Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 31 - Satu kelas


__ADS_3

Tamparan keras menggema begitu keras di dalam ruangan itu, tatapan tajam nan menusuk menatap dua pria tampan yang mengancam keselamatan adik sepupunya. "Mulut kalian itu tidak bisa dijaga, sekarang apa yang harus aku lakukan?" tekan Alex meminta pendapat dari sepupu kembarnya. 


Baik Niko ataupun Niki hanya menundukkan kepala, akibat kecerobohan mereka membuat nyawa Eve dalam bahaya dan juga keluarga mereka. "Maaf," lirih mereka dengan kompak, penyesalan yang menyelimuti hati dan pikiran. 


"Apa maaf kalian bisa mengembalikan keadaan? Kau tahu nya hanya berkencan dan kau selalu sibuk dengan hartamu." Alex menunjuk Niko dan Niki, geram karena keselamatan keluarga mereka terancam. "Mulai saat ini, kalian berdua aku hukum." 


"APA?" sahut mereka dengan kompak. 


"Ya, karena ulah kalian yang sangat ceroboh. Awasi Eve dan sekelilingnya, perhatikan siapa saja dan jangan sampai lengah." Alex segera berlalu pergi, hatinya menjadi sangat cemas dan juga khawatir memikirkan adik sepupunya yang akan melewati jalan berduri. 


Sementara Niko dan Niki menghela nafas dengan panjang, mengusap wajah juga menarik rambut dengan kasar. Mereka sendirilah yang membuat nyawa Eve dalam bahaya, memikirkan untuk mengatasi masalah tanpa di ketahui oleh paman Abian, ayah dari Eve. 


"Langkah apa yang akan kita ambil?" tanya Niko yang menatap wajah saudara kembarnya. 


"Di sini, kitalah yang salah."


"Kau memang benar! Tapi apa yang akan kita lakukan?"


"Kita akan mengawasi Eve."


"Hem."


****


Keesokan harinya, Eve telah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Saat menuruni tangga, dia berjalan menuju meja makan untuk sarapan. Sorot matanya menatap tiga pria tampan yang juga menatapnya, kerutan di kening terlihat jelas terukir di wajahnya. "Kalian di sini?" 


"Ya, kami bertiga akan tinggal di Mansion." Sahut Alex. 


"Tidak biasanya, kenapa mereka tiba-tiba tinggal di Mansion? Apa akan terjadi sesuatu?" batin Eve yang tampak berpikir. "Tapi kenapa terjadi secara mendadak, katakan padaku!"


"Identitas dan juga informasi mengenai dirimu sudah terlacak oleh pihak musuh, dan sekarang kita dalam bahaya terutama dirimu." Jelas Niki yang tak ingin menyembunyikan apapun lagi. 


"Kalian benar, usahaku sia-sia karena kak twins N. Mereka sendirilah yang membocorkan identitas ku," kesal Eve menghela nafas berat. 


Eve bergabung dengan ketiga kakak sepupunya, menyantap makanan yang tersedia di atas piring. Setelah selesai sarapan, Alex menatap adik sepupunya dengan sangat serius. "Mulai sekarang, kau berhati-hatilah pada orang sekelilingmu yang bisa saja menjadi musuh."

__ADS_1


"Pasti, Kak."


"Aku yang mengantarmu ke kampus, dan kalian berdua lakukan sesuai rencana!" titah Alex yang segera beranjak dari kursinya, menarik tangan Eve, dan masuk ke dalam mobil. 


Di sepanjang perjalanan, keduanya terdiam hanyut dalam pikiran masing-masing. Eve tak ingin mengambil resiko dan mulai berhati-hati dari sekarang, mengingat musuh yang mengincarnya. 


"Jangan terlalu memikirkan hal ini, hingga kau tidak konsen dalam pembelajaran."


"Ada yang ingin aku katakan kepadamu, Kak."


"Katakan saja!"


"Aku tidak tahu pada siapa membaginya, kakek Nathan sudah memberitahukan hal ini, jika musuhku sangatlah hebat. Identitas yang disembunyikan, sekarang telah terbongkar." Jelas Eve yang sedikit panik. 


"Aku sudah tahu."


"Apa? Bagaimana Kakak bisa tahu? Apa kakek Nathan mengatakannya?" Eve sangat terkejut, jika selama ini kakak sepupunya bernama Alex mengetahui alasan utama dari penampilannya yang sangat cupu. 


