Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 39 - Masa lalu sang psikopat


__ADS_3

Eve sangat heran dengan para penghuni di Mansion milik Julian, tapi tak terlalu ambil pusing dan terus berjalan mengelilingi tempat itu. Berniat untuk mengekspos Mansion itu lebih dalam lagi, dan menuangkannya lewat lukisan peta yang akan dikirimkan kepada sang kakak sepupunya.


"Tempat ini sangat luas, butuh waktu beberapa hari untuk menjelajahi tempat ini." Gumamnya di dalam hati.


"Berani sekali kau keluar dari kamar!" geram seorang pria yang berlesung pipi yang tengah menatapnya tajam.


"Aku sangat bosan di dalam kamar, apa salahnya aku berkeliling mencari udara segar sebelum kau membunuhku." Jawab Eve dengan santai.


"Kau terlalu banyak menuntut," cibir Julian yang berjalan mendekat.


"Bukankah itu suatu prestasi yang harus di banggakan." Eve tersenyum pongah membuat pria dihadapannya kebingungan. "Jangan menatapku begitu, atau kau akan terpesona dan menempel seperti cicak."


"Ck, itu tidak mungkin. Sepertinya aku terlalu memberimu kebebasan, baru kali ini aku mendapatkan mangsa seperti dirimu," ujar Julian yang menyipitkan kedua matanya.


"Bukankah itu bagus? Jadi pekerjaanmu yang membosankan itu sedikit berwarna. Bagaimana jika kita merayakannya?" ucap Eve dengan sangat berani, mendekati pria psikopat itu dan menyentuh tangannya.


Julian langsung menghempaskan tangan gadis aneh di hadapannya, bahkan gadis itu juga berani menyentuhnya. "Aku psikopat yang terkenal kejam, apa kau tidak takut? Karena nyawamu ada di tanganku."


"Jika waktunya tiba, aku juga akan mati. Apa yang perlu dicemaskan, dan aku tidak takut pada siapapun termasuk dirimu. Aku sangat yakin, jika di hatimu yang kejam masih tersimpan rasa kemanusiaan. Kau pasti melakukannya karena suatu alasan, karena setiap manusia mempunyai masalahnya sendiri." Ujar Eve yang mengatakannya dengan tulus, memahami karakter seseorang.


Seketika Julian terdiam, karena apa yang dikatakan oleh gadis itu sangat tepat. "Kau terlalu banyak bicara!" ucapnya dingin.


"Inilah aku," sahut Eve dengan sombong, menarik tangan Julian saat matanya menangkap sebuah pemandangan indah di taman. "Tamannya sangat indah, begitu banyak bunga bermekaran." ucapnya sangat kagum, kedua mata berbinar saat kaki berada di tempat itu.


"Kau suka?" 


Eve mengangguk dengan cepat, dia sangat menyukai taman yang bermekaran indah, dapat menyejukkan mata dan pikiran menjadi lebih tenang. Kembali menarik tangan Julian menuju ke sebuah kursi dan duduk menikmati suasana.


Julian sangat terkejut dengan sikap Eve, namun tetap tidak mengurangi rasa penasaran pada mangsanya kali ini. Hanya mengikuti permainan dari wanita yang berada di sebelahnya.


Eve menghela nafas dalam dan menoleh, menatap wajah tampan Julian yang hampir saja membuatnya menyukai pria itu. 


"Jangan menatapku!" 


"Kenapa? Itu tidak akan merugikanmu," balas Eve dengan enteng.


"Kembali ke kamarmu!"


"Tidak! Kita baru saja sampai di sini, tapi kau malah mengurungku di saja." Keluh Eve yang menggerutu.


"Jangan membantah, aku tidak punya banyak waktu untuk urusan ini."


Eve sangat kesal dengan Julian yang persis seperti Alex, pria dingin seperti robot. "Lima menit lagi!" bujuknya yang mengerlingkan mata. Julian melirik jam yang melingkar di tangannya, karena tak punya banyak waktu, dia menggendong gadis cupu layaknya sekarung beras si pundak. 


"Hei, lepaskan aku! Apa kau pikir aku ini sekarung beras? Turunkan aku!" pekik Eve yang memberontak, tapi pria itu malah semakin mempererat cengkramannya.

__ADS_1


Dia tak menggubris perkataan Eve yang memekakkan telinga, terus berjalan menuju kamar dan menghempaskan tubuh mungil itu di atas ranjang empuk. "Kau sangat kasar sekali!"


Julian membuka laci yang tidak berada jauh darinya, mengambil senjata tajam untuk mengancam. Menodongkan pisau lipat ke arah Eve, hendak membunuhnya. "Kau akan mati!" kata ancaman yang tak membuat Eve gentar.


"Julian Pramana, seorang pria psikopat yang telah membunuh kedua orang tua kandungnya sendiri." Ungkap Eve yang tampak tenang.


Seketika Julian terkejut, rahasia yang selama ini ditutupi terbongkar oleh gadis cupu di hadapannya. "Darimana kau mendapatkan informasi itu?"


"Kau tidak perlu tahu! Apa aku berkata benar?" 


Julian sedikit lengah, hal itu dimanfaatkan oleh Eve untuk menyerang. Gerakan yang begitu gesit menendang pria itu dengan sangat kuat, dia tak peduli lagi apa yang akan dilakukan oleh sang psikopat kejam itu. "Kau pria iblis! Membunuh kedua orang tuamu dengan sangat kejam," selorohnya.


"Jika kau tidak mengetahui apapun, sebaiknya kau diam saja." Julian berlari menuju Eve, hendak menikam gadis itu. Tapi, serangannya gagal saat gadis itu mematahkan pergerakannya. Dia tersenyum tipis dan kembali menyerang, namun menggunakan cara yang sedikit berbeda. 


