
Niki sangat kesal dengan Samuel, dia tak menyangka jika sahabatnya berubah drastis. Pergi dari tempat itu dalam kemarahan, sedangkan Eve berekspresi datar karena dia juga tak menyukai cara majikan dadakan nya berulah.
Di dalam mobil, Niki menatap adik sepupunya. "Mulai sekarang, kau jauhi badak bercula satu itu!"
"Aku juga tak menyukainya, Kak. Tapi aku heran, bagaimana kau bisa mengenal pria sombong itu."
"Aku, Niko, dan dia adalah sahabat dekat saat masih kecil. Dulu namanya adalah Bimbom, karena badannya tiga kali lipat dibandingkan anak seusianya. Persahabatan yang dulunya sangat dekat, hancur akibat seorang wanita. Sona menjadikan si badak itu kekasihnya, ternyata wanita itu malah mengincar Niko. Hingga kesalahpahaman terjadi kepada mereka berdua. Hah, entahlah…aku tidak memahaminya." Jelas Niki yang tak mengerti maksud dari sahabat lamanya, tapi yang pasti Eve butuh perlindungannya.
"Jadi, begitu." Eve menganggukkan kepalanya, memahami perkataan dari kakak sepupunya.
"Ya, itu sebabnya aku tak ingin kau dekat dengannya. Heh, dia sendirilah yang mengibarkan bendera perang, aku menerima hal itu."
Eve tersenyum saat ini, karena di masa sulitnya dalam menghadapi permasalahan dengan Samuel, masih ada dua kakak sepupu yang melindunginya. "Aku juga tidak menyukainya, jadi kakak tenang saja."
"Good." Niki tersenyum dan fokus mengendarai mobil, menyalip beberapa kendaraan agar segera sampai ke Mansion lebih cepat.
Eve menatap keluar jendela, tersenyum senang dan merasa baru saja bebas dari penjara. "Ini bagus, jika permusuhan mereka terus berlangsung, maka aku lah yang diuntungkan." Gumamnya yang berkelit di dalam hati.
Sesampainya di Mansion, Eve melangkahkan kaki dengan malas menuju kamar. Sesampainya di kamar, menghempaskan tubuh di atas ranjang empuk itu. "Hah, ini sangat nyaman sekali." Memejamkan mata, ingin mengistirahatkan tubuhnya yang terlihat sangat lelah.
Suara dering ponsel membuat Eve mengangkatnya tanpa melihat siapa nama yang tertera di layar ponsel.
"Apa sibuk, telepon di lain waktu."
"Oho, aku tidak menyangka jika pelayanku adalah seorang cucu sultan yang sangat miskin."
"Ck, ternyata kau. Ada apa menghubungiku?"
"Kau masih menjadi pelayan di apartemen ku."
"Apa kau itu buta? Aku sudah memberikan kartu limit, membayar ponselmu yang bahkan tidak sebanding."
"Aku belum menyetujuinya!"
"Dan aku tidak peduli."
Eve mematikan ponselnya, geram karena pria itu mengganggunya. Segera melupakan kejadian ini dengan memantau laporan Cafe Floress yang dikelola. Fokus ke layar pipih dan mengutak-atik laptop, mengecek hasil laporan yang dikirim lewat surelnya.
__ADS_1
Lain hanya dengan Samuel, memajang foto Eve di ruang latihan dan menetapkan sebagai target berikutnya. "Aku akan menaklukkannya dengan cara halus, jika tidak berhasil? Dengan terpaksa aku menggunakan cara kasar." Gumamnya yang tersenyum devil, menjadikan Eve sebagai kunci untuk membalas dendam kepada Liam juga Niko. Dia menghubungi seseorang lewat telepon untuk mendapatkan informasi penting.
"Halo, tuan."
"Ada pekerjaan untukmu, aku ingin kau menyelidiki aktivitas Eve Wijaya. Berikan kabar terbarunya, aku ingin kau mendapatkan informasi secepatnya!"
"Baik, tuan."
Samuel memegang segelas minuman alkohol dan meneguknya hingga habis. "Sebaiknya aku ke Cafe Floress, pasti wanita cantik itu ada di sana."
****
Keesokan paginya, Eve berangkat ke kampus dengan bersemangat, apalagi dia tidak akan kembali ke apartemen milik Samuel. Saat menuju pintu kelas, tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan punggung yang tersudutkan ke dinding. "Kau kenapa?" sentaknya yang menatap pria itu.
