
Alex menatap tiga pasang mata yang sedang menyorotinya, sangat paham jika mereka mulai menyalahkannya. "Jangan menatapku begitu!"
"Kenapa? Karena rencanamu itu membuat Eve terluka, ingin sekali aku membogem wajahmu!" kesal Niki yang memperlihatkan sebuah kepalan tangan.
"Dan jangan lupakan ini! Kalian lah yang membocorkan identitas Eve." Tuduh Alex yang terpengaruh.
"Tapi kesalahanmu sangatlah fatal!" seloroh Niko menuding sepupunya.
"Hah, kalian ini sangat aneh, saling menyalahkan tapi tak ingin disalahkan." Celetuk Samuel yang mendapatkan pelototan tajam dari ketiga pria.
"Berhentilah berdebat, jalankan sesuai rencana!" tegas Alex yang memimpin.
Niko mengangkat tangan seraya melirik Samuel beberapa detik dan kembali menatap Alex. "Permisi! Apa rencananya bisa di rombak sedikit saja!"
"Apa maksudmu?" tukas Alex yang sudah menyusunnya sedemikian rupa.
"Aku tak ingin satu tim dengan kaparat kuda nil ini!" Niko melirik Samuel membuat Niki menahan tawa, mengerti jika konflik keduanya belum usai.
"Apa kau pikir aku menginginkan ini? Dasar kuman!"
"Sial! Berani sekali kau mengatakan itu padaku!"
"Memangnya kenapa? Kau selalu memanggilku dengan nama kuda nil, apa bedanya dengan sekarang? Ck, berhentilah berdebat! Apa kau ingin kita ketahuan bersembunyi di sini?" jelas Samuel yang juga merasa kesal.
"Hentikan! Tidak ada perombakan, rencana dilakukan sesuai kesepakatan."
Setelah pertikaian selesai, keempat pria itu sedang mengintip dibalik celah bangunan kosong. Mereka memantau pergerakan dan menggunakan topeng untuk menutupi identitas. Beberapa anak buah yang dikerahkan Samuel, pasukan elit dari Black Wolf yang dipimpin oleh Niki, beberapa pasukan inti di bawa oleh Niko, dan Alex membawa beberapa pasukan emas untuk menyerang.
Semua sudah dipersiapkan dengan sangat baik, menggunakan pasukan khusus yang dimiliki dan mulai menyerang dari berbagai sisi. Mereka membagi menjadi dua kelompok, Alex bersama dengan Niki, sementara Niko bekerjasama dengan Samuel.
Kelompok satu, Alex dan Niki membagi pasukan untuk menyerang bagian luar, sedangkan sisanya menyelinap masuk ke Mansion dan menghabisi siapa saja yang menghalangi niat mereka untuk menyelamatkan Eve.
Mereka saling melirik setelah mengecek seluruh senjata yang melekat di tubuh dan mulai menyerang pihak musuh. Kali ini Niki menembak dari kejauhan menggunakan senapan laser peredam suara, tembakan seperti kecepatan angin mampu melumpuhkan musuh dalam beberapa detik. "Pria psiko itu akan menerima akibatnya jika berani menculik adik kesayanganku!" gumam Niki yang kembali mengintai beberapa penjaga.
Alex memerintah pasukan emas untuk menarik perhatian, sementara dirinya melemparkan shuriken yang sudah dilumuri racun mematikan, hanya butuh waktu lima detik untuk melumpuhkan lawan. Niko dan Samuel membagi pasukan mereka dan mulai mencari keberadaan Eve ke seluruh ruangan tanpa menimbulkan suara bising.
"Aku yang akan mencari Eve, kau lindungi aku!" titah Samuel.
"Ck, biar aku saja."
"Berdebatnya kita pause, dilanjutkan nanti saja."
__ADS_1
"Ya, hari ini kau menang," pasrah Niko yang mengikuti perintah Samuel.
Suasana Mansion menjadi riuh, suara tembakan yang menggema di setiap ruangan. Semua orang mulai mengangkat senjata melindungi tuan psiko mereka dengan segenap jiwa.
Salah satu pria segera meninggalkan peperangan itu menuju kamar sang atasan, ingin mengabarkan berita jika Mansion telah di serang oleh sekelompok pria bertopeng. Berlari menuju kamar dan mengetuk pintu dengan raut wajah yang berkeringat penuh kegelisahan.
Julian terbangun dari tidurnya, terganggu dengan suara gedoran pintu juga bel yang selalu saja berbunyi. Melirik Eve yang sangat nyenyak tidur, kedua matanya menatap dengan teduh dan tak lupa mencium pipi.
Dia mengambil sebuah remote control di dalam nakas dan menekannya untuk membuka pintu, terlihat sang asisten yang terlihat ketakutan penuh kegelisahan. Segera pria itu menghampirinya tanpa meminta izin, memicu emosinya yang tidak stabil. "Apa yang membuatmu begitu lancang?"
"Maaf, Tuan. Ini masalah darurat!"
"Ya, katakan dengan jelas."
"Mansion telah di serang oleh empat kelompok bertopeng." Lapor sang asisten sedikit gelisah.
"Wah, ternyata mereka sudah di sini. Sebaiknya kita menyambut para tamu tanpa diundang itu."
"Baik, Tuan."
"Hem, ambil beberapa senjata mematikan dan bawa ke kamarku sekarang juga!"
Sementara Julian menatap kepergian sang asisten, tidak ada rasa takut sedikitpun di wajahnya. Menatap wajah Eve yang tertidur sangat pulas, karena tak ingin mengganggu membuatnya mengambil sebuah kunci cadangan dan membuka borgol di tangannya.
