
Setelah mencoba gaun dan juga jas, mereka melihat cincin pernikahan di toko terkenal di kota. Tempat yang sangat mewah dan berkelas, hanya mampu dibeli oleh kalangan atas saja. Mata Eve langsung berkilau saat melihat deretan cincin yang sangat memanjakan matanya, kagum dengan benda kecil itu namun tidak memperlihatkannya kepada orang lain. "Deretan cincin itu sangat indah, tapi semua perhiasan di toko ini sangat fantastis." Batinnya memuji kekaguman.
"Pilihlah salah satu cincin yang kau sukai untuk di jadikan cincin pernikahan, atau kau sendiri yang merancangnya juga tak masalah," seru Samuel yang memecahkan konsentrasi gadis di sebelahnya.
Beberapa orang berdatangan untuk melayani tamu dan pengunjung, apalagi Samuel merupakan pemilik tempat itu dan disambut dengan sangat baik. Mereka menawarkan desain terbaru sampai limited edition, berharap sang atasan puas dengan pekerjaan mereka.
"Selamat datang Tuan dan Nona, kami memperlihatkan perhiasan unik dan pastinya sangat cocok untuk pasangan serasi seperti kalian. Beberapa desain yang dipilih dan tentunya sangat nyaman dipakai." Ucap salah satu kepala toko yang sangat antusias, memperlihatkan pekerjaan dengan sangat baik di hadapan atasan, tak lupa senyuman yang menghiasi wajah.
"Hem, berikan aku cincin limited edition dan beberapa desain cincin pertunangan!" titah Samuel dingin dan kembali tersenyum saat melihat gadis di sebelahnya yang begitu tertarik dengan perhiasan. "Sepertinya kau menyukai semua perhiasan itu, jika kau ingin aku akan memberikannya padamu."
Eve mendelik kesal karena merasa terusik, menoleh ke sumber suara. "Apa kau berniat menjadikanku toko berjalan? Bagaimana aku memakai semua perhiasan itu?"
"Kau memakainya dan mengganti satu jam sekali, atau seluruh perhiasan ini akan aku pindahkan ke kamarmu. Apa kau menyukainya?"
Eve menepuk keningnya mendengar kekonyolan dari pria itu. "Aku tidak tertarik, dan alasan keduanya banyak orang yang akan mengintai ku untuk merampok semua perhiasan yang aku pakai. Sudahlah, kau tidak akan mengerti."
Samuel terdiam dan membuka ponselnya, begitu banyak email yang dikirimkan oleh sang asisten dan membalasnya untuk meringankan beban. Sedangkan Eve mencoba cincin limited edition, kali pertama dia tertarik dengan perhiasan. "Aku tidak menyangka, jika semua perhiasan ini sangat indah. Ide yang di berikan Sam lumayan juga, sebaiknya aku memborong nya. Sedikit memberi pria itu pelajaran agar tidak bertindak sesuka hatinya. Perhiasan itu terlihat mahal, aku akan mengambilnya." Batinnya tersenyum licik.
"Jadi bagaimana? Desain cincin mana yang Nona sukai?" tanya salah satu karyawan menatap Eve sambil tersenyum.
"Aku menyukai cincin putih yang di tengahnya ada permata kecil ini, dan juga semua perhiasan di sini. Tolong, bungkuskan semuanya untukku!" ucapan Eve berhasil membuat seluruh karyawan syok, tapi mereka menanggapinya dengan senyum karena akan diliburkan bekerja beberapa hari.
"Baik, Nona. Kami akan membungkus semuanya!"
"Satu lagi, aku ingin kalian membungkusnya dengan kresek hitam." Ucap Eve yang nyeleneh semakin membuat semua karyawan syok.
__ADS_1
"APA?" semua karyawan itu tercengang mendengar permintaan dari Eve, karena para pengunjung yang datang malah meminta untuk membungkusnya dengan sangat indah juga berkelas. Bahkan salah satu karyawan cegukan, mereka tak memahami tindakan yang seperti baru saja merampok perhiasan di toko mewah dengan cara elegan dan berkelas.
"Tidak ada kresek hitam, Nona." Ujar salah satu karyawan yang tersenyum paksa.
Eve menatap para karyawan satu persatu. "Mulai sekarang kalian harus menyediakan kresek hitam, karena itu multifungsi dan sangat berguna."
