Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 60 - Lamaran


__ADS_3

Eve jadi tidak bersemangat saat Liam sudah pergi meninggalkannya, keceriaan dari pria itu berhasil membuatnya jengkel. Namun, tak bisa di pungkiri, jika dia merindukan keberadaan pria itu. "Hah, semoga saja dia menemukan wanita yang mencintainya dengan tulus." Batinnya tersenyum tipis, merelakan kepergian dari pria itu. 


Beberapa detik kemudian, Eve bersorak bahagia, melompat ke atas tempat tidur sembari berjoget ria. "Aku bebas…setidaknya salah satu dari pria yang menyebalkan itu sudah pergi." Pekiknya, dia menghempaskan tubuhnya dan membidik foto Liam menggunakan anak panah berukuran kecil. "Kau mengambil keputusan yang tepat, sekarang giliran Julian dan juga Samuel."


Eve menatap foto yang kedua pria tampan yang tersisa. "Aku harap, kalian berdua juga segera pergi dan tidak mengusik privasiku." Gumamnya dengan sorot mata jengkel.


Suara ketukan pintu membuatnya segera mengalihkan pandangan ke asal suara, dia melangkahkan kaki dan membuka pintu. Mengintip dari celah pintu yang hanya terbuka beberapa sentimeter saja, melihat siapa tamu yang mengganggunya. Dia membelalakkan kedua mata saat menatap Samuel yang memaksakan kehendak untuk masuk ke dalam kamarnya. 


"Eve, buka pintunya!" ucap Samuel yang mendorong pintu.


"Pergilah! Kenapa kau selalu mengikutiku!" sahut Eve yang berusaha menutup pintu, namun hal itu tidak berhasil. Samuel masuk ke dalam kamar kekasihnya dan segera mengunci pintu, membuat gadis cupu itu takut juga gugup. "Ada apa, keluarlah dari kamarku!" pekiknya yang menunjuk pintu.


Samuel tak menggubris perkataan kekasih kontraknya, dia lebih memilih melangkahkan kaki menuju tempat tidur yang sangat empuk, mendudukkan dirinya seraya melihat suasana di dalam ruangan itu. 


"Kak Niko…kak Niki…kak Alex, usir pria ini dari kamarku!" pekik Eve yang berdiri di ambang pintu kamarnya, berusaha untuk mendapatkan pertolongan. "Siapapun yang di luar, tolong bebaskan aku dari sini!" dia berusaha untuk menggedor pintu kamar sekuat tenaga. Tidak ada sambutan membuatnya terdiam, apalagi tenggorokannya sakit setelah berteriak. 


Eve mengalihkan pandangannya ke arah pria yang tengah berbaring di kamarnya, memakai bantal kesayangan miliknya. "Keluarlah dari sini!" pekiknya.


"Apa?" sahut Samuel yang tidak merasa bersalah, menatap gadis cupu yang begitu menggemaskan. 


"Apa niatmu yang sebenarnya?" selidik Eve yang berjalan mendekat. 


Samuel tertarik dengan pembahasan itu, beranjak dari tempat tidur dan mendekati Eve, mendorong tubuh wanita itu ke dinding. Tatapan mata saling bertemu satu sama lain, manik mata yang indah dapat menghipnotis pria tampan di hadapannya. 


Samuel memeluk tubuh mungil itu dengan erat beberapa detik, kemudian mencium bibir merah merekah yang di suguhkan tepat di hadapannya. Eve sempat menolak, namun dia sangat ahli dalam hal membuat wanita terbuai dengan ciumannya. Permainan yang sangat lembut, gigitan pelan untuk memberikan rasa kenyamanan. Tak lupa dia mengabsen rongga mulut, satu persatu deretan gigi putih dan juga pertemuan lidah. 

__ADS_1


Ciuman yang sangat dalam penuh dengan hasrat seorang pria yang menginginkan hal yang lebih dari ciuman, tapi dia tidak ingin melakukan kesalahan dan melepaskan Eve. 


"Apa kau ingin membunuhku!" kesal Eve yang merasakan bibirnya yang bengkak akibat pria brewok itu.


Sementara Samuel mengusap bibirnya menggunakan ibu jari, terkekeh dengan tingkah menggemaskan dari sang kekasih. "Tapi kau terlihat nyaman dengan ciuman itu, aku bisa menambahnya lagi, jika kau mau." Tawarnya yang memasang raut wajah jahilnya.


Eve sangat geram, karena apa yang dikatakan Samuel memang benar, dia terbuai dengan ciuman yang hanya berdurasi beberapa menit.


"Kenapa kau kemari? Bukankah semua orang ada di Mansion? Bagaimana kau bisa masuk?"


