
Suasana semakin memanas, di tambah lagi asisten sekaligus tangan kanan sang psikopat yang hendak menusuk sebuah suntikan hampir mengenai Niko, untung saja mempunyai refleks yang sangat. Niko segera menahan menggunakan seluruh kemampuannya, mereka saling mengarahkan jarum suntik agar mengenai lawan.
Julian menatap Samuel yang berani menghalanginya, mereka berdua bertarung dengan sengit. "Cepat bawa Eve pergi!" teriaknya yang menahan serangan pria psikopat itu.
Niki mengangguk, segera menggendong sang adik untuk pergi dari tempat itu, kaki yang terus mengeluarkan darah segar membuatnya tak sadarkan diri. Sedangkan Alex melawan beberapa anak buah yang berani mengacaukan pertarungan itu.
Julian menatap kepergian Eve dengan sendu, guratan kesedihan dan kemarahan bercampur menjadi satu. "Jangan bawa dia pergi dariku!" pekiknya.
"Selesaikan dulu pertarungan ini!" sela Samuel yang menendang perut pria malang itu, melawan sang psikopat tanpa ada mengacaukan nya.
"Brengsek!" Julian segera berlari dan melayangkan pukulan di wajah Samuel yang meninggalkan bekas.
Akhirnya Niko berhasil melumpuhkan sang asisten, hingga beberapa detik pria itu tewas dengan tubuh yang mulai kebiruan, akibat racun yang sangat mematikan. "Hah, itulah akibatnya jika bermain-main dengan ku!" ucapnya sombong seraya membenarkan baju yang sedikit berantakan.
Alex yang diam menonton aksi mereka, dengan cepat dia berlari mencari sesuatu yang pernah direbut oleh pria itu. Julian yang mengerti, berusaha untuk mengejar. Tapi aksinya di halangi oleh Samuel yang menginginkan duel untuk menentukan siapa pemenangnya, sekaligus membuktikan kepada anggota Wijaya.
"Kau mau menyusul Alex? Hadapi aku dulu!"
"Ck, minggir lah!"
"Tidak." Tolak Samuel yang tersenyum tipis.
Alex segera berlari ke ruangan kerja Julian, mengutak-atik laptop dan meretas sebuah data yang pernah dicuri oleh pria itu. Dengan cekatan membobol data dan menghapus program persenjataan yang pernah dia rancang sendiri, mencolokkan flashdisk yang berisi virus yang mampu membuat pria terkaya itu menjadi miskin seketika. "Kau mencuri data senjataku dan juga menculik Eve, terimalah hukumanmu!" gumamnya yang tersenyum tipis.
Tak lupa dia memberikan sinyal kepada ketiga pria yang tengah bertarung untuk segera pergi meninggalkan tempat itu, sebelum meledak.
Niko dan Samuel saling melirik, menganggukkan kepala dengan pelan, mereka segera pergi meninggalkan Julian yang terluka sangat parah dan hampir sekarat. Mereka bergegas keluar dari sana menggunakan teknik parkour, melompat dan meringankan tubuh dengan sangat baik.
Terdengar dentuman yang sangat besar, kobaran api yang menyala hampir saja menyentuh ketiga pria itu. Mereka semua tiarap dan melindungi wajah untuk beberapa saat setelah api sedikit menjauh. Menyusul pria yang sudah berdiri tak jauh dari mereka, menatap bangunan mewah yang di lahap habis oleh kobaran api.
"Inilah akibatnya jika bermain-main dengan keluarga Wijaya," celetuk Niko membuat Samuel terbatuk. "Kau kenapa?"
__ADS_1
"Mungkin karena debu yang tak sengaja aku hirup."
Niko hanya mengangkat bahu dengan acuh, tak menghiraukan hal itu. Sementara Alex menatap Samuel dan mendekatinya. "Terima kasih mengenai bantuanmu."
"Tidak masalah, jangan lupakan kesepakatan kita."
"Aku berpegang teguh pada janji."
"Apa itu artinya kau menyetujui kuda nil ini menjalin hubungan dengan Eve?" sela Niko tak terima.
"Tentu saja, Kakak ipar!" sahut Samuel dengan cepat.
"Hah, tiba-tiba perutku menjadi mulas setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulutmu, sangat menjijikkan!" tukas Niko yang segera pergi meninggalkan tempat itu.
"Tunggu aku!" pekik Samuel yang menyusul Niko.
