Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 38 - Karakter Eve


__ADS_3

Eve membuka kedua matanya dengan perlahan, melihat ke sekeliling ruangan yang sangat mewah melebih Mansion Wijaya. Melihat sebuah kepulan asap rokok yang membuatnya terbatuk, pria tampan yang menunggunya tersadar dari pingsan. "Akhirnya, tuan putri dari keluarga Wijaya bangun juga." Cibirnya yang menghembuskan asap rokok di wajah gadis cupu yang tak berada jauh.


Segera Eve mengipasi asap rokok agar tidak terhirup lebih banyak, menatap Julian penuh arti. "Apa ini Mansion mu?" 


"Yap, bagaimana? Bahkan Mansion ku lebih megah dari keluarga kaparat mu!"


"Apa yang kau inginkan?"


"Mudah saja! Aku hanya menginginkan kematianmu."


Eve terdiam, tidak menghiraukan perkataan Julian, pandangan matanya menyusuri ruangan. "Ini sedikit sulit!" batinnya.


"Kau tidak akan bisa keluar dari Mansion ku ini, aku ingin lihat! Berapa lama keluargamu melacak lokasi ini."


"Ya…ya, terserah kau saja. Bahkan aku juga tidak peduli akan kematian ku, kau pasti sudah memata-matai aku." Cetus Eve tanpa rasa takut, bahkan sangat cuek. 


Julian sangat terkejut dengan jawaban yang diberikan Eve, berpikir jika gadis itu akan ketakutan, tapi yang terjadi malah sebaliknya. "Kau seakan menyambut kematianmu sendiri!"


"Apa itu akan membuat perbedaan? Hanya namaku saja yang menyatu, tapi mereka tidak menganggapku orang asing. Jika kau ingin membunuhku, maka lakukan saja!"


Julian terdiam memikirkan ucapan yang keluar dari mulut gadis cupu di hadapannya, karena informasi yang dia dapatkan sesuai dari perkataan Eve. Dia beranjak pergi meninggalkan tempat itu, baru beberapa langkah dia kembali menoleh. "Makan makanan di atas nakas, habiskan sebelum aku kembali."


"Apa itu akan membuatku mati dengan cepat?"


"Aku rasa begitu." Julian beranjak pergi dan menarik sudut bibirnya ke atas saat melihat Eve mengambil piring yang berisi makanan.


Eve memakan makanan dengan sangat lahap setelah menghirup aroma untuk mendeteksi racun, menyusuri pandangan di dalam kamar. "Ternyata kak Alex memang benar, aku akan terus berpura-pura agar pria psikopat itu lengah. Untuk beberapa hari, aku akan menginap di sini dan mempelajari Mansion pria gila itu," batinnya yang tak takut. Tanpa diketahui keluarganya, dia dan Alex selalu mengambil misi berbahaya. 

__ADS_1


Sebelum terjadinya penculikan, Alex menjadikannya sebuah umpan dan memantau keberadaan Julian yang sangat berbahaya. Mereka sudah merencanakan apa yang akan terjadi, berpura-pura mengalah dan mengorbankan Liam, Eve merasa bersalah karena sudah melibatkan pria itu. "Aku harap Liam baik-baik saja, dan kak Alex menolongnya tepat waktu." Lirihnya yang sangat pelan.


Terdengar bunyi suara telapak sepatu, Eve masih menyuapi mulutnya dengan makanan. Tak peduli jika Julian tengah menatap tajam juga membunuh, berjalan semakin dekat. "Jangan menatapku begitu, atau kau akan terpesona dengan ku!" tegur Eve yang menatap piring yang berisi sedikit makan.


"Kau sangat percaya diri sekali, apa kau tidak takut jika di makanan itu ada racun?"


"Entahlah, karena perutku sangat lapar." Jawab Eve sekenanya.


Julian hanya terdiam bak seorang manekin, menunggu gadis itu untuk selesai makan. "Kau makan sangat lama sekali!" cibirnya.


"Karena aku mengunyahnya tiga puluh tiga kali, atau pencernaan ku bisa bermasalah." 


Setelah selesai makan, Eve memegangi perutnya yang kenyang dan tak sengaja bersendawa. "Aku tidak meminta maaf, karena itu bagian penting setelah makan."


