
Eve menatap tajam pria tampan di sebelahnya, merasa tak nyaman jika Samuel berada di dekatnya. "Bisakah kau menjauh?" ucapnya dengan sinis.
"Kenapa? Sekarang kita adalah pasangan kekasih." Sahut Samuel dengan santai.
"Ck, jangan ingatkan itu. Lalu, bagaimana dengan para kekasihmu itu?"
"Aku tidak peduli."
"Hah, kau pria yang sangat serakah." Cibir Eve dengan tatapan sinis.
"Tidak penting." Sahut Samuel tak menghiraukannya.
"Karena kau telah menjadi kekasihku, yang pertama harus kau lakukan adalah menghubungiku setiap saat, minimal dua jam sekali, laporkan aktivitas mu kepadaku. Kedua, jauhi pria lain terutama Liam. Ketiga, kita harus menjalani ini sebagai sepasang kekasih saling mencintai." Jelas Samuel membuat Eve menganga dan sesekali mengedipkan kedua matanya tak percaya.
"Apa kau gila?" protesnya tidak ingin mengalah.
"Lakukan hal itu dan jangan membantah."
"Jika aku tak ingin melakukan?"
"Kau segera kunikahi," jawab Samuel dengan santai dan tersenyum, membayangkan jika wanita yang di taksir adalah mantan pelayan cupunya.
"Baiklah, aku menerima tiga poin penting dalam peraturan itu, tapi tidak berjanji." Balas Eve tak ingin mengalah. "Dalam perjanjian satu bulan, kau tidak boleh berkontak fisik denganku. Tidak ada ciuman ataupun pegangan tangan, kedua jaga batasanmu. Ketiga, kau tidak boleh mengganggu privasiku!" balas Eve yang juga mengajukan syarat.
"Deal!" Samuel menjabat tangan Eve dan tersenyum licik. "Tapi, aku tidak janji!" batinnya.
Keduanya telah sepakat dan untuk saling mengikuti semua peraturan yang ada, tanpa berniat memberikan menyanggupi perkataan masing-masing. "Bukan sebulan, tapi dalam waktu seminggu aku akan membuatmu bertekuk lutut dan meninggalkanmu." Gumam Samuel di dalam hati.
"Kau pergilah! Aku hanya ingin sendiri saja." Cetus Eve yang mengusir kekasih nya itu.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena aku kekasihmu!"
"Hah, sangat menyebalkan." Gerutu Eve sembari mengambil ponselnya baru dengan semua data di ponsel lama sudah dipindahkan oleh Niki. Begitu banyak pesan singkat dari Liam dan juga Anita, membuka satu persatu yang menarik perhatiannya.
Samuel menatap kekasih barunya dengan wajah yang masam, seakan dirinya tak terlihat. Dengan cepat dia merampas ponsel yang membuat Eve tak menghiraukannya.
"Hei, kembalikan ponsel ku!" ketus Eve yang sangat kesal.
Samuel tak menghiraukan perkataan kekasihnya, membaca beberapa pesan dari Lian yang selalu menggoda Eve dengan kata-kata sedikit norak baginya. "Ck, bahkan aku lebih baik darinya." Cibirnya dengan sinis.
"Kita sudah sepakat, kemarikan ponselku!"
Samuel tetap tak menggubris, membaca satu persatu pesan dari Liam yang sangat mengharapkan cinta dari Eve. Karena sangat geram, dia menghapus nomor Liam dan memblokirnya.
Eve sangat kesal dengan tindakan Samuel yang sangat kurang ajar, ikut campur dalam urusan pribadinya. "Kemarikan ponselku!
"Ini ambillah." Samuel tersenyum senang dan menyerahkan ponsel kepada pemiliknya.
Eve sangat kesal dengan keberadaan Samuel yang semena-mena kepadanya.
__ADS_1
****
Satu hari kemudian, Eve sudah sembuh dan diperbolehkan pulang. Karena tak ada salah satu keluarganya tak membuatnya kecewa, sudah terbiasa dengan kondisi itu.
Baru saja dia ingin masuk ke dalam mobil, tiba-tiba merasakan tubuhnya melayang ke udara,melihat sang pelaku yang menggendongnya menuju mobil mewah yang terparkir tak begitu jauh dari mobilnya.
"Sam, lepaskan aku!"
"Kau memanggilku apa?"
"Sam, karena panggilan itu lebih baik."
"Apa itu semacam nama panggilan kesayangan untukku?"
"Tidak, cepat turunkan aku!" cetus Eve dengan jengah.
"Aku yang akan mengantarmu pulang ke Mansion!"
"Tidak perlu repot-repot untuk mengantarkan aku pulang."
"Kau kekasih ku!"
"Kekasih sebulan saja," ralat Eve yang menekannya.
Samuel membalasnya dengan senyuman khas, membantu gadis itu untuk masuk ke dalam mobil dan tak lupa memasangkan seatbelt, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Mansion Wijaya.
Eve terdiam dan tidak mendengar perkataan Samuel yang hanya memujinya saat berpenampilan modis, karena jenuh dan suntuk membuatnya segera memasang headset ke telinga, memutarkan musik favoritnya dengan volume sengaja di besarkan.
"Karena aku tidak suka dipuji, apalagi perkataan yang keluar dari mulutmu."
