Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 74 - Pernikahan


__ADS_3

Seorang wanita cantik yang dibalut dengan gaun pengantin berwarna putih, dengan beberapa aksen dan aksesoris yang sangat pas. Polesan make up tipis sesuai perintah dari sang empunya wajah, namun malah terkesan sangat menakjubkan. Eve melepaskan gelas cupu di saat telah menikah, hal yang dikatakan oleh sang ayah sebelumnya. 


Gaun yang pas di badan tapi sangat mengembang di bagian bawah, rambut yang dicepol dengan beberapa manik-manik indah, begitu terlihat berkilau dan juga indah.


Saat menuruni tangga dengan penuh hati-hati, didampingi oleh Lexa dan Lexi. Setiap langkah menunggu mempelai wanita menjadi pusat perhatian semua orang yang takjub akan kecantikan Eve yang selama ini disembunyikan. Samuel menatap tanpa berkedip, dia begitu terpukau akan pesona mempelai wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya. "Sungguh ciptaan Tuhan yang luar biasa," gumamnya terus memandang. 


Timbul di hati Eve menjadi gemetaran, takut dan juga grogi menjadi satu. Menggenggam tangan kedua kakak sepupunya dengan erat, menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. "Kak, aku sangat gugup."


"Kau yang menikah, tapi aku juga merasakan hal yang sama denganmu." Jawab Lexi yang tersenyum kaku,menjadi pusat perhatian membuatnya ikut terseret.


"Kau tidak perlu risau, anggap semuanya tembus pandang." Celetuk Lexa.


"Baiklah, semoga cara itu efektif."  Eve terus berjalan dengan penuh hati-hati, takut akan gaun yang menyapu lantai terinjak olehnya. Tatapan dua insan saling bertemu, dia sedikit terperangah dengan wajah calon suami yang terlihat sangat tampan dari biasanya. "Apa itu calon suamiku? Dia sangat tampan sekali, aku merasa akan meleleh. Jangan tatap aku begitu," gumamnya di dalam hati.


Samuel mengenakan tuxedo putih, terlihat berkharisma dan pastinya sangat tampan. Tengah mengulurkan tangan untuk membantu Eve naik ke altar pernikahan, mereka saling mengagumi satu sama lain. Tersenyum manis tanpa menghiraukan keberadaan semua orang di ruangan itu. 


Proses pernikahan segera dilaksanakan, semua orang hadir dan ikut berpartisipasi dengan pernikahan keluarga pengusaha yang tersohor. Sebuah pernikahan yang digelar begitu mewah dan juga sangat elegan, dihadiri oleh beberapa rekan bisnis kolega dan juga orang-orang penting lainnya. Tak lupa, seluruh keluarga juga hadir dalam meramaikan acara pernikahan yang diadakan begitu hikmat dan juga menyentuh hati semua orang. 


Proses ikatan yang berjanji akan sehidup semati dalam suka maupun duka, menerima semua kekurangan maupun kelebihan dari pasangan. 


Akhirnya pernikahan telah sah antara Eve dan juga Samuel yang sudah resmi menjadi pasangan suami istri, terlihat pancaran kebahagiaan dari mereka. "Akhirnya gelar jombloku sudah lepas, tidak ada yang bisa mengejekku lagi." Batin pria itu menggandeng istrinya dengan romantis.

__ADS_1


Tangisan haru,  itulah yang dirasakan oleh Lily selaku Ibu dari Samuel, dia tidak menyangka bisa melihat proses pernikahan dari putra semata wayangnya. "Aku sangat terharu, bisa melihat proses pernikahan putraku sendiri. Begitu banyak yang aku lewati, tapi tidak untuk hari berikutnya." Ucapnya pelan sambil menikah air mata.


"Selamat untukmu, kita sudah menjadi besan." Lea datang dan memeluk Lili dengan erat pelukan yang hanya terjadi beberapa detik dan melepaskannya."


Semua orang ikut merasakan kebahagiaan, menyalami pengantin yang sudah sah dan berikan ucapan selamat. Hari yang sangat melelahkan bagi sepasang suami istri yang tidak bisa duduk, karena begitu banyak tamu undangan yang terus berfoto dan mengucapkan selamat. Tibalah saatnya Niko, Niki dan Alex menghampiri Samuel dan memeluknya dengan erat.


