
Di sepanjang perjalanan, pikiran Niki terus berputar mengenai kata-kata yang diucapkan oleh Samuel. Tidak tahu langkah apa yang akan diambil nantinya, hanya meminta pendapat dari Alex lah yang saat ini terlintas di otak.
Eve sedikit curiga dengan sikap Samuel, tidak bisa mempercayai pria itu sepenuhnya. "Kak!"
"Ada apa?" sahut Niki yang menoleh beberapa saat dan kembali fokus mengemudi.
"Jangan mempercayai Samuel, dia pria yang sangat licik."
"Kau benar, hanya saja kita tidak bisa mengelak dari fakta dan bukti."
"Apa Kakak punya rencana?"
"Saat ini ku belum mempunyai rencana, biarkan kami yang memikirkan ini. Jika Samuel meneleponmu? Ceritakan semua padaku apa yang dia bicarakan."
"Baiklah."
Eve kembali terdiam, melihat pemandangan diluar jendela. Dia tak menyangka, jika Julian menjadikannya target berikutnya. "Ada dendam apa pria itu padaku?" gumamnya di dalam hati seraya berpikir keras.
Tak lama, mobil berhenti di bangunan mewah. Mereka segera turun dari mobil menuju masuk ke kediaman Wijaya.
Eve melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya, menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk. "Aku akan bersikap netral pada Julian, tidak ingin jika pria itu curiga. Menurut informasi yang diberikan Samuel, jika dia orang kaya bahkan kekayaannya melebihi keluargaku. Lalu? Apa yang dia inginkan?" monolognya.
Suara ketukan pintu membuyarkan segalanya, segera berjalan menuju pintu dan membukakan nya. Pria tampan tanpa ekspresi menatapnya dengan sorotan tajam, kedua tangan yang di selipkan ke saku celana samping. "Cepat turun, kita harus membicarakan ini."
"Baik, Kak." Eve melangkahkan kaki dengan gontai keluar dari kamar menuju lantai satu, terlihat para pria tampan yang menunggu kedatangannya.
"Jangan diam saja, kemarilah!" ucap Niko.
"Hem." Eve menghampiri para pria tampan dengan penuh tanda tanya, dia tidak tahu pembahasan apa yang akan dibahas oleh Alex, selaku pemimpin keluarga Wijaya. "Ada apa?"
"Duduklah!" Niki mempersilahkan Eve untuk duduk di sebelahnya.
Eve mengikuti perkataan mereka dan terlihat sangat canggung, saat semua orang menatapnya dalam waktu lama. "Hentikan kontes saling menatapnya, ada apa?"
"Kau pasti tidak bodoh, kenapa aku memintamu untuk ke sini!" sahut Alex.
"Apa ini masalah Julian?"
"Yap, akan ada banyak mata-mata dan juga orang yang mengawasimu dari kejauhan." Seloroh Niki.
"Lalu?"
"Menjauh dari Julian, dia pria yang sangat berbahaya. Bahkan Alex pernah bertarung dengan pria itu, kondisi saat itu dia memakai topeng separuh wajah." Jelas Niko yang sudah mengusut pria yang mengancam keselamatan Eve.
"Wajahnya terlihat sangat lugu, tapi seorang psikopat." Gumam Eve yang menggelengkan kepala.
"Kami ingin kau mengasah kemampuanmu, jangan sampai paman dan bibi tahu." Sambung Alex yang masih menyelidiki kenapa Julian menargetkan Eve.
__ADS_1
"Baiklah, jika itu keinginan kalian bertiga! Aku akan mematuhinya, selama tidak bertentangan dengan konsep ku."
"Dan kau juga harus waspada, karena musuhmu bukan hanya Julian." Terang Alex mengingatkan.
"Kenapa harus aku? Kenapa tidak kak Niko saja yang di targetkan?" gerutu Eve yang cemberut, semakin mengerucutkan bibirnya saat mendapat jitakan kepala dari Niko yang geram. "Sakit, Kak!" ketusnya.
"Dasar anak kecil kurang ajar! Heh, aku sangat penasaran siapa yang akan menjadi suamimu kelak, pasti dia pria yang sangat menyedihkan."
"Akan aku lihat, siapa yang bertahan dengan seorang cassanova sepertimu, Kak." Balas Eve, hingga terjadilah pertengkaran antara kakak adik.
