
Eve sangat kesal dengan semua orang yang selalu saja mengusik ketenangan nya. Karena tak ingin larut dalam masalah, dia memutuskan untuk menyelinap keluar Mansion sebelum satu jam berakhir. Ingin menyelesaikan masalah secepat mungkin dari pria brewok yang selalu membuatnya geram. Dengan terpaksa dia mencari jalan keluar untuk kabur, mengambil kain panjang dan mengikatnya menjadi satu.
"Sepertinya ini sudah kuat," gumamnya seraya menurunkan kain yang diikat menjadi satu menuruni balkon, setelah melihat suasana aman terkendali.
Perlahan tapi pasti, Eve turun menggunakan kain panjang itu dengan penuh hati-hati. Menapakkan kakinya ke tanah dan tersenyum bahagia. Di dalam keluarganya, hanya dirinya yang pintar jika menyangkut urusan melarikan diri. "Hah, akhirnya aku bisa bebas." Melangkahkan kakinya dan mengendap-endap, agar tidak diketahui oleh penjaga.
"Ehem."
Eve menghentikan langkah kakinya, mendengar suara deheman membuatnya segera menoleh. Kedua mata yang terbelalak saat melihat Alex yang tengah menatapnya dengan tajam membuat bulu kuduknya berdiri. "Oh Eve, hari ini kau tamat!" batinnya seraya menelan saliva seakan tersangkut di tenggorokan, berusaha bersikap netral agar tidak menimbulkan masalah lebih lanjut. Dia tersenyum lebar untuk mencairkan suasana kian mencekam, memperlihatkan gigi putih yang di pagar.
"Kak Alex?"
Alex tak menjawab, terus menatap tajam sang adik seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana samping. "Apa kau lupa?" tekannya, agar gadis itu mengingat kembali peringatan yang pernah dia katakan.
"Tadinya aku lupa, setelah melihat Kakak tiba-tiba saja ingatanku kembali." Jawab Eve asal.
Alex mengetahui aksi dari adik sepupunya saat di dalam mobil, dan memasang kamera pengintai di setiap sisi. Dia hanya menggelengkan kepala saat melihat Eve yang kabur dan segera menuju lokasi, geram karena gadis itu tidak patuh pada peringatannya. "Jangan menjawab!" sarkasnya dengan tegas.
Eve terdiam mematung, karena dari sekian banyak kakak sepupunya, dia hanya takut pada Alex yang sangat dingin di antara keluarga Wijaya.
"Kau tidak boleh kemanapun, apa kau dengar?" sentak Alex seraya menatap Eve dingin.
"Aku mohon! Ijinkan aku keluar, ada hal yang harus aku selesaikan." Rengek Eve berusaha untuk membujuk.
"Tidak!"
"Bukankah Kak Alex sendiri yang mengajarkan ku mengenai rasa tanggung jawab dan juga menyelesaikan masalah sendiri, aku hanya mencoba untuk melakukan itu."
Alex memikirkan ucapan Eve, karena dia sendirilah yang menanamkan nilai pada adik sepupunya itu. Walau dia terlihat sangat dingin juga kejam, tapi di hatinya sangatlah baik, dan sangat menyayangi keluarga. "Baiklah, tapi kau harus ditemani oleh Niko atau Niki."
Eve tersenyum cerah, berlari menghamburkan dirinya memeluk sang kakak dengan penuh kasih. "Terima kasih, Kak!"
"Hem," balas Alex yang membalas pelukan sang adik.
Eve melepaskan pelukannya, dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu setelah berpamitan. Sementara Alex menatap punggung sang adik yang mulai menjauh dari pandangan, mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.
"Halo."
"Iya, tuan."
"Awasi adikku! Jika terjadi sesuatu padanya? Maka kau hanya tinggal nama."
"Baik, tuan."
