
Seorang pria tampan membawa sebuah nampan yang berisi segelas jus di tangan, raut wajah tersenyum saat berhasil membuat jus kesukaan Eve setelah beberapa kali percobaan. Julian membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, pandangan mata yang menyusuri ruangan.
"Eve…Eve, kau di mana?" Julian sangat panik, tidak melihat seorang di dalam kamar, takut jika gadis cupu itu kabur darinya. Nampan yang masih berada di genggaman tangan di lempar sembarang arah, hingga menimbulkan suara pecahan yang memekakkan telinga.
Kedua tangan terkepal erat, segera bergegas memeriksa ruangan dengan sangat telaten. Kamar yang cukup luas membuatnya sedikit kerepotan mencari keberadaan Eve yang tidak ditemukan, hanya satu tempat yang belum diperiksa yaitu toilet. Julian segera bergegas, memeriksa tempat itu.
"Eve…Eve, apa kau ada di dalam?" teriaknya penuh kekhawatiran, menggedor pintu membuat seseorang di dalam sedikit terkejut.
"Dia sudah kembali!" gumam Eve yang segera menyembunyikan ponselnya sebelum ketahuan oleh Julian. Karena tak ingin menimbulkan kecurigaan, dia segera membuka pintu dan berekspresi seperti melupakan kejadian yang baru saja terjadi. "Kenapa kau berteriak?"
Julian mengatur nafas yang tersengal-sengal, memeluk tubuh mungil itu dengan sangat erat membuat Eve merasa sesak nafas. "Kau memelukku dengan erat, lepaskan aku!" cetus Eve yang meronta.
"Aku pikir kau sudah kabur!" Julian sangat ketakutan, bahkan keringat di dahi menjadi bukti kegelisahannya. "Jangan tinggalkan aku sendiri, jangan tinggalkan aku!" pintanya ketakutan jika itu sampai terjadi.
Eve terdiam beberapa saat mencerna perkataan Julian, memikirkan kepribadian pria yang menjadi musuh keluarganya dan kaitan dirinya mengenai hal ini. "Aku harus mencari bukti mengenai pria ini dan alasan dia menculikku," batinnya penuh tekad.
Julian melepaskan pelukannya dan mengambil sebuah borgol di dalam laci yang tak berada dari jangkauan, memborgol tangan Eve dan tangannya sendiri, dan melemparkan kunci sembarang arah.
Eve sangat terkejut dengan tindakan pria itu, dalam satu kedipan mata sebelah tangannya sudah di borgol. "Hei! Apa yang kau lakukan? Cepat cari kuncinya!" cetusnya yang protes.
"Tidak! Sekarang kau selalu disisiku, dan aku bisa memantaumu setiap saat."
"Astaga…pria ini benar-benar sakit," umpat Eve di dalam hati, dia sangat jengkel dengan pria yang mengekang dirinya. "Apa begini caramu untuk membuat korban tidak bisa melarikan diri? Lalu kau dengan mudah menyiksa mereka? Aku akan menutup kedua mataku, kau bisa membunuhku dengan mudah. Cepat lakukan!" Eve memejamkan kedua matanya untuk mengendalikan musuh dengan sebuah taktik.
Julian hanya terdiam, berpikir jika Eve sudah pasrah mengenai nasib yang sekarang berada di tangannya. Memandangi wajah cupu gadis di hadapannya dan menatapnya lama.
Eve tak punya pilihan lain, berpura-pura mengalah untuk mengecoh musuh. Namun dia sedikit bingung dan mengintip secara diam-diam, alangkah terkejutnya saat bibir basah yang menyentuh bibirnya. Sontak kedua mata terbelalak kaget dan melihat sang pelaku sedang menciumnya.
__ADS_1
Julian melepaskan ciuman itu dan menatap wajah yang terlihat sangat syok dengan tindakannya, mengusap bibir basah Eve menggunakan ibu jarinya. "Nyawamu aman saat bersamaku, tapi tidak jika menjauh dariku!" sebuah kalimat yang penuh makna, terdapat ancaman yang berujung kematian.
"Sial! Dasar pria brengsek!" umpat Eve yang ingin pergi dalam kemarahan yang hendak meluap, tapi tertahan saat sebelah tangannya masih diborgol oleh Julian.