"Bisakah kalian diam?" Alex menatap kedua pelakunya dingin. Keduanya terdiam, karena Alex sangatlah kejam dan juga sang kakek telah memberikan tanggung jawab besar kepadanya.
"Apa aku boleh pergi besok? Hanya sebentar saja." Celetuk Eve yang masih mengingat janji dengan Liam.
"Tidak!" tegas Niko dan Niki.
"Pergilah!" jawab Alex yang membuat twins N melongo, tak percaya jika sepupu mereka mengatakan hal itu.
"Apa kau bercanda?"
"Sudah jelas banyak musuh dan kau masih mengizinkan Eve keluar?"
"Aku tahu apa yang aku lakukan, percayakan saja padaku!" ucap Alex. Memberikan Eve izin hanya ingin melihat pergerakan musuh yang bahkan lebih berkuasa dari keluarganya.
Eve melompat kegirangan, memeletkan lidah mengejek kedua kakaknya. Segera menghamburkan pelukan pada Alex dan berlari untuk masuk ke dalam kamar.
"Umpan."
"Apa aku tidak salah dengar? Menjadikan Eve sebagai umpan?" protes Niko seraya mengepalkan tangan.
"Itu benar."
"Kau kakak yang seperti apa, hah? Mengorbankan Eve demi mencapai tujuan."
"Ck, kalian sangat berlebihan. Sebaiknya kita ke markas untuk membahas hal ini," seloroh Alex.
"Tidak, jelaskan saja di sini!"
"Bahkan dinding pun bisa mendengarnya."
****
Eve mengusap wajahnya dengan kasar, sangat terbebani dengan masalah yang baru saja dimulai. Lamunan nya terhenti saat mendengar suara dering ponsel yang berbunyi, melihat siapa yang meneleponnya di malam hari.
"Halo, sayang. Apa kau masih mengingatnya?"
"Darimana kau mendapatkan nomor ponselku?"
__ADS_1
"Itu tidaklah sulit, saat kakak ipar mengatakannya. Lebih tepatnya keceplosan!"
"Hem, aku masih mengingatnya."
"Itu bagus, aku ingin kau berdandan sangat cantik."
"Jika kau mengaturku? Sebaiknya kita batalkan saja pertemuan itu."
"Kau sangat galak, tapi aku tetap mencintaimu."
"Aku mengantuk."
"Selamat beristirahat, sa__."
Belum sempat Liam melanjutkan ucapannya, Eve lebih dulu memutuskan sambungan telepon.
****
Liam sangat senang bisa membawa Eve menghabiskan waktu bersama, dia ingin gadis itu mengenal dirinya. "Kau ingin membawaku kemana?" tanya Eve menatap wajah Liam yang fokus menyetir.
"Ke suatu tempat."
"Cepat katakan! Kau membuatku penasaran."
"Jika aku mengatakannya, itu tidak akan seru."
Eve mendelik dia sangat penasaran kemana pria itu membawanya, tak lupa beberapa pengawal yang terus mengawasinya.
Sementara seseorang tersenyum saat melihat semuanya dengan sangat jelas, memantau sang target tanpa dicurigai oleh para pengawal. "Mereka sangat bodoh, tapi aku tidak peduli. Mangsa ada di depan mata, waktunya beraksi." Gumamnya.
"Kosong tiga!" panggil pria itu.
"Iya, Tuan."
"Minta para anggota inti menghadang mobil dan alihkan perhatian!"
"Baik, Tuan."
"Bagus, jangan lupa blokir semua sistem yang bisa dilacak oleh Niki."
"Laksanakan, Tuan."
Julian tertawa jahat, dia mengetahui semuanya. Bahkan informasi data dirinya yang sudah bocor dan tidak tahu siapa dalangnya, dia sangat marah dengan kejadian keteledoran para karyawan yang sekarang hanya tinggal nama.
"Aku tidak ingin, jika kerja kerasku selama ini hanya sia-sia. Melangkah maju dan menyerang lawan!" monolognya seraya menghembuskan asap rokok.
Eve merasakan ada yang aneh, namun berpikir positif. "Mungkin hanya firasat ku saja!" batinnya yang mulai gelisah.
__ADS_1
Liam melirik Eve dengan tatapan bingung, tak mengerti apa yang di pikirkan oleh gadis cupu di sebelahnya.