Eve melangkahkan kakinya menuju kedua pria yang tengah sibuk mengutak-atik laptop juga ponsel. "Sepertinya mereka sangat sibuk, sebaiknya aku pergi saja sendiri." Batinnya yang kembali memutar arah.
"Selangkah lagi kau melangkah, maka aku akan menggantung mu di tiang listrik." Ancam Niko tanpa menoleh, seluruh perhatiannya masih berkutat pada layar pipih.
__ADS_1
Eve menghentikan langkahnya, menoleh ke asal suara seraya menatap dua pasang mata yang seakan ingin menelannya hidup-hidup. "Kau mau kemana?" tanya Niki.
"Anak perawan tapi seperti monyet, berusaha kabur lewat balkon." Sambung Niko.
"Jika aku monyet, berarti Kakak adalah kakaknya monyet!" balas Eve dengan santai.
Niko yang kesal segera menghampiri adiknya, menjitak kepala Eve karena geram. "Kau mau kemana?"
"Sangat menyebalkan," gerutu Eve seraya mengusap kepala, mengerucutkan bibirnya yang merasa kesal. "Ada urusan yang harus aku selesaikan!"
"Urusan apa?" tanya Niki yang menghampiri Eve.
"Urusan dengan pria jelek itu atau dengan bocah sialan itu?" Niko terus menatap Eve dengan penuh menyelidik.
"Dengan pria jelek dan juga sinting itu, aku akan menyelesaikan semua permasalahan ku hari ini juga. Masalah izin? Kak Alex telah memberiku izin, hanya saja meminta agar di antara kalian ikut bersama denganku."
"Lalu, kenapa kau tidak mengatakannya lebih dulu?" tanya Niki penasaran.
"Karena kalian terlihat sibuk, itu sebabnya aku ingin pergi sendiri saja. Lagi pula aku bisa menjaga diri!"
"Baiklah, Niki akan ikut bersama denganmu." Ujar Niko yang kembali mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda. Sedangkan Eve melirik Niki dan memberikan isyarat agar ikut pergi bersama dengannya.
Seorang pria tengah meneguk alkohol untuk menenangkan beban pikiran yang selama ini dia pikul sendiri, menatap luar jendela dan melihat pemandangan padatnya ibu kota. Melirik jam di tangannya, karena mantan pelayan diadakannya datang terlambat. Tidak bisa menutup ekspresinya saat ini menahan rasa amarah yang ingin menyeruak keluar.
Terdengar suara bel pintu, dengan cepat dia meminta pelayan untuk membukakan pintu. Tersenyum tipis saat melihat kedatangan Eve yang berjalan ke arahnya, segera dia meletakkan gelas yang berisi alkohol di atas meja dan berdiri. "Kau datang terlambat!" ucapnya yang melirik jam mahal yang melingkar di tangan.
"Apa kau pikir aku akan mudah keluar masuk di Mansion itu?" cetus Eve yang menghela nafas dengan jengah. "Cepat katakan, apa yang kau inginkan!"
"Karena aku tak punya banyak waktu."
"Hah, baiklah. Kau sangat tidak sabar," pasrah Samuel.
"Sepuluh menit."
"Itu tidak akan cukup!"
"Sepuluh menit atau tidak sama sekali, kau pertimbangkan saja. Waktu terus berjalan," tekan Eve yang tak ingin berlama-lama sesuai perkataan Niki.
Samuel tersenyum melihat keberanian dari gadis cupu itu, menggaruk keningnya yang tidak gatal. "Jadilah kekasihku!"
"Tolonglah, jangan mempersulit diriku."
"Aku hanya menginginkan itu."
"Aku tidak setuju." Tolak Eve.
Samuel tak berputus asa, terus menyudutkan Eve agar menjadi kekasihnya. "Jadilah kekasih kontrak ku, kau juga akan diuntungkan dengan ini."
