
Keesokan harinya, seorang pria tengah melatih bidikan menggunakan pistol kecil, tapi kekuatan kecepatan yang tidak perlu diragukan lagi. Tatapan fokus ke depan, menarik pelatuk dan menembaknya tepat sasaran. Setelah puas melampiaskan rasa amarah dihati, Samuel kembali meletakkan pistol. Rasa sakit di hati selama bertahun-tahun masih membekas hingga sekarang.
Samuel berjalan keluar dari ruangan menembak menuju meja kerjanya, memeriksa setiap pekerjaan dengan sangat teliti. Namun, bayangan Eve bersama pria lain membuatnya tak bisa berkonsentrasi. "Aargh…kenapa bayangan boneka santet itu berada di otakku? Sial, sepertinya aku perlu mandi kembang tujuh rupa untuk menghilangkan bayang-bayangnya." Monolognya seraya menelpon sang asisten.
"Halo."
"Iya tuan, ada apa?"
"Kau di mana?"
"Tentu saja ke apartemen ku, tuan."
"Datanglah ke apartemen ku dalam waktu sepuluh menit!"
"Bukankah jarak apartemen kita setengah jam, tuan? Belum lagi lalu lintas kota yang terbilang macet."
"Ck, tidak perlu alasan. Cepat lakukan atau waktumu akan habis!"
"Baik, tuan."
Samuel tersenyum saat berhasil mengerjai asistennya sendiri, paling tidak dia mendapatkan hiburan di kala hati yang sedang bertolak belakang.
Dua puluh menit kemudian, Samuel melirik jam di tangannya kesal, karena Asisten Li terlambat datang lima menit. Baru saja dia ingin menggerutu, pintu yang terbuka dengan keras membuatnya terkejut. Mengalihkan perhatian ke asal suara, melihat seseorang yang di tunggu hadir dengan langkah tergesa-gesa.
"Maaf, Tuan. Saya terlambat datang!" asisten Li memegang dadanya yang berdebar kencang akibat berlari, mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Kau terlambat lima menit tiga puluh detik! Apa kau tahu apa artinya itu?" Samuel tersenyum smirk membuat sang asisten Li berdoa dalam hati, berharap atasan nya sedikit memahami kondisi dan situasi.
"Jarak tempuh cukup jauh, apalagi padatnya lampu lalu lintas," jelas asisten Li dengan raut wajah sedih.
"Ya, baiklah. Jangan tunjukkan wajahmu yang terlihat jelek itu," tukas Samuel yang membatalkan rencananya.
"Syukurlah, jika memahami diriku. Tapi kenapa Tuan memanggilku?" asisten Li mengerutkan kening penasaran.
"Apa kau sudah menemukan identitas pria yang bersama Eve?"
__ADS_1
"Sudah! Pria itu bernama Julian, berusia 20 tahun, berasal dari keluarga yang cukup terpandang." Jelas asisten Li.
"Apa hanya itu saja?"
"Tidak, Tuan. Julian merupakan seorang psikopat!"
"Apa? Ternyata dugaanku sangat benar." Seketika perasaan Samuel menjadi tak tenang, mengingat pria psikopat itu mendekati Eve. "Apalagi yang kau ketahui dari pria itu?" ucapnya antusias, ingin mengupas tuntas informasi yang dimiliki oleh asistennya.
"Julian membunuh kedua orang tuanya dengan sangat kejam dan juga bengis, hanya itu yang saya ketahui."
Samuel berdiri dari duduknya, mondar-mandir layaknya setrika, memikirkan cara bagaimana menyingkirkan pria psikopat dari Eve. Asisten Li memperhatikan setiap gerakan dari tuannya, dapat merasakan kecemasan.
"Sejak kapan Tuan mulai peduli pada nona Eve? Bukankah tujuan utama Tuan ingin mempersulit gadis malang itu?"
"Ck, diamlah! Kau hanya merusak suasana saja,tapi akan aku jawab mengenai pertanyaanmu itu. " Satu alasan untuk itu, Eve adalah kunci untuk menghancurkan dua orang yang sangat aku benci." Ungkapnya yang menatap keluar jendela, menikmati pagi hari.
