
Eve menatap aneh pada pria yang menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya, mengarah tatapan penuh penyelidik. "Kenapa dia ada di sini?" tanyanya sembari menunjuk Samuel.
"Hus, tidak boleh berkata seperti itu. Bersikaplah sopan pada kekasih mu, selera putri Mom sangat luar biasa." Ucap Lea yang menyambut kehadiran Samuel dengan baik, sangat berbeda dengan suaminya yang memandang pria itu sangatlah jelek.
"Sejak kapan aku mau menjadi kekasihnya?" cetus Eve yang melirik pria tampan itu dengan wajah masam.
Samuel tersenyum simpul, tidak diperlakukan baik oleh keluarga Wijaya selain dari ibunya Eve. "Akan aku jelaskan itu nanti saja, aku punya sesuatu untukmu!" segera dia mengeluarkan seikat bunga mawar merah di hadapan gadis itu, senyum mengembang karena sangat yakin.
Sungguh malang nasib Samuel, bukannya mendapatkan senyuman indah dari gadis itu, melainkan bersin. "Kau kenapa?" tanya Samuel sedikit cemas dengan kondisi Eve yang tiba-tiba mengalami bersin.
"Apa kau ingin membuat anakku alergi? Eve alergi pada bunga mawar!" umpat Abian yang sangat kesal, menjepitkan kepala pria malang itu di bawah pangkal lengan, lebih tepatnya di bawah ketiak.
"Sayang! Apa yang kau lakukan? Lepaskan dia!" Lea berusaha untuk membujuk suaminya yang ingin memiting pria malang itu.
"Auh…ampun calon mertua! Aku tidak tahu jika Eve alergi bunga mawar." Bujuk Samuel yang memohon ampun, dia kewalahan dalam menghadapi Abian.
"Lebih keras lagi, Dad!" sela Eve yang mengerjai Samuel.
Lea menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ayah dan anak itu bekerja sama menjahili Samuel. "Hentikan ini!" pekiknya yang tak punya pilihan lain, membuat drama itu juga terhenti. "Sayang! Jika kau kasar lagi? Maka kau akan menerima akibatnya!" ancamnya yang kesal dengan sikap sang suami.
"Dia membuat putriku bersin-bersin, lihatlah!" jawab Abian menunjuk Eve yang bersin.
"Alerginya akan menghilang dalam lima belas menit. Cepat! Lepaskan dia!" tegas Lea yang memelototi suaminya.
Abian sangat tahu dan memahami konsekuensi jika istrinya marah dan emosi, alamat akan tidur di luar kamar, dia tak ingin hal itu terjadi. "Baiklah!" pasrahnya dengan raut wajah tanpa dosa, menjitak kepala Samuel dengan keras dan melepaskannya.
Samuel meringis kesakitan, mengusap kepalanya dengan cepat dan menatap Abian dengan raut wajah yang teraniaya. Sementara Eve tertawa terbahak-bahak dan sesekali bersin. "Rasakan itu!"
Samuel yang merasa di pojokkan lebih memilih untuk duduk di sofa, menatap interaksi keluarga kecil di hadapannya. "Aku baru bertemu dengan sebagian kecil keluarga Eve, apa jadinya jika aku mengenal seluruh keluarga Wijaya? Astaga…tidak bisa aku bayangkan ini, bisa-bisa martabatku jatuh di hadapan mereka. Keluarga mereka sangatlah aneh bin ajaib," batinnya yang membayangkan di masa depan akan mengalami kesulitan jika Eve berada di cengkraman nya.
Keluarga kecil yang bahagia itu saling bersenda gurau, hampir dua jam mereka mengobrol membuat Samuel menghela nafas. Ingin sekali dia mengobrol dengan kekasihnya itu hanya berdua saja tanpa adanya sang pengganggu. Melirik jam yang melingkar di tangan, dengan raut wajah jenuh dan juga kesal. "Astaga…mereka selalu saja di sini." Umpatnya di dalam hati.
__ADS_1
Lea dan Abian memeluk putri mereka secara bergantian, kabar baik yang membuat Eve sangat bersemangat. "Apa Mom dan Dad berkata benar?"
"Tentu saja, semua keluarga akan pulang mengingat kondisi kakak Nathan dan kakek Bara sembuh dari sakitnya. Jangan lupa untuk menyambut mereka, kami ingin menyusul dan membantu mereka berkemas dan jagalah dirimu dengan baik." Jelas Lea.