"Selanjutnya kami akan menyediakan kresek, bisakah kali ini kami membungkus semua perhiasan itu dengan indah?"
"Hem, tidak. Aku ingin sesuai permintaanku, jangan lupa kresek hitam."
"Baik Nona, akan kami cari hingga dapat." Para karyawan di sana kelimpungan mencari kresek hitam untuk calon istri dari atasan mereka yang sangat aneh. Berdesakan untuk mencari kantong kresek yang cukup sulit menemukannya di sekitaran.
"Bagus." Sahut Eve dengan angkuh sambil menatap Samuel yang sedari tadi berkutat di ponsel mahal. "Sepertinya ucapan Sam benar, aku harus memborongnya dan membuat pria itu rugi." Batinnya yang tidak tahu, jika tempat itu adalah salah satu cabang milik calon suaminya.
Jangan tanya permintaan aneh dari Eve, karena keturunan Wijaya memang terkenal akan keanehan mereka yang sungguh ajaib. Sebuah kebiasaan yang pernah dilakukan oleh pamannya, Al dan juga El. Tapi kali ini cukup berbeda, karena sekelasnya dengan perampok kecil.
"Eh, cincin apa yang seperti apa kau inginkan?" sahut Samuel yang terkejut, menatap asal suara dan tersenyum.
"Cincin putih dan diatasnya terdapat mutiara."
"Wah…pasti sangat indah." Puji Samuel dan kembali memperhatikan para karyawan yang berdesakan. "Kenapa semua karyawan itu seakan tertekan?" gumamnya tampak berpikir, namun dia menepis pikiran itu karena hatinya sangat berbunga-bunga, sebentar lagi Eve akan menjadi istrinya.
Samuel memasukkan kembali ponselnya dan tak ingin benda pipih itu merusak momen kebersamaan mereka, berusaha merayu sang calon istri dengan kata-kata cinta agar luluh dan jatuh cinta padanya.
"Aku sangat senang dan tak menyangka, jika boneka santetku akan menjadi istriku."
__ADS_1
Seketika Eve tersenyum kecut. "Mudah saja, batalkan lamaran itu."
"Eh, aku belum menyelesaikan perkataanku. Maksudku dunia ini sangat aneh, dan aku tidak menduga jika aku mencintaimu hanya waktu sehari saja. Karaktermu membuatku sadar akan suatu hal penting, kebahagiaan dalam tindakan kecil yang menyenangkan. Aku menyukai sifatmu," jelas Samuel dengan tulus sembari menatap manik mata indah yang menghipnotisnya.
Eve memaksakan dirinya untuk tersenyum, karena sejatinya pernikahan yang akan dilangsungkan dua hari lagi membuatnya tidak siap menerima kenyataan. "Tapi aku belum mencintaimu."
"Aku akan memupuk cinta itu setelah menikah, dan aku pastikan kau tidak ingin lepas dariku."
"Kau begitu percaya sekali," ujar Eve yang tertawa renyah.
Samuel menyentuh pipi calon istrinya dan mengusap dengan sangat lembut. "Itulah aku, percaya akan tekadku sendiri. Oh ya, kenapa para karyawan itu berdesakan?"
"Karena aku mengubah keinginanku dan memikir ulang mengenai perkataanmu."
"Aku tidak mengerti," Samuel mengerutkan kening karena tak tahu mengenai perkataan yang mana, begitu banyak perkataan yang keluar dari mulutnya.
"Untuk memborong semua perhiasan, setelah aku berpikir ulang. Sepertinya ucapanmu itu sangat benar, mulai sekarang aku akan mengoleksi perhiasan. Apa kau keberatan calon suami?"
Samuel tersenyum, dia sangat gemas dengan calon istrinya dan ingin menciumnya. "Apapun keinginanmu, Baby!"
"So sweet." Eve tak punya pilihan dan terpaksa untuk menerima kenyataan yang ada, jika pria di sebelahnya akan menjadi suaminya.
"Ini Nona!" ucap salah satu karyawan yang memberikan dua kresek besar berwarna hitam, membuat momen manis itu terhenti.
"Apa itu?" tanya Samuel yang sangat penasaran dengan isi dari kresek hitam.
__ADS_1
"Nona Eve meminta kami untuk membungkuskan semua perhiasan menggunakan kantong kresek berwarna hitam."
"APA?"