"Selamat untuk kalian, aku ingin setelah pernikahan ini kau menjaga adik kesayanganku dengan sangat baik, jangan kecewakan dia ataupun membuatnya menangis." Ucap Niko merelakan adik sepupunya dengan pria yang tepat.


"Terima kasih, aku akan menjaganya dengan sangat baik kalian tidak perlu cemas." 


Eve masih saja kecewa, dan tidak ingin mendekat dengan ketiga kakak sepupunya. Dia ingin memundurkan langkah agar bisa menjauh dan menjaga jarak, tapi hal itu tidak terjadi saat suaminya mencegah tangan untuk tidak kabur dari masalah.  


Niko, Niki, dan Alex hanya menundukkan kepala, tidak berani menatap mata adiknya yang masih kecewa. Namun, berusaha untuk meminta maaf untuk terakhir kalinya, sebelum menghilang selama satu tahun. 


"Tapi, Sam!" 


"Naafkan saja mereka, kau lihat bagaimana ketiga kakakmu yang sangat bersedih dan penuh penyesalan. Jangan menambah beban mereka," jelas Samuel yang ingin mendamaikan saudara itu.


"Eve, tolong maafkan kesalahan kami." perkataan Alex mewakili kedua sepupu kembarnya. 


Eve kembali menimbang perkataan dari kakaknya yang terlihat sangat tulus dan juga menyesali, segera dia menghamburkan pelukan kearah tiga pria tampan secara bergantian. "Aku juga tidak bisa marah terhadap kalian, aku memaafkan ketiga kakakku."

__ADS_1


Ketiga pria itu sangat bahagia dan meneteskan air mata penuh haru, beban yang menyelimuti pikiran mereka sudah terlewati. Namun, satu hal yang menyakitkan yaitu perpisahan dengan keluarga setelah pernikahan telah usai. 


Pernikahan telah selesai dan saatnya mengabadikan momen pernikahan itu dengan seluruh keluarga yang tersenyum bahagia, cucu dari keluarga Wijaya yang telah menikah  membuat semua orang sangat antusias dan juga bersemangat.


****


Kebahagiaan yang tidak bertahan lama, di saat ketiga pria yang sudah menyeret koper untuk pergi meninggalkan kediaman Wijaya. Semua orang menangis dan tak rela, mereka terus mencegah agar ketiganya tidak pergi. 


Eve sangat kelelahan dan dia ingin membaringkan tubuh di atas kasur empuk yang sudah didekorasi begitu indah namun satu hal yang tidak diketahui jika ketiga kakaknya ingin pergi. Di dalam kamar dia juga tidak menemukan suaminya, keheranan dengan semua orang yang tidak ada. "Ke mana semua orang? Kenapa tempat ini sepi setelah pernikahan selesai?" gumamnya yang memutuskan untuk keluar dari kamar mencari semua orang. 


Kedua pupil membesar, di saat melihat ketiga pria yang sedang menyeret koper. Begitu banyak orang yang menangis dan menghentikan aksi ketiganya, agar tidak meninggalkan kediaman Wijaya. "Kalian mau ke mana?" teriak Eve yang tanpa sadar meneteskan air mata. Dia berlari menghampiri ketiga kakak sepupunya, menatap mereka dengan penuh tanda tanya. 


"Kenapa kalian pergi disaat pernikahanku baru saja selesai? Apa ada kata-kataku yang salah hingga kalian pergi meninggalkan tempat ini?" 


Ketiganya menundukkan kepala, menahan air mata dan juga kesedihan menyelimuti pikiran. "Kau tidak akan mengerti, ini tuntutan pekerjaan." Jawab Niki.


"Bohong, kau berbohong kak? Apa ini hukuman?" tebak Eve yang menangis dan merebut koper. Dia melempar sembarang arah, karena tak ingin ketiga kakaknya itu pergi meninggalkannya. 


"Jangan bersikap kekanak-kanakan, ini masalah pekerjaan!" tegas Alex dengan lantang.


"Apa, aku tahu kalian berbohong. Ini hukuman? Tolong, jangan pergi Kak!" Rengek Eve yang menangis histeris.

__ADS_1


__ADS_2