
Julian lebih dulu menyerang Samuel menggunakan tangan kosong, tidak ada senjata untuk membunuh lawan dengan sangat cepat. Pertarungan dari dua pria tampan tepat di hadapan Eve yang hanya melihat sedikit menjauh sesuai perkataan mantan majikannya.
Samuel menyerang titik lemah musuhnya, tapi lawannya cukup sulit untuk dilumpuhkan. Namun, semangatnya kembali berkibar saat mengingat kejadian tadi. "Lancang sekali kau menodai Eve!" tekannya seraya melayangkan pukulan yang sangat kuat, hingga darah segar keluar melalui hidung pria berlesung pipi.
"Brengsek!" umpat Julian yang menyeka darah di hidungnya, menatap Samuel penuh kebencian. Melakukan serangan balasan, menggunakan teknik kuncian dan memukul tulang kering musuhnya.
Samuel berteriak kesakitan, saat musuhnya berniat untuk melumpuhkan kaki dengan menyerang saraf. Membalikkan keadaan dan menindih tubuh pria itu, memukulnya secara bertubi-tubi tanpa meninggalkan celah. "Sekarang kau terlihat seperti seekor tupai." Ledeknya sembari menarik dua sudut bibir ke atas.
Pertempuran semakin sengit saat keduanya hampir sama, tiba-tiba seseorang datang menodongkan pistol ke arah kepala Eve. "Berhenti atau gadis ini aku tembak!" ancam sang asisten yang membela Julian sebagai bosnya.
Kedua pria itu berhenti bertarung, Julian sangat senang dengan kedatangan asisten yang selalu dapat diandalkan. "Kau akan menerima akibatnya, turunkan pistolmu itu!" ucapnya dengan lantang.
"Bagaimana jika kita melakukan negosiasi, aku tidak akan menembak Eve dan sebagai gantinya adalah nyawamu."
Samuel tampak berpikir dan menatap mantan pelayannya. "Kau berhutang padaku!" ucapnya tegas.
Tidak ada rasa takut menyelimuti raut wajah Eve, dia tetap tenang dan tertawa melihat Samuel. "Ya, itu jika kau hidup."
"Aku tidak selemah itu!" cetus Samuel yang sangat kesal.
"Kau fokus pada pria itu dan jangan khawatirkan aku!"
"Apa kau yakin?" Samuel seakan menatap gadis itu rendahan dan tidak bisa melakukan apapun selain menjerit minta tolong.
"Ck, hadapi musuhmu. Jika kau berkata lagi? Maka kau hanya tinggal nama." Ancamnya tak main-main.
"Tidak perlu mengajariku!" Samuel kembali berkonsentrasi dan menyerang Julian, berdual dan menentukan siapa pemenangnya.
__ADS_1
Sedangkan Eve menatap secara live, asisten sang pria berlesung pipi yang mengancamnya, perkelahian yang membutuhkan banyak energi. Dia memutuskan untuk membantu mereka dan melupakan yang terluka. Tak lupa untuk menggerai rambutnya dan melepaskan kacamata, tak lupa dengan behel untuk memudahkan bertarung bebas menggunakan tangan kosong. "Mari kita bermain!" gumamnya tersenyum membuat sang asisten menatap penuh keheranan.
Celah yang di dapat dengan kesempatan di depan mata membuatnya tak menyia-nyiakan, meraih pistol di genggaman pria itu dan menodongkannya untuk membalikkan keadaan. "Masih ingin mengancamku?" ucapnya tersenyum miring.
"Kau pikir apa?" pria itu mendekati Eve, hendak menikam nya menggunakan belati yang selalu dibawa.
Mereka saling menyerang satu sama lain, perkelahian yang hampir dimenangkan oleh asisten pria psiko, memanfaatkan telapak kaki Eve yang mengeluarkan darah segar. Hal itu membuat sang empunya tidak bisa bergerak luas, pergerakan menjadi lambat.
Betapa terkejutnya Samuel saat matanya menangkap darah segar di lantai, pergerakan ilmu seni beladiri Eve yang mumpuni, tapi yang paling membuatnya sangat syok adalah melihat tampilan gadis itu persis seperti gadis di dalam Cafe. Lamunan nya terhenti saat Julian mengambil kesempatan dan menumbangkannya, bahkan sang asisten juga menang dalam pertempuran itu.