"Baiklah, kapan semua orang akan pulang?"
"Satu atau dua hari."
Eve tersenyum senang dapat berkumpul dengan keluarga yang utuh. "Akhirnya Mansion akan kembali ramai."
Samuel kembali menghampiri Eve, senang ketika Abian akan pergi. "Tidak perlu dicemaskan, Mertua. Aku ada di sini dan akan menjaga Eve dengan sangat baik."
"Ck, katamu itu membuat aku ingin muntah saja. Untuk dua hari kedepan, aku memberimu izin untuk menjaga tuan putriku. Jangan sampai dia terluka, atau kau akan melihat sisiku yang lain." Ancam Abian yang sangat serius jika menyangkut urusan putri kesayangannya.
Samuel menelan saliva, mengingat niat awalnya mendekati Eve tidaklah baik. "Pasti!" sahutnya yakin, menganggukkan kepala dengan cepat.
"Bagus, berikan nomor ponsel dan juga identitasmu!" Abian menatap tajam, membuat yang di tatap semakin kalap.
"Aku kan mudah melacaknya, jika sampai dia melarikan diri!"
Demi mencapai tujuannya, Samuel terpaksa menyerahkan kartu identitasnya. Namun tangannya tak ingin melepaskan kartu itu di saat Abian menariknya.
"Lepaskan!" sarkas Abian yang memukul tangan pria itu.
Abian membaca kartu identitas milik pria tampan di hadapannya. "Wah, ternyata kau putra dari Matthew."
Lea segera menarik tangan suaminya yang bersikap seperti anak kecil, mengetahui jika Abian tidak bisa mempercayai orang asing untuk menjaga putri semata wayangnya. "Sebaiknya kita pergi, jangan menunda penerbangan ini dengan menyia-nyiakan energimu!"
"Tapi...aku belum selesai bicara pada pria berbulu itu, Sayang!"
"Kami pergi dulu, jaga putriku dengan baik." Lea tersenyum ke arah pria muda itu, dan menarik tangan suaminya agar memberikan ruang kepada Eve dan Samuel.
__ADS_1
Setelah kepergian sepasang suami istri itu, Samuel bernafas dengan lega. Sedangkan Eve mengamatinya, dan sesekali bersin. "Sejak kapan kita menjadi kekasih!" tanya nya penuh penyelidikan.
"Semenjak aku menolongmu!"
"Jadi kau menolongku dengan meminta syarat seperti itu? Siapa yang menyetujuinya?"
"Tentu saja Alex, dia menyetujui ini! Dan selama satu bulan penuh, kau akan menjadi kekasihku."
"Kenapa kak Alex tiba-tiba menyetujuinya? Apa maksud dari semua ini, sangat mencurigakan." Batin Eve yang sangat penasaran.
"Sepertinya kau masih ragu? Tapi tenang saja, aku akan menjelaskannya padamu." Tutur Samuel yang tersenyum senang melihat raut wajah Eve. "Julian merupakan orang terkuat, bahkan melebihi keluargamu. Aku menawarkan jasa dengan imbalan, jika kau akan menjadi kekasihku." Jelasnya.
"Astaga…kenapa mereka semua sangat menyebalkan!" umat Eve dengan kesal kepada twins N dan Alex.
"Mau tak mau, suka ataupun tidak. Kau tetap menjadi kekasihku selama sebulan penuh." Tekan Samuel tersenyum kemenangan.
"Ya baiklah, hanya sebulan. Itu tidak akan lama!"
Samuel membandingkan wajah gadis cantik yang ditemuinya di Cafe dengan gadis yang ada di atas brankar.
"Kenapa kau menatapku begitu?"
"Aku tak menyangka, jika gadis bak bidadari itu adalah dirimu."
"Lalu? Apa hubungannya denganmu!" cetus Eve santai, karena identitasnya sudah diketahui pria itu.
Samuel tak menjawab, segera dia melepaskan ikat rambut, dan kacamata milik Eve dan mengagumi wajah cantik yang melebihi kekasihnya terdahulu. "Karena kau sudah menjadi kekasihku."
"Hanya sebulan, dan tidak lebih." Ralat Eve dengan cepat.
"Itu tidak penting."
__ADS_1