"Kau jauhi Samuel, dia bukanlah pria baik." Ucap Liam yang berusaha meyakinkan gadis berkacamata di hadapannya. Tak ingin jika wanita yang dia sukai berhubungan dengan kakak tiri kejamnya.
"Kau siapa? Apa hakmu melarangku?"
"Kau adalah calon istriku!"
"Hentikan drama ini," Eve ingin beranjak dari tempat itu, tapi Liam kembali menahannya.
"Berhentilah mengklaim ku, dulu kau selalu membully di kampus dan sekarang kau malah mengejarku saat tahu bagaimana wajah asliku."
"Tolonglah, jangan mengungkit itu lagi. Aku sangat serius denganmu, bagaimana jika kau menjadi kekasihku?" tawar Liam yang mengedipkan mata.
"Apa kau cacingan? Menyingkirlah!" Eve berlalu pergi dari tempat itu dan masuk ke dalam kelas.
Di dalam guratan kedua matanya, tersimpan rasa penyesalan saat mengerjai Eve. "Aku menyukaimu bukan karena perubahan penampilan, hanya saja kau gadis yang sangat baik." Sedari dulu Liam menyukai Eve tapi belum menyadarinya. Dia tidak tahu bagaimana mendekati gadis cupu itu yang menjadi korban bully nya.
Anita melihat Eve yang berjalan kearahnya sambil tersenyum, namun dia tidak membalas senyuman itu. "Kau kenapa diam saja?"
"Tidak apa-apa!" cetus Anita tanpa menoleh.
"Apa Samuel memberimu masalah?"
"Ya, kekasihmu itu mengancamku dan juga pemilik kontrak dan dia juga menyuruhku untuk menjauhinya. Aku tidak menyangka jika kau lebih memilih kekasihmu di bandingkan aku sahabatmu."
__ADS_1
"Oho, jadi kau cemburu 'ya? Akan aku jelaskan agar kau tidak salah paham. Pria yang kau sebutkan itu bukanlah kekasihku, apa kau mempercayainya?"
"Tapi dia mengancamku!" ucap Anita yang sesenggukan.
"Kau tenang saja! Jangan menjauh dariku dengan alasan pria sinting itu."
Keduanya berpelukan, suasana yang mencair membuat Anita dan Eve kembali tersenyum karena permasalahan telah selesai.
"Wah, apa aku boleh bergabung?"
"Aku tidak perlu menjawabnya, karena kau sudah lebih dulu duduk." Jawab Eve ketus.
"Huss…tidak boleh ketus pada calon suami!" ucap Liam penuh percaya diri.
"Wow, sebaiknya kau menerima Liam karena dia pria kaya dan juga sangat tampan, pria populer di kampus ini," celetuk Anita yang menggoda sahabatnya.
"Apa yang di katakan oleh Anita memang benar, bagaimana jika besok kita menikah?" tawar Liam.
"Apa kau pikir pernikahan itu seperti membolak-balikkan telapak tangan?"
"Jangan melihat coverku yang berpenampilan semrawut ini, asal kau tahu! Aku pria yang sangat bertanggung jawab, jadilah istriku!"
Eve menghela nafas panjang, mengingat umurnya yang berusia 19 tahun dan tak ingin menikah dengan cepat. "Maaf, aku tidak tertarik. Sebaiknya carilah wanita lain!"
"Katakan YA, dan kita akan menikah. Aku berimpian mempunyai lima anak bersama denganmu."
Seketika tawa Anita pecah mendengar perkataan konyol Liam, dia tidak menyangka jika pria itu terlihat bodoh. "Sebaiknya kau menerima Liam atau dia akan bunuh diri!"
"Lihatlah! Bahkan sahabatmu juga memberikan dukungannya."
"Aku sudah punya kekasih!" bohong Eve.
"Jangan katakan jika pria tua yang bersamamu saat di restoran itu adalah kekasih mu."
"Dia adalah kekasihku." Eve mengiyakan, sesangkan Liam berpikir jika Niki adalah kekasih Eve.
"Pria rakus itu tidak cocok denganmu!"
__ADS_1
"Kau tidak ada hak mengurusi urusan pribadiku."
"Aku calon suamimu!" Perkataan Liam sangat dalam, penuh keyakinan juga percaya diri yang tinggi. Karena geram membuat Eve menjitak kepalanya, menyadarkan pria itu dari kehaluannya.