Alex mengangguk, karena dia menyelidiki kasus Eve saat merasakan ada kejanggalan. "Kau tidak perlu tahu darimana aku mengetahuinya, ingat ini baik-baik! Jangan pernah mempercayai orang asing."


"Baik, Kak."


Saat berjalan melewati koridor, tiba-tiba pundaknya ditepuk dengan pelan. 


"Wow, kita lihat sekarang. Bagaimana si miskin ini bergonta ganti pria, apa kau begitu kekurangan uang?" cibir Freya yang melipat kedua tangan di hadapan dadanya, menatap korban bully nya dengan sinis dan juga benci. 


"Ini masih pagi, jangan merusak mood ku!" Eve ingin pergi dari tempat itu, tapi di cegat oleh Freya dan kedua temannya. 


"Kau tidak akan bisa pergi!" seloroh Vira yang tersenyum mengejek. 


"Apa yang kalian inginkan? Cepat katakan karena aku tidak punya banyak waktu." Ujar Eve sambil melirik jam yang melingkar di tangannya. 


"Jangan terburu-buru, aku hanya ingin menanyakan satu pertanyaan saja dan kau boleh pergi."


"Hem, katakan saja!" 

__ADS_1


"Kau ini wanita seperti apa? Apa kau menjajakan tubuhmu, hingga kau bergonta ganti pria." 


Eve sangat geram dengan pertanyaan yang di sodorkan oleh Freya, dia tak terima jika orang lain mengejeknya seorang wanita tak terhormat. "Terserah kalian menilaiku seperti apa, tapi yang pasti aku tidak melakukan seperti tuduhan murahanmu itu." Jawabnya seraya berlalu pergi meninggalkan ketiga wanita yang tengah mengumpat. 


Freya dan kedua temannya sangat kesal, mereka sangat iri dengan nasib beruntung Eve yang dikelilingi oleh para pria tampan dan juga kaya. "Apa dia memakai susuk atau semacamnya? Siapa pria tampan yang mengantarnya tadi?" gumam Freya yang sangat iri. 


Eve segera melangkah dengan tergesa-gesa, karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Di saat dia membuka pintu dan masuk ke dalam kelas, tak sengaja tatapannya tertuju kepada julian yang duduk di depannya. Pria itu melambaikan tangan dan tersenyum, menyapa Eve yang hampir saja terlambat.


"Hai!"


"Hai."


"Wah, suatu kebetulan yang pas sekali. Kau dan aku bertemu, kita satu kelas."


"Ya, ini hanya kebetulan." Jawab Eve sekenanya, dia tak ingin terlalu akrab pada orang lain. 


Anita menatap sahabatnya, ingin meminta penjelasan, bagaimana Ayu bisa mengenal Julian yang notabene sebagai anak baru.


Beberapa menit, kelas telah usai. Anita segera menghampiri sahabatnya dan ingin meminta penjelasan, karena dia sangat bingung bagaimana Eve didekati oleh para pria tampan. "Aku ingin meminta penjelasanmu!" cetusnya. 


"Aku tidak mengerti!" sahut Eve yang mengerutkan kening. 


"Bagaimana kau bisa mengenal anak baru itu?" 


"Maksudmu Julian?"


"Ya, Julian. Bagaimana kau mengenalnya?"


"Kami bertemu di rumah sakit, dan saat itu dia menjadi pasien. Pertemuanku dan dia terjadi di taman rumah sakit yang terkenal di kota." Jelas Eve dengan jujur. 


"Wah, kau sangat beruntung bisa mendekati para pria tampan. Pertama Samuel, kedua Liam, dan ketiga Julian. Sisakan satu untukku!" keluh Anita yang cemberut. 


"Jangankan satu, ambil saja ketiga pria itu."


"Apa kau tidak menyukai mereka, atau salah satunya?" seloroh Anita yang sangat berbinar. 

__ADS_1


"Tidak, aku hanya ingin fokus dengan kuliahku saja."


"Aku memilih anak baru itu, dia terlihat sangat ramah. Dan kedua pria lainnya? Sepertinya tidak!" Anita tersenyum genit, karena dia menyukai Julian sejak pertama kali pria itu mengenalkan diri. 


__ADS_2