Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 37 - Pria bertopeng


__ADS_3

Perasaan Eve semakin tak tenang, dia sangat gelisah mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Sementara Liam tidak memahami apapun, keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga lamunan itu buyar, saat beberapa mobil mencegat mereka dari arah depan. 


Liam segera menghentikan mobilnya, menatap beberapa orang pria yang keluar dari mobil dengan membawa senjata. "Siapa mereka?" gumamnya seraya menautkan kedua alisnya. 


"Sial! Mereka membawa senjata." Umpat Eve yang tak menggubris perkataan pria di sebelahnya. 


"Apa kau punya ide?" 


"Untuk saat ini tidak ada."


Liam menghela nafas berat, mengingat banyak musuh berada di hadapan. "Kau tunggu di sini!" ucapnya yang membuka pintu hendak keluar dari mobil. 


"Apa kau gila?" tukas Eve kesal. "Jangan keluar dari mobil, pindah posisi!"


"Apa kau yakin?" 


"Jangan banyak bertanya!" ketus Eve yang segera mengambil alih untuk menyetir mobil. Memundurkan mobil dan segera kabur dari para penjahat yang mulai menembak jendela belakang. 


"Astaga, aku tak menyangka jika kau seorang pembalap." Celetuk Liam yang berpegangan, takut dengan Eve yang menyetir mobil. 


"Apa itu perlu diumumkan menggunakan pengeras suara?" jengah Eve yang sangat lihai mengemudikan mobil. 


"Hah, kau benar juga." Liam segera menoleh kebelakang, melihat beberapa mobil mengejar mereka seraya menembak. "Mereka sangat banyak, bagaimana ini?" sangat panik jika dikaitkan dengan situasi sekarang. 


"Apa kau bisa menggunakan pistol?" Eve terus fokus mengemudi dan sesekali melihat kaca spion untuk memantau pergerakan musuh. 


"Bisa!"

__ADS_1


"Bagus, ambil pistol di dalam tasku!" titah Eve yang tersenyum, setidaknya pria itu sedikit berguna baginya. 


Liam membuka tas yang selalu dibawa oleh gadis di sebelahnya, kedua matanya hampir saja keluar saat melihat banyaknya senjata di dalam tas itu. "Dia gadis yang sangat berbeda, biasanya isi tas para gadis itu hanya ponsel dan alat make up. Tapi, di dalam tasnya malah beberapa senjata kecil yang mematikan." Batinnya yang menggeleng. 


"Kau sudah menemukannya?" 


"Ya, kemudikan mobilnya dengan baik." Liam mengambil dua pistol kecil, menggenggam nya di tangan kiri dan kanan. Menjulurkan setengah badannya di jendela mobil, menargetkan sasaran dan menarik pelatuk. 


Terdengar suara tembakan dari dua belah pihak yang bertautan saling menyerang dan melontarkan peluru, Liam tak berputus asa walau hanya seorang diri melawan beberapa pasukan bersenjata. Berkat usahanya dalam membisik musuh, berhasil melumpuhkan beberapa penjahat, hanya saja mereka kalah jumlah hingga mobil yang mereka tumpangi dalam kondisi sangat parah, karena salah satu peluru mengenai bagian penting mobil. 


"Mobil akan segera  meledak, kita harus keluar dari sini" tegas Eve yang berusaha untuk tetap tenang. 


"Ya, kau benar." Liam segera mengambil tindakan dengan membukakan pintu di sisi Eve dan mereka saling melirik satu sama lainnya.  Melompat ke luar mobil dan tubuh yang terguling beberapa meter, sedikit cedera tak di hiraukan oleh Liam yang segara berlari untuk membantu Eve. "Kau tidak apa-apa?" ucapnya yang sangat khawatir. 


"Hem, aku baik-baik saja." Jawab Ayu yang membersihkan diri dari pasir dan debu jalanan. 


Liam sangat terkejut saat melihat darah segar mengalir di tangan gadis berkacamata di hadapannya, mengambil tindakan dengan merobek bajunya untuk membalut luka. "Sekarang kau adalah tanggung jawabku! Aku akan melindungimu."


"Ayo!" Mereka segera melarikan diri dari kejaran musuh, tapi terlambat saat mobil berwarna hitam menghadang. Keduanya menyorot seorang pria yang memakai topeng separuh wajah dan menghampiri mereka. 


