Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 51 - Sembuhnya Ibu Samuel


__ADS_3

Di malam hari, Samuel berdiri di balkon menatap indahnya rembulan dan bintang yang bersinar cerah. Suasana hening yang memberikan ketenangan, meneguk minuman dingin seraya memikirkan kebersamaan dengan kekasihnya, Eve. 


"Dia gadis yang sama di Cafe, menutupi wajah cantiknya. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Jiwa keibuan yang dia miliki sangat membuatku tertarik, wanita berhati malaikat. Sepertinya aku menyukai Eve Wijaya, aku harus meluluhkannya dan melupakan balas dendam. Aku sangat senang hari ini, apa aku sudah mencintainya?" monolognya di mabuk asmara, niat untuk balas dendam berakhir terjebak dengan cintanya sendiri. 


Suara dering ponsel membuyarkan lamunannya, melihat siapa yang meneleponnya yang tak lain adalah sang ibu tiri. "Kenapa wanita ini menelponku?" gumamnya dan segera mengangkat telepon.


"Halo."


"Ada apa?"


"Bisakah kau ke Mansion? Suamiku sangat ingin bertemu denganmu!"


"Kenapa pria tua itu ingin menemuiku?"


"Kau tanyakan sendiri padanya."


Samuel memutuskan sambungan teleponnya, dia tidak ingin berbicara pada Manda, istri kedua sang ayah. Luka lama masih belum sembuh sepenuhnya, semua perlakuan yang ditorehkan sang ayah membuatnya tidak bisa memaafkan pria paruh baya itu. "Aku benci mereka!" pekiknya sembari meremas kaleng minuman dingin dengan kuat.


Samuel segera beranjak dari tempat itu dan menuju ke Mansion, dia ingin melihat drama apa yang kali ini dimainkan oleh istri kedua ayahnya. Mengambil kunci mobil, dan mengemudikannya dengan kecepatan penuh. Tak butuh waktu lama, mobil berhenti tak jauh dari Mansion milik keluarga Matthew.


Dia segera turun dari mobil dan masuk ke dalam, tak menghiraukan sambutan pelayan. Segera melangkahkan kaki menuju kamar sang ayah, membuka pintu dengan sangat keras. "Drama apa yang kau mainkan kali ini?" ucapnya to the point.


Semua mata menyorot kedatangan Samuel. "Kurang beretika!" sindir Manda yang melirik Samuel.


Samuel menghampiri ketiga orang, menatap sang ayah yang memintanya kesana. "Aku tidak punya banyak waktu, kenapa kau memintaku kesini?" desaknya seraya melirik jM di tangan. 


"Apa begitu yang diajarkan oleh ibumu?" ketus Manda membuat Samuel tersulut emosi. 


"Jangan bicarakan satu hal buruk pun mengenai ibuku, apa yang kau ketahui dari ibuku?"


"Ibu dan anak sama saja!" cibir Manda.

__ADS_1


Samuel tak menggubris ibu tirinya yang memperlihatkan wajah asli di hadapan semua orang, mengalihkan pandangan menatap pria yang terbaring di atas ranjang. "Apa yang kau inginkan?"


"Samuel, tolong maafkan Ayah!"


"Apa maafmu bisa memulihkan ibuku?"


Bramantyo terdiam, menundukkan kepala dengan penyesalan yang selalu di pikulnya. Anak yang dia sia-siakan sangat membencinya, bahkan tidak ingin berdamai dan menerima keluarga barunya. "Aku tahu, ini cukup sulit untuk menerima semuanya. Tapi kau harus menghadapi permasalahan dan bukan menghindar."


"Simpan saja nasehat itu untuk dirimu sendiri!" tekannya yang sarkas.


Suasana mencekam antara ayah dan anak, namun suasana kembali cair saat seorang wanita masuk dan menghampiri mereka. "Maaf, aku sedikit terlambat." Ujarnya dengan sopan.


Semua orang mengalihkan pandangan ke asal suara, terlihat seorang wanita cantik dengan tubuh semampai layaknya seorang model. Wanita itu melirik Samuel dan tersenyum, kagum dengan ketampanan pria itu yang memikatnya di pandangan pertama.


"Sofia! Akhirnya kau datang juga," sambut Manda yang menghampiri wanita cantik itu.


"Maaf, Tante. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan."


