Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 22 - Seperti kencan


__ADS_3

Eve sangat kesal pada dua orang pria yang menarik tangannya, sudah lelah menjadi rebutan. "Hai, hentikan ini! Aku sangat lelah," ucapnya yang berusaha melepaskan diri. Nafas naik turun karena menahan emosi, menunjuk Liam dan Samuel dengan tajam. 


"Aku bukan tali tambang yang bisa kalian tarik," bentak Eve. 


Samuel tak menghiraukan perkataan Eve dan menyeret tangan gadis malang itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sedangkan Liam mengepal kedua tangannya erat, menatap punggung pria itu dengan tajam. "Berhenti! Kau tidak bisa membawa Eve pergi."


Samuel menoleh dan menatap Liam dengan sengit. "Siapa kau yang menghalangiku?" 


"Dia calon kekasihku, lepaskan Eve!" 


"Dia kekasihku."


"Hai, aku bukan ke__" belum sempat eve berbicara, Samuel membekap mulutnya. 


"Kekasihmu? Heh, aku tidak percaya."


"Terserah karena aku tidak peduli." 


Eve terus meronta dan berhasil lolos dengan mudah, menatap dua pria itu secara bergantian. "Sepertinya ini harus diperjelas, pertama aku bukan calon kekasih siapapun, dan kedua aku bukan kekasih siapapun. Berhentilah mengklaim ku!" ketusnya jengkel. "Tunggu dulu! Apa kalian saling mengenal?" 


"Sangat mengenalnya," jawab Liam. 


"Ck, aku benci suasana ini. Ayo, kita bayar tagihannya." Samuel menarik tangan Eve, Liam mengikuti dari belakang. Di saat dia ingin membayar, tapi kalah cepat dengan Liam yang mengeluarkan kartu. 


"Biarkan aku membayar tagihannya, dan Eve pergi bersamaku."


"Dia pergi bersamaku sebelumnya, Eve tetap bersamaku." Sela Samuel yang tak ingin mengalah dari pria yang lebih muda darinya. "Kau sama saja seperti ibumu," singgungnya yang sangat membenci saudara tirinya itu. 


"Berhentilah menyeret nama ibuku, kau tidak ada hak." Tukas Liam yang menahan amarah. Sedangkan Eve menonton kedua pria itu seraya mengunyah permen karet, dia sekarang tahu jika dua pria itu saling membenci satu sama lain. "Drama ini sungguh menjengkelkan, sebaiknya aku pergi dari sini." Gumamnya yang menyelinap keluar dari butik, membatalkan niatnya untuk membuat sang majikan bangkrut. Tak ingin jika dia dijadikan tameng oleh Samuel san juga Liam. 


"Tidak ada hak? Kau dan ibumu itu telah menghancurkan ibuku, kau lihat saja apa yang akan dilakukan oleh Samuel Matthew." Dia berlalu pergi meninggalkan tempat itu, menyadari jika Eve sudah melarikan diri. 


Liam menatap kepergian kakak tirinya, tatapan permusuhan berkibar dengan penuh berapi-api. "Apa kau pikir aku takut? Aku Liam Matthew tidak akan tinggal diam!" tekadnya. 


Eve yang terus berlari dan bersembunyi terpaksa menghentikan langkah kakinya, nafas yang terengah-engah dan jantung yang berdetak kencang. Dia mengatur nafas dan memilih duduk di kursi yang tersedia di pusat perbelanjaan, melihat orang-orang yang berlalu lalang. "Huff…untung saja aku bisa kabur dari dua pria sinting itu, jika saja Liam tidak datang dan mengacaukan segalanya, mungkin aku sudah membayar lunas hutangku kepada Samuel. Pendapatan Cafe juga dipantau oleh kak Alex, aku orang kaya tapi miskin harta." Monolognya yang mengumpati nasib sialnya. 


Eve memutuskan untuk berjalan-jalan, apalagi di Mansion tidak ada siapapun, semua orang pergi ke luar negeri meninggalkannya bersama dengan kakak sepupu yang paling menyebalkan, Niko. Sementara kembaran Niko yang bernama Niki memutuskan untuk menginap di tempat kakek Bonar. Baru saja dia menikmati jalan-jalan, ponselnya berdering dan mengangkat telepon tanpa melihat nama yang tertera di layar. 


"Hubungi aku nanti saja."

__ADS_1


"Berani sekali kau kabur dariku!"


"Sa-Samuel?"


"Ya, memangnya kau berharap siapa?" 


"Tidak, bukan siapa-siapa."


"Cepat kembali!"


"Tidak, kau bukan kekasihku dan jangan mengaturku."


"Akan aku perlihatkan, bagaimana Samuel Matthew bertindak."