__ADS_1
"Ck, aku hanya menghabiskan waktuku saja di sini." Eve segera melangkah untuk keluar dari ruangan itu, tapi Samuel lebih dulu menghadangnya. "Menyingkirlah!" ketusnya sarkas.
Samuel tak menggubrisnya, malah mengunci pintu apartemennya membuat seseorang di dalam mobil mengepalkan tangannya, Niki memantau pergerakan sang adik lewat rekaman Cctv yang baru saja di retas. "Berani sekali pria kemoceng itu mengurung adikku, dasar badak bercula satu!" geramnya yang segera beranjak dari mobil menuju apartemen milik Samuel, sahabat lamanya.
Di dalam apartemen, Samuel mendekap tubuh Eve dan mencium aroma dari gadis itu. Tiba-tiba perasaannya menjadi sangat tenang dan juga hangat, semakin mengeratkan pelukannya. "Jadilah kekasih kontrak ku, satu bulan saja."
Eve berusaha melepaskan diri, dia tak ingin berurusan dengan Samuel yang seakan memaksanya. "Tidak!"
Samuel tak terima dengan kata penolakan membuatnya semakin mendekatkan wajah, menatap dua manik mata indah yang di suguhkan di hadapannya. "Suka atau tidak? Kau harus menjadi kekasihku!"
Bersambung..
...****************...
Sambil nunggu aku up, kalian boleh mampir nih! 🥰di karya temanku, JBlack🥰😘😘
...GadisJerawat Istri Sang Cassanova...
Eps 14. Dijebak
Syakir yang mulai hilang kendali dengan tubuhnya yang terbakar akan gairah segera membuka pakaiannya. Pria itu terlihat sangat tidak sabaran. Kemudian dia juga melepaskan robekan lingerie itu dan melemparnya ke sembarang arah.
Tangannya dengan lihai bergerak kesana kemari. Memberikan sensasi yang begitu seksi dengan diiringi kecupan-kecupan manja di beberapa tempat yang sangat ia sukai.
"Punyamu sedikit lebih kecil, Sayang. Apa kau sudah rajin olahraga?" tanya Syakir saat kedua tangannya bermain di dua gunung dengan begitu lihainya.
Syakir yang memang sudah tak sabar. Langsung membuka kedua kaki wanitanya. Dia menempatkan senjata miliknya tepat di depan goa indah tanpa rawa-rawa tersebut.
"Kau benar-benar masih perawan, Sayang. Milikmu begitu sempit dan mencengkram milikku!" kata Syakir berbisik di telinga Rachel. "Tahanlah sebentar yah. Aku akan memaksanya masuk!"
🌴🌴🌴
Di tempat lain, terlihat enam orang anak manusia sedang tertawa riang di sebuah apartemen. Mereka sedang menikmati malam indah nan panjang dalam hidup mereka.
"Apakah Kekasihmu si Syakir, sudah membuka segelnya?" tanya seorang wanita yang saat ini sedang menenggak minuman di tangannya.
"Pasti. Aku yakin kekasih uangku itu sudah melakukannya berulang kali," balas wanita dengan pakaian seksi yang sedang duduk.
"Apa kau tak cemburu, Sayang?" bisik pria yang tangannya memegang gelas berisi minuman alkohol.
"Cemburu?" ulang Rachel dengan menyusupkan wajahnya ke leher pria yang sedang memeluknya. "Tak ada dalam kamusku."
Rachel terkekeh. Dia menjauhkan kepalanya lalu menatap ke arah dua sahabatnya yang juga bersama pasangannya.
"Aku yakin Syakir berpikir bahwa akulah yang ada dibawahnya. Aku yakin dia melakukannya dengan gila," kata Rachel mengingat apa saja yang sudah dia lakukan pada seseorang.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya temannya yang lain dengan posisi duduk di pangkuan sang kekasih.
__ADS_1
"Aku akan menendang Humaira jauh dari kampus kita," balas Rachel dengan mata berbinar.