Alex melihat interaksi mereka dan tersenyum tipis dan licik. "Musuh pertama Eve telah mati, aku akan membunuh mereka yang berani mengusik keluargaku." Gumamnya ingin membunuh siapa saja orang yang mengincar keluarganya, tak pandang bulu, menerima kesepakatannya bersama Samuel membuatnya lebih mudah menggapai tujuan.
Suara tamparan terdengar begitu nyaring dan menggema, menatap ketiga pria yang tidak becus menjaga Eve dengan sangat baik. Sorotan mata tajam mengarah kepada twins N dan Alex penuh kemarahan. "Aku mempercayai kalian untuk menjaga Eve, tapi apa ini? Kenapa dia terluka cukup parah? Apa keahlian yang kalian miliki tidak berfungsi?" ucapnya dengan nada tinggi.
Abian dan Lea segera pulang menuju rumah sakit Wijaya, mereka sangat terkejut dengan berita anak semata wayang yang belum sadarkan diri. Melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa, mengkhawatirkan kondisi Eve. Setelah menanyakan kronologi dari kejadian yang menimpa putrinya, kemarahan sebagai seorang ayah tak bisa dibendung dan menampar keponakannya dengan keras.
"Dan kau! Berani sekali kau menjadikan Eve sebagai umpan hanya ingin menyelamatkan data mu saja? Sangat memalukan." Sarkas Abian yang menunjuk Alex dengan tatapan tajam.
Ketiga pria itu tak berani mengatakan sepatah katapun, karena di sini merekalah yang lalai dengan amanat sang paman. Diam-diam Alex melirik Lea menangis yang terpukul dengan kondisi putri semata wayang mereka.
"Semua ini salahku, seharusnya aku tak meninggalkan Eve dan menitipkannya kepada tiga pria yang tidak berguna!" Abian juga menangis dan terduduk.
Pintu terbuka memecahkan suasana itu, seorang pria berjas putih datang menghampiri keluarga Wijaya. "Kalian tidak perlu khawatir, luka di telapak kakinya akan hilang dalam beberapa hari."
"Jadi, kondisi Eve tidak serius?" desak Niki yang sangat khawatir. Sementara Abian sangat jengkel mendengar perkataan dari keponakannya, segera berdiri dan menjitak kepala pria itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu mengatakan itu, hah?"
"Aku hanya bertanya, kenapa Paman malah menjitakku?" sedih Niki sembari mengelus kepalanya.
"Tidak ada yang perlu dicemaskan." Sela sang dokter.
"Lalu, kenapa Eve tidak sadarkan diri? Cepat kau periksa sekali lagi," titah Abian yang benar-benar mencemaskan putrinya.
"Itu karena dia kelelahan, dan tertidur."
"APA?" ucap mereka dengan serempak, tak percaya mengenai informasi yang dikatakan dokter.
"Itu memang benar, saya permisi dulu!"
Mereka tidak menghiraukan sang dokter, perasaan yang tadinya sangat sedih berubah menjadi jengkel. "Aku mengira jika Eve pingsan, dan ternyata dia hanya tertidur saja?" monolog Niki yang mencerna kejadian itu.
Seketika tangisan histeris Lea terdiam, karena sangat malu membuatnya terus menangis dan menghampiri ketiga keponakannya. "Kalian semua sangat keterlaluan, apa ini yang kalian ajarkan pada putriku?"
"Apa yang Aunty maksud, kami__."
"Diam! Aku tak ingin mendengar apapun lagi, sebaiknya kalian pergi dari sini!" usir Lea yang menyela perkataan Niko, serata menangis di pundak sang suami.
Akhirnya twins N dan Alex memutuskan untuk pergi dari tempat itu menuju kantin rumah sakit, mengisi perut yang sedari keroncongan.
"Bahkan tamparan itu masih membekas di wajahku, ini sangat keterlaluan!" Niki menggebrak meja yang ada di hadapannya, membuat Niko tersedak bakso.
"Uhuk!" Niko berusaha memberikan isyarat agar kedua sepupunya membantu.
"Kau kenapa?" tanya Niki dengan polos.
Alex mengerti bahasa isyarat yang diberikan Niko, segera berdiri dari duduknya dan membantu sang sepupu yang tersedak. Akhirnya bakso keluar dari dalam mulut sang korban dan tak sengaja mengenai wajah Niki.
__ADS_1