Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 70 - Berpura-pura


__ADS_3

Eve terus saja menunggu pria yang terbaring lemah untuk membuka matanya, tak terasa bulir bening dari pelupuk mata menetes mengenai tangan Samuel. Tak lama pintu terbuka, dia adalah Lili yang datang membawakan pakaian juga makanan. Dengan cepat dia menyeka air mata dan segera menoleh memperlihatkan senyum khas.


"Eve, ini pakaian dan juga makanan. Cepat ganti bajumu di kamar mandi, setelah itu kita makan bersama. Ibu memasak semua ini untuk kita!" Lili sangat bersemangat dan membuka rantang makanan, menyajikannya di atas meja tak jauh tempat Samuel di rawat. Seketika gadis itu memegang perutnya karena merasa lapar, tergiur dengan makanan diatas meja yang menggugah selera. 


"Ayo, makan!"


"Iya, Bu." Sahut Eve yang tidak sungkan mengambil lauk dan juga nasi yang ada di hadapan mata, menikmatinya karena belum makan sedari tadi.


"Wah, ini sangat enak. Masakan Ibu tidak kalah dari masakan Mommy, dan aku menyukainya." 


Lili tersenyum mendapatkan pujian itu, memandang gadis muda di hadapannya. "Terima kasih sudah membawa Sam kembali, dia bisa kembali karenamu." 


"Aku tidak merasa begitu, malahan merasa bersalah dengan apa yang terjadi kepada Sam. Tolong, maafkan Eve." Dia menyesali dan terus menyalahkan dirinya, menekuk wajahnya dan tak terasa air mata itu kembali menetes.


Lili menghamburkan memeluk tubuh Eve dengan sangat erat, mencium pucuk kepala seakan itu putrinya sendiri. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini sudah keputusan Sam yang membuktikan cintanya. Katakan padaku sekali lagi, apa kau mencintai putraku?"


Dengan cepat Eve menganggukkan kepala, mengakui perasaan yang sesungguhnya. "Aku mencintainya, dunia ini sangat aneh. Menyadari cinta setelah hampir kehilangan Sam, apa aku terlihat buruk?" dua manik mata yang berbinar.


Lili melepaskan pelukannya, mengusap pipi Eve dengan lembut. "Tidak Nak, cinta datangnya tak terduga, yang terpenting kau mengatakannya. Karenamu Samuel sudah melewati masa kritisnya, hanya menunggu dia sadar."


Selesai makan, Eve dan Lili bercengkrama. Mereka tampak akrab dan tidak ada rasa enggan maupun sungkan, sudah seperti teman dekat. 


Tanpa mereka sadari, jika jari telunjuk Samuel bergerak. Mendengarkan pembahasan mereka dengan sangat jelas, tapi tubuhnya belum bisa pulih sepenuhnya. 


"Bagaimana Samuel waktu masih kecil?" penasaran Eve yang sangat antusias.


"Hah, Sam gemar sekali makan hingga tubuhnya gemuk. Banyak teman sekolah yang selalu mengejek juga membully nya, tapi kedua kakakmu menjadi sahabatnya." Ungkap Lili yang cekikikan, diikuti oleh Eve.


"Hah, pantas saja kak Niko dan kak Niki memberi nama gelarnya badak bercula satu juga kuda nil." Terdengar gelak tawa Eve, menceritakan Samuel di masa kecil memang sangat menyenangkan. 


Samuel mendengar semuanya tanpa terlewat satupun, tapi matanya seakan enggan untuk terbuka.


"Ini sudah sore, sebaiknya kau kembali saja." Bujuk Lili.


"Biarkan aku menjaga Sam hinggi sadar."

__ADS_1


"Apa kau yakin?" 


"Sangat yakin."


"Baiklah, jika kau bersikukuh. Ibu pulang dulu, jika terjadi masalah segera hubungi!"


"Baik, Bu."


Malam harinya, Eve masih bertahan melototi pria itu. "Kau selalu saja membuat aku takut, bagaimana aku bisa mencintai pria yang selalu menyusahkanku? Sebenarnya kau jauh dari tipe pria idamanku, dan kau juga seorang player. Bagaimana nasibku setelah menikah denganmu? Apa kau akan mempunyai istri lain? Jika itu sampai terjadi, aku akan memotong Anu mu dan menggepreknya hingga tak berbentuk." Dia terus berbicara panjang lebar, hingga dia kelelahan dan tertidur pulas. 