Eve sangat mengenali pria itu, kedua lesung pipi di wajah menjadi tanda. "Itu Julian!" gumamnya yang terdengar oleh Liam. 


"Julian si anak baru?" Liam tak bisa menutupi rasa keterkejutannya, apalagi Julian mempunyai wajah yang sangat lugu. 


"Dia orangnya." Jawab Eve tanpa menoleh, seluruh perhatiannya tertuju kepada pria bertopeng. 


Pria bertopeng melangkahkan kaki menghampiri sang target, dan beberapa anak buahnya mengelilingi mereka. Liam segera berdiri di hadapan Eve untuk melindungi gadis cupu itu, tidak ada rasa takut yang terpancar di antara dua manik mata. 

__ADS_1


"Sasaran masuk jebakan!" gumam Julian yang tersenyum smirk. "Menyingkirlah! Aku tidak mempunyai urusan denganmu!" ucap Julian yang membuka topengnya, tersenyum saat melihat gadis yang selama ini dia cari. 


"Langkahi aku terlebih dulu." Entah keberanian yang datang dari mana, Liam berusaha untuk melindungi Eve dari musuh. 


Julian tertawa sinis, mengejek pria di hadapannya. "Kau bukanlah tandinganku, menyingkirlah!" 


"Tidak akan!" 


Julian sangat marah mendengar penolakan Liam, mengepal tangannya dengan sempurna seraya melemparkan topengnya  sembarang arah. "Kau sendirilah yang menginginkan hal ini," ucapnya dingin seraya memutarkan kepala Liam hingga berbunyi. 


Memegang kepala yang terasa sangat ngilu, namun tetap mempertahankan keselamatan Eve. Liam menyerang Julian dengan sekuat tenaganya, namun musuh yang dia hadapi bukanlah tandingannya. 


"Kau pria yang sangat lemah," Julian menendang tubuh Liam hingga terkapar di tanah, hanya membutuhkan waktu beberapa detik baginya. Eve sangat terkejut dan segera menolong Liam, mencoba untuk menyerang Julian menggunakan kemampuannya. 


"Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Eve Wijaya." Julian tersenyum tipis, hanya menangkis serangan gadis itu dengan sangat mudah. 


"Kenapa kau lakukan ini padaku?" pekik Eve yang ingin memukul pria berlesung pipi, dia sangat marah dengan situasi saat ini. 


Julian menarik tangan Eve hingga terbentur di dadanya yang bidang, kedua pasang mata saling bertemu dan menatap penuh kebencian. Dia melepas kacamata gadis di dekapannya, juga melepaskan pengikat rambut dan membiarkannya tergerai indah. "Kau terlihat cantik jika seperti ini." 


"Tidak ada yang bisa mengaturku dan juga tak memerlukan pujian darimu," balas Eve dengan sengit. 


Liam melihat samar kejadian di dekatnya, ingin segera berdiri untuk membantu wanita yang dicintainya. Namun, saat ini dia tak berdaya mengingat kondisinya yang terluka parah. "Aku harus menolong Eve!" tekadnya kembali bangkit. Namun Julian yang sangat jeli membaca pergerakan lawan, menendang tubuh pria lemah itu hingga terhempas beberapa meter, hingga pingsan. 


"Bukankah kau berurusan denganku? Kenapa kau menyakiti dia, dasar pengecut!" Eve sangat histeris dengan kondisi Liam yang terluka cukup parah, ingin menghampirinya. Sementara Julian mengepalkan tangannya dengan kuat, tak tahan dengan ucapan Eve membuat kemarahannya sebentar lagi akan meluap. "Itu akibatnya jika dia menolak perkataanku," tegasnya. 


Eve berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkraman pria berlesung pipi itu, usahanya tetap tidak membuahkan hasil. "Liam…Liam, bangunlah! Ayo, bangunlah!" teriaknya. 

__ADS_1


"Ck, kau sangat berisik sekali." Julian mendelik kesal seraya menyumpal mulut Eve menggunakan kain yang sudah diberikan obat bius. Memberikan isyarat kepada bawahannya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu, sebelum Alex menemukan mereka. 


Julian menggendong tubuh Eve untuk masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan  Liam yang pingsan di jalanan. 


__ADS_2