"Sangat jorok." Julian menarik tangan Eve dan membawanya menuju ruang menembak, tidak ada perlawanan membuatnya sangat penasaran. "Dia sangat berbeda!" gumamnya di dalam hati.


Terdengar suara tembakan sebanyak tiga kali, dan salah satu peluru sengaja diarahkan hingga melukai lengan Eve yang mengeluarkan banyak darah. "Sial! Pria ini terus menguji kesabaranku, bila waktunya tiba? Kau akan ku habisi." Batinnya. Tidak ada yang tahu mengenai kepribadiannya, karena selama ini hanya menunjukkan wajah lugu dan polos di hadapan semua orang. Tanpa mereka sadari, sebuah air yang tenang menyimpan bahaya.


Julian tersenyum puas dapat menyiksa Eve, berlalu pergi meninggalkan tempat itu. 


Eve melihat punggung Julian dengan tatapan menusuk, menandai pria itu dalam daftar hitam. Perhatiannya dialihkan pada lengan yang mengeluarkan darah, dengan cepat dia merobek pakaiannya dan segera membalut luka untuk menghentikan darah keluar lebih banyak lagi.


Sisi lain dari Eve seperti seorang pembunuh kelas kakap, mengikuti keahlian ayahnya. Namun dia tidak tahu, jika dulunya sang cinta pertamanya itu seorang pembunuh bayaran, karena identitas Abian ditutup rapat oleh semua orang dewasa di keluarganya. "Kau akan membayar setiap tetesan darah ku yang menetes di lantai!" gumamnya yang juga meninggalkan tempat itu.


Eve berkeliling di Mansion yang terlihat sunyi, hanya ada beberapa pelayan saja dan juga pengawal. Tidak jauh berbeda di Mansionnya yang juga sangat sepi, karena seluruh keluarga tinggal di luar negeri. "Apa tidak ada pakaian untukku? Baju yang kupakai sangat berkeringat." Monolognya seraya menyusuri tempat itu, tersenyum saat melihat seorang pelayan dan menghampiri nya.


"Hai, kau! Sepertinya kita seumuran, apa kau punya pakaian yang bisa aku pakai?" Eve sangat antusias menatap gadis di hadapannya.

__ADS_1


"Tolong, jangan berbicara pada siapapun di sini!" Jawab gadis itu yang sangat ketakutan, segera berlalu pergi meninggalkan Eve seorang diri.


"Eh, kenapa dia terlihat sangat ketakutan? Apa Julian sering menyiksa para pelayan?" gumamnya seraya mengaruk kepala yang tidak gatal.


Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang memantau pergerakan lewat monitor Cctv. Julian tersenyum dan sangat tertarik dengan targetnya kali ini, berniat untuk bermain-main dalam menyiksa. 


****


Kedua pasang mata menatap Alex dengan kemarahan juga tanda tanya yang sangat besar, karena mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. "Apa kau tidak menganggap kami, hingga melakukan rencana sebesar ini?" tukas Niko.


"Dan kau juga membahayakan nyawa Eve, dan jika itu terjadi? Kau akan aku habisi." Ancam Niki tak main-main. 


Baik Niki maupun Niko memprotes cara sepupunya menjadikan Eve sebagai umpan, untuk mendapatkan informasi mengenai psikopat Julian yang di kenal berhati kejam. 


"Percayakan ini semua padaku, kalian tidak perlu khawatirkan Eve."


"Karena dia adikku!" 


"Karena kalian tidak mengetahui kemampuan Eve sebenarnya, dia sangat cerdik dan menguasai berbagai bidang." Alex segera beranjak dari tempat itu, membuat twins N bingung.


"Aku tidak pernah melihatnya melakukan apapun selain tindakan ceroboh," ujar Niko.


"Jangan lupakan ini! Jika Alex tidak pernah berbohong." Sahut Niki. Keduanya mencerna perkataan dan mulai menjabarkan nya untuk mendapatkan titik temu dari masalah yang dihadapi.


"Sebaiknya kita mengikuti perkataan Alex, jika tidak? Paman Abian akan menghukum kita."


"Ya, kau memang benar." 

__ADS_1


__ADS_2