Asisten Li hanya menganggukkan kepala, namun perkataan dari bosnya terlihat janggal. "Aku tidak yakin, ada guratan kegelisahan dimata tuan Samuel." Batinnya yang tak berani mengatakan secara langsung.
Sementara di sisi lain, Eve sedang bersiap-siap menuju kampus, berpenampilan seperti biasanya. Bergegas pergi meninggalkan kamar, menuruni tangga menuju mobil yang terparkir. "Pagi, Kak!" sapanya yang tersenyum cerah.
"Jangan katakan, kalau kak Niko sibuk berkencan." Terka nya dengan raut wajah jengah.
Pletak
Niko mendaratkan jitakan di kepala sang adik, membuat sang empunya meringis seraya mengusap lembut bagian yang terkena keusilannya.
"Tidak perlu menjitakku, apa aku salah?" ketus Eve jengkel.
"Karena kau sok tahu, ada pertemuan di markas Black Wolf."
"Tumben? Biasanya hanya kak Niki daja mengurus markas."
"Sedikit ada masalah yang harus di tuntaskan."
"Wah, sepertinya sangat seru! Apa aku boleh bergabung?" kedua mata Eve berbinar cerah, menjalankan misi bagai agen mata-mata dan menumpas kejahatan dari pihak musuh.
__ADS_1
Niko yang sedang mengunyah permen karet sangat jengkel dengan adik sepupunya, membisik Eve menggunakan permen karet di mulut. "Bocah di larang ikut serta, ini misi hanya untuk pria dewasa."
"Wajahku bukan tong sampah!" ketus Eve yang menatap malas kakak sepupunya.
Niko tersenyum puas dapat menjahili adiknya, mulai mengemudikan mobil menuju kampus.
Sesampainya di kampus, Eve turun dari mobil di ikuti oleh Niko mengantarkan hingga ke kelas. "Kenapa Kakak masih di sini?"
"Apa kau lupa? Jika aku akan mengawasimu." Sahut Niko yang masuk ke dalam universitas sekaligus tebar pesona.
Keduanya berjalan berdampingan dan menjadi pusat perhatian semua orang, pria tampan yang mengenakan setelan jas mahal berjalan bersama dengan seorang gadis cupu. Beberapa orang sangat kagum dengan ketampanan Niko dan sebagian lagi tatapan sinis penuh keirian.
"Astaga…pria bersama Eve sangatlah tampan. Siapa pria itu?" bisik Vira.
"Entahlah, aku tidak yakin jika dia adalah kekasihnya," sambung Mira.
"Ck, apa hebatnya dia? Aku bahkan bisa mencari kekasih lebih tampan dari itu," celetuk Freya yang sedikit cemburu dengan keberuntungan Eve.
Eve menyadari jika semua orang memperhatikannya, menatap mereka dengan penasaran. "Kak, apa kau menyadarinya?"
"Tentu saja, karena aku sangat tampan."
Eve sangat geram hingga mencubit pinggang Niko, berjalan lebih dulu meninggalkan pria malang itu. "Hai, kau! Kembalilah!" pekiknya yang mengejar.
Saat sampai di kelas, Niko terus mengikuti Eve sesuai mandat dari Alex dan juga paman Abian. Tapi, langkahnya tertahan saat seorang pria menghadang pintu masuk dengan tatapan songong.
"Menyingkirlah!"
Liam menatap Niko dari atas hingga bawah, penampilan yang dia yakini sebagai pria kaya, mengira jika pria tampan di hadapannya adalah kekasih Eve. "Hai, pak tuan. Sepertinya kau tersesat!"
"Hai, bocah sialan! Menyingkir dari jalanku, atau aku akan mengepang anu mu."
"Ck, tidak semudah itu. Aku heran, kenapa Eve menyukai pria tua yang rakus sepertimu. Jauhi Eve!" Liam mengira jika di hadapannya orang yang sama saat berada di restoran.
Niko sangat geram dengan pria muda yang seperti menantang berduel. "Heh, kau belum tahu siapa aku?"
__ADS_1
"Siapapun kau, aku tidak peduli. Jauhi Eve, karena dia adalah calon istriku!" tekan Liam serius, tapi seketika mendengar gelak tawa Niko yang memuncak akibat tak bisa menahannya. Liam mengerutkan dahi, berpikir jika pria di hadapannya kurang waras, namun Niko menangkapnya dengan cepat.