Seseorang membelai rambutnya dengan sangat lembut, dan menyunggingkan senyuman. "Aku berjanji akan membuatmu menjadi Ratuku, aku juga mencintaimu." Batin Samuel yang menyelimuti gadis di sebelahnya. 


Samuel sangat senang bisa mendengar perkataan Eve yang juga mencintainya, mendengar semua perkataan sang Ibu yang juga membicarakan dirinya. Sudah sadar, tapi tak ingin memberitahukan semua orang, berniat untuk melihat ketulusan hati orang lain.


****


Pagi harinya, Eve terbangun dari tidurnya menyadari sesuatu hal yang ganjal. "Siapa yang menyelimutiku?" gumamnya yang melihat Samuel kedinginan, berpikir keras dengan apa yang dia lewati. "Apa dia yang menyelimutiku? Apa dia sudah sadar?" 


Eve mendekati Samuel, memandangi wajah tampan yang terlihat menggemaskan. "Jika dilihat dari dekat dan mata tertutup, dia terlihat sangat tampan." Pujinya yang cekikikan saat menyentuh hidung mancung itu. 


Pintu terbuka menghentikan aksi jahil Eve, seorang datang untuk memeriksa keadaan pasiennya. "Selamat pagi, Nona." 


"Bagaimana harimu, Nona." Sapa dokter pria yang tersenyum manis.


"Cukup baik."


"Aku akan memeriksa pasien dulu."


"Silahkan."


"Sial, aku akan menghukum dokter ini nanti. Lancang sekali dia menggoda Eve di dekatku!" batin Samuel yang menahan rasa jengkelnya.


"Bagaimana kondisi Sam?" 


"Kondisi pasien sudah lebih baik."

__ADS_1


"Lalu, kenapa dia belum sadar juga?" 


Dokter tampan itu juga tak tahu sebabnya, karena kondisi pasien sudah seharusnya sadar saat melihat perkembangan yang cukup bagus. "Mungkin sebentar lagi, hubungi aku jika terjadi masalah."


"Terima kasih, Dok."


"Sama-sama."


Eve menatap lekat wajah tampan yang belum membuka mata, meneliti setiap inci tanpa terlewatkan. "Mengapa dia belum sadar juga, ini aneh sekali."


Samuel menahan aktingnya agar terlihat maksimal, tak ingin menimbulkan kecurigaan. Dia masih ingin berbaring dang mengetahui sifat semua orang terutama perasaan dari calon istrinya. 


Tiba-tiba terdengar suara ponsel, Eve segera mengangkatnya. 


"Halo."


"Iya, Mom. Ada apa?" 


"Pulanglah, Sayang."


"Tapi aku masih menjaga Sam, Mom."


"Masih ada suster maupun dokter, sebentar saja."


"Baiklah."


Eve segera mematikan sambungan telepon dan bersiap-siap untuk pulang. "Aku pulang dulu, jaga dirimu! Aku akan kembali sebentar lagi," ucapnya yang berbicara sendiri.


Pintu terkatup, Sam membuka matanya melihat punggung wanita yang menghilang dari balik pintu. "Dia pergi terburu-buru, apa yang terjadi?" dia sangat penasaran tapi masih masih ingin mendengar ungkapan cinta dari gadis pujaan hati.


Samuel kembali memejamkan kedua matanya saat pintu terbuka, tiga orang pria tampan datang menghampirinya. Twins N dan Alex mengunjungi calon adik ipar mereka, karena pernikahan sebentar lagi diadakan dan berniat untuk menjenguk.


"Hai Sam, maafkan kesalahanku. Semua ini karena kami, tapi kami tidak salah sepenuhnya, kau juga ikut andil dalam permasalahan yang terjadi. Oh ya, kami menginginkan kesehatanmu dan menyetujui pernikahan kau dan adik kesayangan kami." Ucap Niki menghela nafas, memberi restu tanpa ragu.


"Tanggung jawab Eve akan aku serahkan kepadamu, jangan pernah membuatnya sedih atau terluka. Aku tidak akan mengampunimu!" tekan Niko.

__ADS_1


"Setelah pernikahan, kami akan menebus segalanya dan pergi dari kalian." Ucap Niki yang sedih dan keluar dari tempat itu, diikuti oleh Alex dan Niko.


"Apa maksud mereka mengatakan itu? Apa mereka dihukum?" Batin Samuel yang tak mengerti, tapi berusaha keras agar Eve bahagia bersamanya dan tak akan membuat calon istrinya mengeluh.


__ADS_2