarak mereka sangatlah dekat. Dia tersudutkan, saat pria itu menindihnya. Menelan saliva dengan susah payah, kali pertama melihat pria itu yang begitu menakutkan baginya.
"Apa kau ingin menggodaku dengan berpenampilan seperti ini?" tunjuk Samuel ke arah wajah cantik Eve. Dia mendekatkan wajahnya, sontak membuat gadis itu memejamkan mata karena takut. "Mengapa kau memejamkan mata? Bukankah ini yang kau inginkan? Untuk menggodaku."
Eve yang kesal mendorong tubuh Samuel dengan keras, hingga terlepas dari cengkraman pria itu. "Aku bukan gadis seperti wanita kencanmu itu, aku masih mempunyai harga diri."
Samuel tertawa memenuhi ruangan yang kedap suara itu, menatap Eve membuatnya tergelitik. Seketika tawa itu terhenti saat dia berlari menarik tubuh gadis itu ke dinding, menatapnya penuh intimidasi dan juga tajam. "Lalu, apa alasannya kau datang kemari?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu!" tutur Eve yang tak berani menatap wajah sangat Samuel.
"Baru sekarang kau meminta maaf padaku? Basi."
"Aku sangat menyesal dengan tindakanku, tapi kesalahan itu bukanlah milikku sendiri. Kau juga bersalah!"
"Aku bersalah? Sepertinya kau tidak berniat untuk meminta maaf padaku."
Eve memberontak untuk melepaskan dirinya. "Ya, karena aku tak ingin menikah di usia muda. Aku ingin menjadi wanita karir seperti kak Lexa juga kak Lexi, begitu banyak impian yang harus aku capai. Tapi kau? Hanya memaksakan kehendakmu dengan memaksaku menerima lamaran itu, apa kau pikir aku mainan? Seakan apa yang kau inginkan harus didapatkan." Ungkap Eve yang meluapkan emosinya, menangis menatap mata Samuel.
Seketika Samuel melemahkan cengkramannya, dia tidak tahan melihat air mata yang keluar begitu saja dari gadis dicintainya. Tapi dia tak bisa mentolerir masalah kejahilan dari calon istrinya, apalagi bubuk kecubung juga sangat berbahaya yang bisa mematikan syaraf.
"Apa yang kau inginkan?"
Eve menyeka air matanya dan menatap asal suara. "Aku ingin bebas, dan tak ingin menikah." Jawabnya dengan mata berbinar cerah, berharap pria itu mengabulkan permintaannya.
"Baiklah, aku akan memaafkanmu. Asal__." Samuel menghentikan kalimatnya tan tersenyum licik, kembali mendekati Eve dengan seringaian tipisnya.
"A-apa yang kau lakukan?" gugup Eve yang memundurkan langkahnya.
Samuel berjalan mendekat, tak meloloskan gadis itu dengan mudah. Memeluk tubuh Eve dengan sangat erat, mencium aroma tubuh yang sangat dirindukan. "Menikahlah denganku, maka kau akan aku maafkan." Bisiknya di telinga gadis dalam dekapannya.
Pelukan itu membuat sengatan di tubuh Eve, merasakan hembusan nafas Samuel yang beraroma mint. "Sudah aku katakan 'bukan, aku tidak ingin menikah di usia muda."
__ADS_1
"Apa kau ingin menambah luka di keluargamu? Menikahlah denganku! Ini perintah tanpa menolak." Tutur Samuel membuat Eve menelan saliva dengan susah payah.