Julian hanya tersenyum seperti tidak terjadi apapun, hal itu semakin menyulut emosi Eve dan melakukan pemberontakan. Tapi aksinya itu tidak membuahkan hasil apa-apa, karena kekuatannya tidak sebanding dengan pria psikopat berdarah dingin.
"Kaparat! Lepaskan aku!" pekik Eve yang menatap pria tampan berlesung pipi penuh kebencian.
Karena tak tahan dengan gadis cupu yang terus memberontak untuk kabur, Julian mengeluarkan pisau lipat dari saku dan menunduk, menggores telapak kaki gadis malang itu.
"Aargh…sakit!" pekik Eve yang menjerit kesakitan, kedua telapak kakinya mengeluarkan banyak darah. Hingga kedua sudut matanya mengeluarkan cairan bening yang membasahi kedua pipinya, mengalah membutuhkan pengorbanan. "Kau akan membayar mahal atas perbuatanmu!" ucapnya dengan dua manik mata memelototi Julian penuh kemarahan.
Julian hanya terdiam tanpa ekspresi, melihat darah segar yang keluar membasahi lantai membuatnya sangat senang. Menggendong Eve ala bridal style dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Eve terlihat pasrah sambil memikirkan sebuah cara untuk melarikan diri, jari tangan dan juga telapak kakinya sudah dilukai oleh sang psikopat. "Astaga…bagaimana aku bisa menyerangnya? Untuk berdiri saja aku tidak bisa," keluhnya di dalam hati dan melirik Julian sedang mengobati telapak kakinya.
"Tidak lama lagi kau akan sembuh," celetuk Julian yang tersenyum indah.
"Jangan pernah memikirkan untuk kabur dan meninggalkan aku, jika itu terjadi lagi? Maka kedua kakimu akan aku potong!"
Seketika Eve bergidik ngeri membayangkan jika itu sampai terjadi, tapi dia memahami satu hal untuk bersikap lembut pada pria di sebelahnya. "Boleh aku tanyakan satu hal?" ucapnya dengan manja menatap dua manik mata tajam Julian.
"Katakan saja!"
"Pertemuan kita saat di rumah sakit, apa itu siasat mu?"
"Benar."
__ADS_1
"Jadi selama ini kau sudah mengawasiku?"
"Benar! Informasi yang aku dapatkan menjadi kuat, di saat twins N membongkar identitasmu."
"Awas kau, Kak! Aku akan menghajar kalian nanti!" geram Eve di dalam hati, namun masih mempertahankan sikap manja. "Apa aku boleh tahu alasan kau mengincarku?"
"Aku tidak punya keluhan tentang dirimu."
"Tapi kenapa kau masih mengincarku?" seloroh Eve yang menahan dirinya untuk tetap tenang.
"Sebaiknya kau tidur!" ucap Julian yang tak ingin membahas masalah itu.
"Katakan dulu, aku sangat penasaran!" rengek Eve.
"Tidurlah!"
Eve menghela nafas berat dan terpaksa memejamkan kedua mata, berharap jika luka di telapak kakinya segera sembuh.
Julian menatap gadis di sebelahnya yang sudah tertidur pulas, memeluk tubuh Eve dari belakang dan merasakan kenyamanan yang tidak pernah dia rasakan. Bayangan masa lalu masih menghantuinya, saat kedua orang tuanya menyewa pembunuh bayaran untuk membunuhnya. Menemukan sebuah bukti dari foto yang diyakini milik salah satu pembunuh bayaran, sebuah foto Eve masih kecil.
****
Niki berhasil meretas keamanan di Mansion milik Julian, bekerja sangat keras dan mereka semua memantau lewat laptop. Niko dan Niki mengepalkan tangan dengan erat, bersumpah akan membunuh pria psikopat yang melukai telapak kaki dan juga jari Eve dengan sadis.
Samuel sedikit syok, tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi dan menatap Alex dengan emosi. "Bisakah kita menyerang sekarang?"
"Tidak! Tunggu sebentar lagi."
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar, berani sekali pria itu melukai adikku!" tukas Niki.
Semua orang mulai menyalahkan Alex atas apa yang terjadi kepada Eve, memantau pergerakan musuh dan bersembunyi tak jauh dari Mansion itu.