Eve sedikit terkejut dengan aksi pria lesung pipi yang membuka kemejanya, memperlihatkan dada bidang dan perut kotak-kotak seperti kasur yang sudah dijemur. "Argh…kau menodai mataku!" pekiknya yang melemparkan vas ke arah Julian.


"Ck, kau tadi sangat berani. Ayo, kembali bertarung denganku!" ujar Julian tersenyum tipis, sasarannya kali ini terlihat sangat menggemaskan.


"Pakai bajumu!" pekik Eve yang masih menutupi kedua wajahnya. Julian semakin melangkahkan kaki mendekatinya, hingga tidak ada jarak kedua diantara mereka. Menggenggam sebuah pisau lipat, dia ingin membunuh gadis cupu yang membuatnya kesusahan. Tapi niatnya terhenti saat Eve memeluk tubuhnya dengan sangat erat, terasa sangat nyaman dan menenangkan.


"Semoga saja cara ini berhasil," batin Eve yang sedikit cemas.


"Menjauhlah dariku!"


"Tidak!" tolak Eve yang semakin memeluk tubuh berotot milik pria tampan berlesung pipi.


Julian Pramana merupakan anak semata wayang dari keluarga Pramana, dia hanya anak satu-satunya di dalam keluarga yang bergelimang harta. Sejak kecil dia tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua yang selalu sibuk dengan urusan masing-masing dan melupakan kehadirannya yang kekurangan kasih sayang. Dia melakukan apapun, menguasai semua pelajaran dan beberapa prestasi, berharap jika kedua orangnya meliriknya. 


Satu fakta yang dia ketahui, bahwa kedua orang tuanya menikah hanya karena perjodohan dan membuat keduanya berselingkuh, dia dilahirkan karena kecelakaan atas kekhilafan ayah dan ibunya. Julian sangat kecewa dengan fakta itu, tapi kesedihannya semakin bertambah saat kedua orang tua menyewa seorang pembunuh bayaran untuk melenyapkannya.


Julian sangat pintar dalam bersembunyi, menghindari beberapa orang yang membawa senjata untuk membunuhnya. Setelah tempat itu sedikit aman dengan kepergian para pembunuh, tak sengaja dia melihat sebuah foto yang jatuh dari kantong saku salah satu pembunuhnya. 


Segera pergi dari tempat itu dan melacak keberadaan kedua orang tuanya, tidak ada kasih sayang di dalam sorot matanya yang hanya menyimpan sebuah amarah yang sangat besar. Tega membunuh orang tuanya dengan sangat kejam, menusuk beberapa kali dan memotongnya menjadi bagian kecil. Demi menghilangkan bukti, dia memberi tubuh orang tuanya ke penangkaran buaya milik keluarga.


Bersambung..


...****************...


Hy guys, maafkan author yang pemalas ini🥴🙏 karena kesibukan real life membuat novel jarang up🥰Jangan bosan untuk membaca karya recehan dan mendukungnya dengan cara Vote, Like, dan Komen😘


Iklan!


Rekomendasi novel teman author bernama Ririn Puspitasari


Cekidot 😌😌

__ADS_1


Bab 9


"Apa?! sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan?!" Bella langsung membelalakan matanya.


Devan mengangguk.


"Ini tidak masuk akal!" tukas Bella yang langsung melemparkan map kembali ke atas meja.


"Tidak masuk akal atau kau memang tidak memiliki uang untuk membayarnya?" tanya Devan dengan menaikkan alisnya sebelah.


Bella meremas lututnya menahan rasa kesal. Namun, apa yang dikatakan oleh pria yang ada di hadapannya itu benar adanya.


"Setidaknya aku akan mencicilnya. Bukankah ini merupakan suatu kehormatan, aku datang dengan niat untuk bertanggung jawab. Kalau orang lain, sudah pasti dia akan kabur," tukas Bella dengan nada yang sinis.


"Siapapun yang berurusan denganku tidak akan bisa kulepaskan begitu saja. Sama halnya denganmu. Namun, aku berbesar hati padamu untuk memberikan tawaran yang menggiurkan." Devan mengambil map yang ada di atas meja dan kemudian membuka sebuah dokumen yang berisi perjanjian.


Bella pun mengambil kembali berkas tersebut. Sesaat kemudian keningnya mengernyit. "Bukankah ini lebih gila," batin gadis itu.


"Menikahlah denganku," ucap Devan seraya menyilangkan kedua tangannya di depan.


"Apa kau gila? Bukankah aku menabrak mobilmu? Apakah otakmu juga ikut rusak?!" tandas Bella dengan sarkasme.


"Nona, saya harap anda menjaga sikap!" tegas Joko, sang asisten.


"Bukankah ini tawaran yang langka? Banyak gadis yang berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Lagi pula ... Kau jangan sok jual mahal! Tampangmu sama seperti botol susu yang kau jual itu!" tukas Devan yang tak kalah kasar dari Bella.


Gadis itu menghela napasnya berat sembari mengigit bibir bawahnya. "Apa hakmu menghinaku?"


"Bukankah kau yang melakukannya terlebih dahulu?" timpal Devan santai.


"Baiklah. Aku akan membayar hutangku, tapi dengan cara mencicil," ujar Bella.


"Aku tidak menerima jenis cicilan atau pun kredit."


"Tapi aku tidak memiliki uang sebanyak itu," tukas Bella geram.


"Kalau begitu menikah saja denganku!"


"Aku tidak mau!" tolak Bella.


"Joko, telepon polisi dan jebloskan dia ke penjara!" titah Devan.


...****************...


Penasaran?? Yuk kepoin dengan judul Married By Accident, karya dari Ririn Puspitasari🥰🙏

__ADS_1



__ADS_2