Samuel mematikan sambungan telepon, dia sangat kesal dengan pertemuannya dengan Liam. Satu hal fakta yang diketahui, jika adik tirinya menyukai Eve dan membuatnya berambisi. "Akan aku taklukkan gadis cupu itu untuk menghancurkan Liam, satu peluru untuk dua sasaran." Gumamnya yang tersenyum tipis. 


Eve terus saja mengumpat dan tidak menghiraukan ancaman Samuel, memilih untuk mengisi perut yang terasa sangat lapar. "Selalu berlari dan menghindar membuatku sangat lapar, sebaiknya aku memesan makanan cepat saji." Masuk ke dalam salah satu toko dan memesan makanan. Memutuskan untuk mencari kursi kosong, namun makanannya terjatuh saat seseorang berdiri di hadapannya. 


"Makananku!" lirihnya pelan, menatap makanan yang terjatuh ke lantai. 


"Aku akan menggantinya."


"Eh, suaranya terasa tidak asing?" Eve mendongakkan kepala dan terkejut saat melihat Samuel, menelan saliva dengan susah payah. "Kau di sini?" 


"Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain mengikutiku?" kesal Eve. 


"Akulah bosnya," sombong Samuel sambil membenarkan jasnya. Dia menarik tangan Eve menuju Cafe dan memesan makanan, namun makanan vegetarian. 


"Apa kau pikir aku ini kambing? Aku ingin makanan cepat saji." Cetus Eve yang menatap semua piring yang berisi makanan vegetarian di atas meja. 


"Makanan cepat saji tidak bagus untuk kesehatan, sebaiknya kau makan salad."


"Tidak, aku tidak menyukai sayuran." Tolak Eve. 


"Kenapa?" 


"Karena rasanya tidak enak."


Samuel menghela nafas berat, mengambil potongan sayuran dan memasukkan ke dalam mulut gadis itu dengan sedikit paksaan. "Bagaimana rasanya?" 

__ADS_1


Eve awalnya protes, namun terpaksa mengunyah makanan di dalam mulut saat Samuel memelototinya. "Eh, ternyata rasanya tidak buruk." Kembali menyuapi salad ke dalam mulutnya, Samuel tersenyum dan mengisi perutnya sendiri. 


Selesai makan, Eve melihat jam yang hampir malam. Dia terlihat gusar, jika kakaknya yang bernama Niko sudah sampai ke Mansion lebih dulu. "Astaga, pasti kak Niko memarahiku habis-habisan dan semua ini karena Samuel," batinnya. 


"Kau kenapa?" tanya Samuel yang menatap gadis cupu di hadapannya. 


"Aku harus pulang."


"Aku akan mengantarmu!"


"TIDAK!" jawab Eve dengan cepat, takut jika identitasnya terbongkar. 


"Kenapa kau sangat takut?"


"Bukan apa-apa, tolong mengertilah!" 


"Hem, ya sudah."


"Jangan mengikutiku! Aku pergi dulu."


"Hem." Samuel menatap kepergian Eve dengan raut wajah penasaran. "Ini sangat mencurigakan, asistenku tidak bisa meretas datanya dan kedua dia tidak ingin aku mengantarnya untuk pulang. Aku merasa jika dia bukan orang sembarangan? Tapi, kenapa dia rela menjadi pelayanku?" batinnya yang mulai curiga. 


Eve mencegat taksi untuk mengantarkannya pulang, sesampainya di Mansion dia melihat sepasang mata tengah menyorotnya dengan penuh penyelidikan. "Dari mana saja?" 


Eve tersenyum mengembang menghampiri pria tampan itu, tatapan polos untuk meluluhkan kemarahan Niko. "Kakak sudah pulang?" 


"Keluar dari Mansion tanpa memberitahukan pada siapapun."


"Apa mereka sudah pergi?" tanya Eve yang berpura-pura tak tahu. 


Pletak


"Jangan berpura-pura, kau pasti tahu mengenai kepergian mereka. Siapa pria yang bersamamu di pusat perbelanjaan?" tanya Niko penuh selidik, menggoyangkan kedua kakinya yang bertengger di atas meja. 


"Mati aku!" umpat Eve di dalam hati. 


"Jawab pertanyaan ku! Ada hubungan apa kau dengan Samuel Matthew?"


"Kakak mengenalnya?" 

__ADS_1


"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab pertanyaan ku."


Eve pasrah dengan situasinya saat ini, berpikir untuk mengatakan yang sebenarnya. "Aku melihat pertemuan kak Niko dengan Samuel terlihat tidak menyenangkan, apa aku harus menceritakannya? Bagaimana jika kak Niko mengatakan kepada daddy?" batinnya yang dilema.


__ADS_2