Samuel hanya terdiam dan tidak tertarik berkenalan dengan wanita itu, menyadari tindakan mereka yang hendak mendekatkannya. "Ada apa sebenarnya?"


"Begini, Ayah ingin kau menikahi Sofia. Dia gadis yang cantik dan juga berpendidikan tinggi, sangat cocok untukmu. Apa kau tahu? ibu tirimu lah yang merekomendasikan Sofia sebagai calon istrimu!" seru Bramantyo yang sangat bersemangat.


Samuel melirik Sofia yang diam-diam memperhatikannya, menatap ayahnya dalam. Memasukan jari-jari di saku celana samping, dan mendelik. "Apa kau dan istri barumu itu tidak puas menghancurkan kehidupan ibuku? Dan sekarang kau ingin mengatur hidupku? Kau dan istri barumu itu tidak mempunyai hak apapun," jelasnya yang menahan amarah.


"Tapi, Sofia adalah wanita yang sangat baik," sela Manda semakin membuat darah Samuel mendidih, dia sangat mengenal keluarga itu dan menguras hartanya.


"Aku tidak mengenalmu, begitu pula sebaliknya. Jika kau ingin, nikahkan saja putramu dengannya. Sangat mudah bagiku menemukan wanita yang lebih baik dari wanita ini!" tekan Samuel.


"Jangan bersikap kurang ajar, dia itu ibumu!" pekik Bramantyo yang membela istrinya.


Samuel menoleh dan tertawa mengikuti drama dari keluarga yang sangat dibenci. "Ibu? Dia bahkan tidak pantas disebut ibu." Cibirnya.

__ADS_1


"Jangan mengatakan hal yang buruk mengenai ibuku!" pekik Liam yang juga membela Manda.


Samuel bertepuk tangan. "Wow, akhirnya kau buka suara juga. Pria yang sangat polos, tertipu dengan wajah lugu dari ibumu itu."


"Sudah aku tegaskan!" 


Samuel tak menggubris, hati dan perasaannya sangat terluka dan tersenyum dengan takdir malangnya. "Kau bukanlah ayahku lagi, jangan mencoba untuk mengaturku, dan Kau! sebaiknya kau simpan saja saranmu yang tidak berguna itu." Tegasnya seraya berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


Sofia menundukkan kepala, penolakan dari Samuel membuatnya sangat sedih. Namun Manda tetap meyakinkan wanita itu untuk mendapatkan hati anak tirinya.


Samuel mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit jiwa, perasaan yang sangat marah dari mereka yang mengatur kehidupannya. "Brengsek! berani sekali mereka mengaturku!" umpatnya kesal seraya memukul stir.


Mobil berhenti di rumah sakit jiwa, segera turun dari mobil dan masuk ke dalam. Samuel mendorong pintu dan melihat seorang wanita yang melahirkannya sedang duduk. Berjalan menghampiri ibunya yang termenung dengan pandangan lurus ke depan.


"Ibu, Sam datang!" lirihnya pelan, cairan bening menetes dengan sendirinya melihat keadaan sang ibu. Memeluk ibunya erat, mencurahkan kesedihan yang dialami beberapa tahun saat sang ibu mengalami depresi. 


"Ini Sam, anak Ibu. Maafkan Sam yang baru menjenguk, tapi Sam janji! Akan selalu datang kesini." Ucapnya sambil menyuapi ibunya dengan buahan di atas nakas yang sudah dikupas.


Hati Samuel sangat rapuh, tidak ada tempat bersandar selain ibunya. "Sudah belasan tahun Sam tidak pernah mendengar dongeng dari Ibu, merindukan masakan Ibu, dan juga merindukan momen Ibu memarahi Sam saat bersikap nakal. berjuanglah demi Sam, Bu." Dia menangis sejadinya di telapak kaki sang ibu, membuat wanita paruh baya itu juga menangis. 


Samuel mendongakkan kepala saat menyadari beberapa tetes air mata mengenainya.


"Ibu?" 


Wanita itu tak menggubris, terus menangis saat mengingat luka yang sangat dalam di sebabkan oleh suaminya sendiri. "Kau siapa?" tanyanya yang menatap Samuel.


"Aku anak Ibu, Sam."


"Kau putra ku?" lirih wanita itu yang menangis.


Samuel menganggukkan kepala dengan cepat, menghamburkan pelukan hangat dari seorang ibu.

__ADS_1


__ADS_2