"sepertinya ini akan seru, melukis karya seni yang indah pada musuh sangatlah menyenangkan." Gumamnya yang tertawa jahat seraya mengeluarkan pisau lipat, melihat mata pisau yang sangat tajam.
Namun hal tak terduga terjadi saat pisau di tangannya melempar ke sembarang arah, melihat pelaku yang sebenarnya dengan raut wajah marah. "Kau menipuku?" ucap Julian menatap Eve.
"Kau sendirilah yang menipuku! Pria kejam sepertimu tak bisa dibiarkan merajalela sesuka pantat. Rasakan ini!" ucap Eve yang menendang tubuh pria tampan itu hingga terjerembab ke lantai.
Julian segera berdiri dan mulai menyerang Eve menggunakan tangan kosong, keduanya mulai menyerang satu sama lain. Bisa dilihat perbandingan yang jauh di antara mereka.
"Aku harus bisa bertahan sebelum para kakakku berada di sini!" batinnya yang menahan rasa perih di telapak kaki, membuat pergerakannya lemah dan lambat.
Julian berlari ke arah Eve dan menindih tubuh wanita itu, menarik rok dan membuka baju gadis cupu untuk melecehkannya. "Akan ku buat kau hamil dan menjadi milikku!" ancamnya yang penuh hasrat, salah satu tangan hendak meraba.
Eve berusaha memberontak, tapi kekuatannya melemah membuat pergerakan terbatas. Di saat mulai pasrah, tiba-tiba pintu ditendang dari luar. Terlihat Samuel yang menggertakkan gigi, mengepalkan kedua tangannya menatap Julian yang ingin melecehkan mantan pelayan dadakan nya.
"Bedebah sialan!" ucapnya yang berteriak, suara yang menggema mengundang perhatian Alex dan Twins N untuk menghampiri asal suara.
Samuel berlari dan memukul wajah Julian dengan sangat bengis, hatinya merasa sakit melihat Eve hampir dinodai oleh pria psiko. Entah kekuatan dari mana, kekuatannya menjadi tiga kali lipat lebih kuat mengalahkan Alex. Dia melirik Eve yang sedang terengah-engah, segera membuka jaketnya dan memasangkan di tubuh gadis itu. "Sekarang kau aman!" ucapnya sembari memeluk memberi rasa ketenangan.
__ADS_1
Baru beberapa detik, tubuh mereka jatuh di atas lantai saat mendapati tendangan Julian yang mengenai tubuh Samuel. "Jangan menyentuh wanitaku!" ancam pria berlesung pipi.
Samuel tak menggubris perkataannya, memberikan isyarat pada Eve untuk segera menjauh. Menggeretakkan semua jarinya dan juga leher, menatap Julian dengan tajam. "Begini saja, kita selesaikan ini secara jantan. Pemenang akan mendapatkan Eve!"
"Deal, aku setuju."
Kedua tatapan pria yang menyirat, saling menatap sinis, dan bersiap-siap untuk menyerang satu sama lain.
Bersambung..
...****************...
Sambil nunggu aku up, kalian boleh mampir di karya SkySal🥰 Rekomendasi banget nih, genre hampir sama.
Judul : Makmum Pilihan Michael Emerson
Penulis : SkySal
Cuplikan...
"Begini saja..." seru Zenwa yang mencoba tegar "Bagaiamana kalau kita jalani saja pernikahan ini selama beberapa bulan, lalu setelah itu, kita bercerai." sarannya yang tentu saja membuat Micheal melongo, tak percaya dengan saran Zenwa yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Zenwa, apa kamu melawak di saat seperti ini?" tanya Micheal dan kini Zenwa lah yang melongo.
"Apa kamu menuduhku melawak di saat seperti ini?" Zenwa balik bertanya dengan tatapan tak percaya.
"Lalu saran gila apa tadi itu?" tanya Micheal dengan suara lantang.
"Aku rasa itu saran yang baik, kamu hanya menjadikanku pelampiasan dan aku juga tidak mencintaimu, jadi sebelum kita melangkah terlalu jauh, sebaiknya kita berhenti secepatnya, itu akan lebih baik!" jawab Zenwa juga dengan lantang.
"Kamu fikir ini kisah di novel-novel? Di sinetron? Pernikahan kontrak? Atau apa?" tanya Micheal geram yang membuat Zenwa terkesiap. "Ini kisah nyata, Zenwa. Seseorang tidak bisa menikah untuk bercerai, aku berjanji atas nama Allah, di saksikan Dia, Malaikat, dan keluarga kita, lalu bagaimana bisa aku mengingkari janjiku dengan sengaja?" Zenwa tertegun mendengar apa yang di ucapkan Micheal, matanya pun bahkan seolah mengatakan hal yang sama, Zenwa hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan ia pun menunduk dalam.
"Aku tahu aku salah..." lirih Micheal kemudian "Dan kamu benar, aku hanya menjadikanmu pelampiasan, keputusan ku hanya karena emosi sesaat. Tapi saat aku mengucapkan akad, saat itu aku pun menguatkan tekad, kamu akan menjadi wanita pertama dan terkahir dalam hidupku, aku berjanji akan menjadi suami yang layak untukmu, dan akan memperlakukanmu sebagai istri sebaik mungkin." Micheal kembali berlutut di depan sang istri.
"Tapi rasanya benar-benar sakit," ucap Zenwa dengan suara tercekat "Perih sekali disini..." Zenwa memegang dadanya yang selama ini terasa begitu sesak.
"Aku tahu, izinkan aku mengobati rasa sakitmu, Zenwa!" bujuk Micheal.
Penasaran kisah selengkapnya?😘 yuk mampir!"😍🥰
__ADS_1