
Eve berjalan keluar dari gedung itu menuju mobil sport berwarna hitam metalik, membuka pintu dan masuk ke dalam. "Hai, Kak!" sapanya dengan ramah.
"Hem," jawab Alex yang hanya berdehem.
"Semoga ada wanita yang tahan dengan sikap dingin kak Alex," gumam Eve yang menghela nafas berat, mengingat kakak sepupunya itu irit dalam berbicara. Hanya jika terjadi masalah, barulah Alex mengucapkan kalimat yang panjang. Bukankah itu suatu prestasi yang harus di banggakan? Begitulah isi pikirannya saat ini.
"Kau mengatakan sesuatu?" terdengar suara bariton di sebelah Eve, dan tatapan dingin menusuk.
"Tidak, mungkin Kakak salah dengar."
"Pasang seatbeltnya!"
"Baik, Kak!" Eve memasang sabuk pengaman.
Alex mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, tidak ada obrolan di sepanjang jalan membuat Eve sangat bosan dan berniat untuk memecahkan keheningan.
"Kak!"
"Apa?"
"Aku ingin keluar besok, apa boleh?" Eve tersenyum cerah, memperlihatkan deretan gigi putih yang tersusun rapi. Berharap jika sang kakak menyetujui permintaan sederhananya.
"Bersama Liam?" ucap Alex yang menunjukkan wajah datarnya sepersekian detik dan kembali fokus mengemudi.
"Eh, darimana Kakak tahu?" Eve sangat terkejut, hingga tak sadar menjatuhkan rahangnya, karena sang kakak sudah mengetahui sebelum dia mengatakannya.
"Alex Wijaya bisa melakukannya," ucap Alex bangga akan nama Wijaya yang bergabung dengan namanya.
"Ya…ya, lupakan itu!" kesal Eve yang tak ingin membahas nama Wijaya, karena selama ini nama itu hanya bisa membuatnya merasa terkekang. "Apa hebatnya nama itu? Nama Wijaya hanya menjadi bumerang saja, banyak musuh yang mengincar dan kehidupanku tidak berjalan dengan semestinya," gumamnya di dalam hati, mengeluh akan kehidupannya.
"Apa aku boleh pergi?"
"Kau tidak boleh pergi kemanapun." Tolak Alex tegas.
"Ayolah, sekali saja!" Eve berusaha untuk mendapatkan izin dengan cara membujuk, tak lupa mengerlingkan kedua matanya, menunjukkan puppy eyes andalan yang selama ini dapat meluluhkan Niko dan Niki.
__ADS_1
"Itu tidak mempan!"
Eve mendelik kesal dan merubah posisinya, menarik nafas dalam dan mengeluarkan secara perlahan, berguna untuk mengurangi emosi yang hendak meluap. "Kenapa kau sangat menyebalkan, Kak?" protesnya tak terima, mengerucutkan bibir karena sangat kesal dengan pria seperti robot juga dingin.
"Itu peraturan yang harus kau turuti, banyak musuh mengintai." Jawab Alex tanpa ekspresi.
"Apa dia ini robot? Tidak menunjukkan ekspresi apapun. Ya, walau hanya dengan hitungan jari saja." Batin Eve yang menertawai Alex dalam diam.
Eve terdiam memikirkan cara untuk kabur dari Mansion, tidak menutup kemungkinan jika dia akan segera ditemukan dengan cepat. Bahkan dia pernah ketahuan kabur melewati jalan rahasia yang terhubung di kamarnya. Tapi, jalan rahasia itu telah di blokir oleh kakak sepupunya, Alex. Dia tersenyum tipis, saat terlintas di benaknya perencanaan untuk menyelinap keluar dari Mansion. "Kau tidak bisa mencegahku, kak." Gumamnya di dalam hati.
"Ck, sekarang apa yang rencanakan?" batin Alex yang sangat jeli, apalagi dia memahami karakter dari adik sepupunya itu.
Mobil berhenti memecahkan lamunan keduanya, menuruni mobil dan melangkah masuk ke dalam bagunan yang beraksitektur klasik dan modern. Eve mengikuti langkah kaki kakaknya itu, kedua matanya menangkap dua orang pria tampan yang menunggu kedatangan mereka.