Serentetan pertanyaan yang keluar dari mulut Eve, dia sangat bingung dengan keberadaan pria itu yang bisa masuk ke dalam Mansion. Menatap Samuel dengan menyipitkan kedua matanya menyelidik, dia merasakan jika ada yang tidak beres. "Jawab pertanyaanku!" ketusnya.


"Aku tidak datang sendirian, melainkan ada Ibu dan juga asistenku. Aku berniat baik untuk melamarmu, itu sebabnya kakak sepupu mu…ups, maksudku calon kakak iparku tidak mendengarkan teriakan mu itu."


"Terserah, tapi yang pasti semua orang sudah sepakat dengan pernikahan kita." Ujar Samuel yang terlihat acuh. 


"Bagaimana bisa, bukankah mereka melarang keras aku untuk berhubungan dengannya? Tapi apa ini? Aku tidak mengerti." Eve segera merebut kunci di tangan kekasih kontraknya, dia tak menduga jika pria itu melamarnya tanpa mengatakan apapun padanya. 


Melangkahkan kakinya menuruni tangga, menatap semua orang yang berada di ruang tamu. "Mom!" panggilnya yang seakan ingin mendengarkan langsung, berharap jika itu tidak terjadi. 


"Sini Sayang!" panggil Lili yang tersenyum menatap calon menantunya, Eve dibuat canggung dengan situasinya saat ini.


"Hai, Sam. Kemarilah!" panggil Lea yang menggerakkan tangannya, saat melihat pria muda itu menuruni tangga.


Semua keluarga telah berkumpul, menyaksikan lamaran pertama bagi cucu Nathan. Sementara Eve hanya menelan salivanya yang seakan tersekat di tenggorokan, melihat semua orang yang tiba-tiba begitu baik pada Samuel.

__ADS_1


"Ada yang bisa menjelaskannya padaku? Aku tidak mengerti!" celetuk Eve setelah memberanikan diri untuk bertanya. 


"Tentu sayang, apa yang ingin kau tanyakan?" jawab Lea.


"Bukankah para pria Wijaya tidak menyetujui ku berhubungan dengan Sam, apa yang terjadi sekarang? Dan mengapa kakak kembarku juga terdiam begitu?" Begitu banyak pertanyaan yang menari di pikirannya, menatap twins N dan Alex secara bergantian. "Kak, kenapa kalian menyetujui hal ini?" 


Twins N dan Alex menatap ibu Eve dengan ketakutan, karena mereka tak bisa melakukan apapun lagi dan tak ingin diancam. "Mau bagaimana lagi? Tanyakan ini pada bibi Lea. Hah, kenapa hidupku penuh adrenalin." Jawab Niki yang menelan saliva saat melihat pelototan mata dari bibinya. "Ya tuhan…kenapa bibi ku terlihat seperti monster?" gumamnya di dalam hati seraya mengelus dada, berharap dirinya tidak terkena masalah.


Abian juga hanya terdiam, tak bisa melawan kehendak dari istri tercinta. Dia tak menyangka, jika pria yang di ejeknya sebagai  kera akan menjadi menantunya. "Ya tuhan…kemarahan Lea sangat mengancamku!" batinnya seraya melempar tatapan tajam ke arah calon menantunya.


"Astaga…aku bahkan belum mengerjainya, nasib pria itu sangat mujur. Sial!" umpat Niko yang sangat kesal.


"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" desak Eve yang sudah tak sabar ingin mengetahui secara keseluruhan. 


Para tetua di keluarga Wijaya tersenyum, mereka sangat menyetujui lamaran yang diajukan oleh Samuel setelah mengetahui identitas pria itu. 


"Sayang, mom mu dengan ibu Sam itu sangat dekat. Bahkan kakek Nathan sangat mengenal mereka yang merupakan rekan bisnis dulu, jodoh tidak ada yang menduga. Hubungan baik dengan keluarga kembali tercipta, tentu saja kami menerima Samuel yang ternyata adalah anak kandung dari Lili Matthew." Jelas nenek Dita dengan lembut. 


"Itu benar, karena berkat bantuan keluarga mereka kepada kita secara diam-diam, untung saja saat itu Pamanmu, Al dan El berhasil mengetahui identitas mereka yang tak lain adalah Abraham Matthew, kakek dari Samuel." Sambung Lea.  


"Apa?" lirih Eve pelan, dia tak menyangka jika silsilah dari keluarga Matthew berteman baik. 


Semua orang menyambut hal itu dengan senang, tapi tidak dengan Niko, Niki, dan Alex. 


"Ck, tidak semudah itu mendapatkan adikku!" batin Niko yang bertekad. 

__ADS_1


__ADS_2