"Apa kau akan selalu ketus padaku?"
"Tentu saja, anggap ini ciri khas dariku. Jawab Eve asal.
Samuel menghela nafas dengan kasar, kembali fokus mengemudikan mobilnya. "Aku, Samuel Matthew! Bersumpah akan menaklukkan gadis angkuh ini dan membuangnya." Batin nya penuh tekad.
Mobil berhenti di sebuah bangunan mewah dan terlihat elegan. Samuel segera turun dan membantu kekasihnya dengan cara menggendong tubuh mungil. Namun, ekspresinya berubah sangat cepat saat melihat kedatangan Liam yang tengah berduri di depan pintu.
Saudara tiri itu saling melemparkan tatapan sengit, apalagi Liam yang semakin membenci Samuel. Dia segera menghampiri Eve, merindukan gadis cupu itu karena tak datang ke kampus. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya dan tak sengaja melihat kaki Eve yang meninggalkan bekas luka.
"Aku baik-baik saja, dan kau! Tolong turunkan aku!" ucap Eve yang menatap Liam beberapa detik dan mengalihkan perhatian menatap Samuel dengan jengkel.
"Baiklah." Patuh Samuel yang menurunkan Eve.
"Kau sudah mengantarkannya pulang, sekarang kau boleh pergi!" usir Liam melemparkan tatapan sinis pada rivalnya.
"Seharusnya kaulah yang pergi dari sini, tidak ada hak untuk mu mengusirku."
"Apa maksudmu?" Liam menautkan kedua alisnya dan sangat penasaran.
"Ya, jauhi Eve! Karena dia adalah kekasihku!"
"Kau pasti bercanda, karena itu sangat tidak mungkin."
__ADS_1
"Hanya kekasih sebulan saja!" sela Eve. "Sebaiknya kalian pergi dari sini, aku sangat lelah dan ingin beristirahat."
"Tapi aku belum mengobrol denganmu?" keluh Liam yang cemberut.
Eve tak menghiraukan kedua pria itu, dia sangat lelah dan segera menutup pintu, berjalan menuju kamar tanpa memahami perasaan dari Samuel dan Liam yang sangat terkejut dengan suara pintu yang dibanting keras. Tersenyum bahagia memikirkan kedua pria itu seraya menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuk, dan memejamkan kedua matanya.
****
Dua hari menyambut kepulangan keluarganya ke Indonesia, Eve mempersiapkan segalanya, mengingat telapak kaki yang sudah sembuh. Dia sangat bahagia, hingga tak bisa dikatakan lagi, apalagi Mansion kediaman Wijaya sudah lama kosong. Merindukan semua keluarganya, terutama sang kakek. Canda tawa, pertikaian, dan dan lelucon yang biasa dilakukan oleh keluarga nya, sangat merindukan momen itu.
Mansion dibersihkan oleh pelayan dengan sangat bersih, di pandu oleh Eve yang bersemangat memerintah sambil memakan cemilan keripik kentang di dalam toples. "Di sebelah sana masih berdebu, bersihkan bagian itu juga!" titahnya.
"Baik, Nona." Patus salah satu pelayan.
Terdengar suara notif di ponsel, membesarkan pupil karena terkejut melihat nama di layar ponselnya. "Lakukan dengan cepat! Mereka semua menuju kemari!" pekik Eve yang sangat histeris, segera meninggalkan keripik kentangnya dan berlari menuju pintu utama untuk menyambut kedatangan keluarga.
Bersambung..
...****************...
Sambil nunggu Erma up, kalian boleh mampir ke karya Meidina🥰🤭khusus genre horor nih!! Rekomendasi nih, yuk cekidot!😘
Judul: perjalanan mistis si kembar
penulis: Meidina
Eps14 (mengenali bau).
dari sebrang jalan rumah mereka, ada mahluk yang menyeringai karena panggilan dari Faraz.
sosoknya yang begitu seram dengan wajah penuh berbelatung, dan begitu banyak borok di lengan, tubuh dan wajahnya.
bahkan rambut hitam panjang yang acak-acakan, panjangnya sampai menyentuh tanah.
pay*d*r* yang menggelantung sampai sepaha, mahluk itu adalah Wewe gombel yang sering menculik anak-anak.
"errg..." suara mahluk itu yang tak bisa mendekat.
sedang dari dalam rumah, Arkan berdiri di depan pintu dan bisa melihat sosok seram itu sedang melihatnya.
Aryan meminta semua mengambil air wudhu untuk sholat dan Arkan akan berjaga terlebih dahulu.
"idih... Nini Wewe, ngapain di situ masih Magrib woi, mending minggir we," kata pocong yang selalu mengikuti Raka.
"diam..." suara Geraman itu terdengar menakutkan.
"jadi hantu jangan goblok ya, kamu gak akan bisa masuk, orang itu ada pagar ghaib, dan di dalam rumah itu bukan anak yang bisa kamu ganggu, jika tak ingin mati konyol, ha-ha-ha-ha," ledek pocong gosong itu.
"kamu saja yang pergi, aku ingin membawa mereka," kata Wewe gombel itu dengan marah.
tapi baru juga menabrak pagar gaib tangan mahluk itu terbakar, pocong itu pun tertawa melihat tingkah wewe gombel bodoh itu.
__ADS_1