"Hah, hidupku sangat berwarna, apalagi dikelilingi oleh para pria tampan. Tapi, kenapa mereka semua terlihat menyebalkan!" gerutu Eve yang cemberut.
"Sekarang tugas kalian untuk menjaga Eve!" titah Alex yang kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Hem, Baiklah." Sahut Niko dan Niki serempak.
"Untuk mengawasimu," sahut Niko yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Kenapa aku seperti seorang tawanan?" gumam Eve sedih akan kehidupannya yang selalu diatur.
"Sabarlah! Jika semuanya membaik, kau segera mendapatkan keinginan mu." Niki mengelus rambut adik sepupunya dengan sangat lembut, tersenyum sekilas dan berlalu pergi.
Eve menatap punggung Niki yang mulai menjauh, menghela nafas berat. "Apa pilihanku untuk kabur adalah hal yang tepat? Sebaiknya aku bersabar. Ck, ini semua akibat kak twins N."
Di malam hari, mereka berempat berada di satu meja makan yang sama, melahap semua makanan yang tersedia. Eve melihat suasana yang pas untuk memecahkan keheningan itu. "Kak!" panggilnya, mendapatkan sorotan dari ketiga pria.
Eve menelan saliva dengan susah payah, menatap ketiganya secara bergantian. "Aku ingin keluar besok, apa boleh?" ucapnya yang ragu-ragu.
"Tidak boleh!" jawab Niko, Niki, dan Alex bersamaan kembali membuat keberaniannya menciut.
"Kau mau kemana?" tanya Niko penuh selidik.
__ADS_1
"Bersama siapa?" sambung Niki yang menyipitkan kedua matanya.
"Liam yang mengajaknya," jawab Alex tanpa menoleh.
"Apa kau bergurau, Eve? Kau menerima tawaran dari bocah sialan itu?" cetus Niko tak terima.
"Tidak bisa, bocah tengik itu sangatlah kurang ajar. Kalian tahu? Dia mengatakan jika aku ini pria tua dan rakus, jika bertemu lagi? Aku pastikan untuk memberikannya hadiah." Geram Niki yang mengingat kejadian saat dia makan di luar bersama Eve.
"Apa yang dikatakannya memang benar, jika kau terlihat tua juga sangat rakus. Terbukti berapa kali kau menambah makanan," ledek Niko yang tersenyum mengejek.
"Bukan rakus, melainkan menyimpan nutrisi dalam cara yang berbeda. Masalah tua? Kau bahkan terlihat tua, apalagi anu mu yang mengalami masa kadaluarsa." Balas Niki yang menunjuk kembarannya.
"Apa? Katakan saja kau iri padaku, karena selama ini kau tidak mempunyai kekasih."
"Sekarang aku dalam tahap memilah-memilih seorang wanita yang cocok sebagai pendamping yang akan dijadikan istri."
Kedua saudara kembar itu selalu saja berdebat dalam hal yang sepele, Alex tak menghiraukannya karena sering kali itu terjadi. Eve sangat kesal, karena pembahasan kali ini melenceng jauh. Menggebrak meja dengan keras menjadikannya pusat perhatian. "Berhentilah berdebat! Bagaimana dengan permintaanku tadi?" kesalnya.
"Tidak!" jawab ketiga pria tampan dengan kompak.
Eve menghela nafas seraya mengusap wajahnya kasar, beranjak pergi meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
Eve melempar tubuhnya di atas ranjang empuk, membenamkan wajah di bantal. Tak lama, terdengar suara dering ponsel dan segera mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Halo."
"Sudah beberapa hari ini aku membebaskanmu menjadi pelayanku, sepertinya kau melupakan kebaikan yang aku berikan. Aku menunggumu di apartemen!"
"Ck, aku bukan pelayanmu lagi."
"Aku tidak butuh uangmu itu, Eve Wijaya."
"Hentikan ini! Bukankah kau menginginkan uang ganti rugi ponselmu yang rusak? Jangan mempersulit masalah."
"Kita bicarakan hal ini di apartemen, aku menunggumu dan memberimu waktu satu jam untuk segera sampai ke sini."
__ADS_1
Sambungan telepon terputus secara sepihak, membuat Eve sangat kesal dan melempar ponselnya sembarang arah. "Kenapa para pria tampan sangatlah menyebalkan?" pekiknya seraya menendang salah satu sisi ranjang.