Terdengar suara tawa jahat yang mengelegar, menggema di dalam ruangan itu, segera mengikat Samuel ke sebuah tiang. Setelah selesai, dia berjalan mendekati Eve yang menatapnya penuh kebencian. "Oho, jadi kau sudah merencanakan ini, Sayang? Aku sangat terkesan. Sesuai perkataanku sebelumnya, kedua kakimu akan aku potong!"
Samuel dan Eve terkejut mendengarnya, mereka gagal dalam melawan sang pria psikopat yang tentunya sangat hebat. "Jangan lakukan itu!" pekiknya dengan lantang.
"Kau tidak boleh boleh pergi dari Mansion ini, karena kau adalah milikku. Aku pastikan kita segera menikah!"
Namun ucapan mereka tak di hiraukan Julian yang lebih tertarik menggunakan sebuah pisau kecil dan juga sangatlah tajam, tersenyum penuh arti. Dia menyentak salah satu kaki Eve untuk menusuknya hingga lumpuh dan kemudian memotongnya.
Aksinya terhalangi saat Samuel menendang pria itu hingga terjerembab, berhasil meloloskan diri dengan sangat mudah. "Kau tidak bisa menyakitinya lagi!" melirik sebuah tongkat bisbol yang tak berada jauh dan mengayunkan nya dengan penuh keyakinan.
Kedua pria itu kembali bertarung secara jantan, mengadu kekuatan dan keahlian masing-masing. Sementara Eve hanya menyaksikan tanpa berbuat apapun, darah yang terus keluar dari telapak kakinya.
Keadaan semakin memanas, saat dua orang pria melawan satu orang dengan bebas membuat Eve sangat geram. Perkelahian yang tidak seimbang membuatnya merasa bersalah.
Bala bantuan datang, Niko dan Niki menyeret sang asisten dan mulai mengeroyoknya. Alex menggendong Eve dan hatinya perih saat melihat kondisi sang adik sepupu, merasa bersalah karena rencananya kali melukai gadis cupu itu. "Maafkan aku!"
"Kalian bertiga harus mendapatkan hukuman, dengan begitu aku dengan suka rela memaafkan kalian."
__ADS_1
"Gadis nakal!" ucap Alex tang menarik hidung Eve dengan sangat lembut.
"Walaupun kalian bersatu, tidak akan membuat aku kalah." Sombong Julian yang mengeluarkan rencana berikutnya, sebuah bambu kecil yang berisi jarum yang telah dilumuri bisa ular dan menusuknya saat menyerang.
Alex menurunkan tubuh adiknya penuh hati-hati, menghampiri Julian dan menamparnya dengan keras. "Itu akibatnya, jika kau menyakiti adikku."
"Kita bertemu lagi, Alex!" racau Julian tersenyum penuh aksi.
"Kenapa kau mengincar adikku?"
"Hah, aku sangat malas mengatakannya. Tapi kan aku jelaskan!"
"Aku pria yang kurang kasih kasih sayang orang tua, tidak beruntung dalam kehidupan. Orang tua sialan itu mengirimkan beberapa pembunuh bayaran untuk membunuhku, dan menemukan foto Eve saat kecil. Aku ingin menghabisi Abian!"
"Apa maksudmu?" sela Eve yang tak tahu profesi ayahnya.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi, kau bisa menyimpulkannya sendiri."
Twins N dan Alex mengalihkan pandangan saat mendapat sorotan tajam dari adik sepupu, mereka tak menyangka jika rahasia yang ditutupi terbongkar dengan sangat cepat. "Apa dad ku seorang pembunuh bayaran?" lirihnya yang menetesi cairan bening yang mengalir di pipinya.
Suasana hening seketika dan membuat mereka semua lengah, asisten bergerak sangat cepat dan menyuntikkan bisa ular yang mematikan ke tubuh para pria itu.
Eve mengepalkan kedua tangannya, kondisi yang tidak stabil membuatnya menyerang Julian dengan sekuat tenaga. "Apa kau yakin dengan perkataanmu itu?" ancamnya.
"Wah, Alex. Hal sebesar ini kalian menyembunyikan nya?"
"Bukan urusanmu." Alex melompat dan memukul mulut Julian hingga gigi pria itu patah.
__ADS_1
Pikiran Eve sangat kosong, tidak tahu entah apa yang dia inginkan. Perasaan kecewa karena tak seorangpun yang memberikan informasi mengenai masa lalu sang ayah. "Dad seorang pembunuh? Apa bedanya Julian dengannya." Batinnya.