Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 66 - Pertarungan jebakan


__ADS_3

Samuel sangat syok dengan apa yang dilakukan oleh calon istrinya, menepuk kening karena tak memahami jalan pikiran. "Mereka bisa membungkusnya dengan sangat baik, mengapa harus menggunakan kantong kresek?" tanyanya yang tak menduga jika gadis itu mempunyai tingkah ajaib.


Eve mengangkat kedua bahunya dengan acuh, tak terlalu membebani dirinya dengan pertanyaan konyol dari pria itu. "Aku hanya ingin saja, kau mengabulkannya atau tidak?" 


"Ambil semua yang kau inginkan," Samuel menggaruk pangkal hidung yang tidak gatal, dia meyakini hal ini akan terjadi, mengingat bagaimana keluarga Wijaya. "Astaga…aku harus mempersiapkan diriku mengenai tingkahnya," batinnya.


"Kenapa kau diam saja? Sekarang bayarlah!" pinta Eve yang mengerlingkan kedua matanya yang tampak menggemaskan, senyum manis mempunyai makna dan niat terselubung. "Aku ingin lihat, seroyal apa pria ini." Batinnya.


"Tidak perlu membayar, Nona." Sela kepala toko.


Seketika senyum Eve memudar dan menoleh ke asal suara. "Apa maksudnya? Aku membawa seluruh perhiasan kalian. Apa ada event atau undian berhadiah?"


Sang kepala toko perhiasan melirik Samuel, membuat Eve semakin curiga. Dari raut wajah yang ketakutan menyimpulkan jika pria paruh baya itu di ancam, itulah yang ada di pikirannya. "Apa kau diancam olehnya?" 


Samuel menghela nafas, mendapat tudingan membuatnya jengah. 


"Tidak, Nona tidak perlu membayar karena toko ini milik tuan Samuel." Ungkap kepala toko membuat Eve ternganga, niat ingin menguras harta tapi malah salah tempat.


"Jangan berbohong!" 


"Itu memang benar, tuan Samuel pemilik toko ini."


"Tidak perlu tercengang begitu, ambil semua perhiasan disini. Masih banyak toko lainnya, kalau kau ingin aku bisa memberikannya padamu. Tapi jangan permalukan aku dengan kantong kresek itu!" jelas Samuel yang berusaha sabar untuk menghadapi gadis dicintainya.


"Oho, apa ini? Rencanaku gagal total, mengapa aku tak menyelidiki hartanya sebelum bertindak seperti ini. Hah, mau aku apakan semua perhiasan itu?" gumam Eve yang tak bersemangat untuk memiliki seluruh perhiasan di dalam kantong kresek. "Ayo, pulang!" 

__ADS_1


Eve berjalan mendahului Samuel, dia berpikir bagaimana pernikahan itu tidak terjadi. Berjalan keluar toko dan berniat menunggu di dalam mobil. Dia mengusap wajahnya dengan kasar sambil merutuki kebodohannya. 


"Astaga Eve, kau sangat bodoh sekali. Kau mempermalukan dirimu sendiri, berniat ingin mengurasnya tapi malah terjadi sebaliknya." Monolognya yang terus mengumpat diri sendiri.


Eve melihat kaleng kosong dan menendangnya dengan keras, melampiaskan rasa kesal. Tapi, hal itu malah menjadi petaka saat melihat seorang pria yang menangkap kaleng kosong. Kedua pupilnya membesar, menelan saliva melihat pria yang sangat dia kenali berada tepat tak jauh darinya.


Pria itu berjalan mendekat dan tersenyum penuh arti, tidak ada orang di sekitar membuatnya lebih leluasa. "Hai Eve, apa kabar?" 


"Kau masih hidup?" 


"Aku tidak akan mati dengan mudah, kau terkejut?" 


Eve sangat ketakutan saat melihat Julian, karena apa yang dikatakan oleh Alex memang benar. Memberanikan diri dan ingin melihat apa tujuan pria itu datang menemuinya, hanya mempersiapkan diri dengan bekal ilmu beladiri yang dia miliki.


"Aku dengar, kau akan menikah dua hari lagi. Apa aku tidak diundang?" ucap Julian yang membuka topi dan juga penutup kepalanya, melemparkan senyuman dengan aura gelap membuat suasana kian mencekam.


"Ya, kau benar. Namun haluanku berubah saat kau berlaku baik padaku, walaupun itu hanya pura-pura saja. Ayo, kita menikah!" Julian mengeluarkan dan memperlihatkan cincin berlian dengan ukiran yang sangat indah.


"Apa perempuan di dunia ini sudah tidak ada? Pergilah dari sini dan jangan ganggu aku!" ucap Eve yang menolak secara tegas.


"Menikahlah denganku atau keluargamu akan aku lenyapkan, kau tahu ini apa?" ancam Julian yang melihat remote kecil pengontrol bom yang telah di pasang di sekeliling Mansion. "Hanya sekali tekan saja, maka keluargamu akan tiada. Kau tidak punya pilihan lain, putuskan sekarang!"


Julian sangat senang dengan apa yang direncanakan, kabar pernikahan yang tidak bisa dia terima. Hingga senyum licik itu berubah saat tangannya di tendang seseorang dari samping. Samuel dengan cepat memberikan remote kontrol pada salah satu pengawalnya, dan beberapa orang mulai mengelilingi mereka.


Julian sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya, tiga orang pria yang berjalan mendekat dan melayangkan pukulan di wajahnya. "Kenapa kalian di sini?" geramnya sambil menyeka darah yang keluar dari salah satu sudut bibirnya.

__ADS_1


 "Kau psikopat yang sangat bodoh, bertindak dengan logika tanpa menggunakan otak. Ini sudah direncanakan, sejak kau yang selalu mengawasi Eve." Ucap Niko yang menjelaskan.


"Kau salah orang bung, melawan keluarga Wijaya sama saja mengantarkan nyawanya." Sambung Niki yang mengancam.


"Kak twins N dan kak Alex, kalian disini?" Eve mengerutkan kening karena tak mengetahui apapun menatap satu persatu pria untuk meminta penjelasan. 


"Ya, itu memang benar. Kami berempat bergabung untuk menangkap Julian yang selalu mengintaimu sejak beberapa hari terakhir, dan sengaja membiarkan pria itu mendekatimu." Jelas Samuel yang tersenyum.


Alex hanya diam dan bergerak mendekati sasarannya. "Sekarang kau hanya sendiri seluruh anak buah yang mengelilingimu sudah mati."


Julian mengeraskan kepalan tangannya, melayangkan pukulan untuk melawan Alex Tapi serangannya itu di tangkis dengan sangat mudah. "Bedebah, berani sekali kau melakukan ini padaku!" 


kecurigaan Alex di saat itu membuat Samuel tak bisa untuk mengabaikan, dia terus menyelidiki dan memantau pergerakan dari musuh hingga dia menemukan bahwa Julian selalu mengikuti Eve kemanapun gadis itu pergi. Dia mengatakan kepada Niko, Niki dan juga Alex untuk memberitahu pergerakan musuh yang masih mengincar adik sepupu mereka. 


Julian merasa dirinya tidak mempunyai banyak waktu lagi, karena keempat pria sudah mengetahui rencananya yang ingin menculik Eve. Tidak ada pilihan lain selain bertarung untuk mempertahankan diri, kemarahan saat dirinya sudah terjebak.


"Jangan habiskan tenagamu untuk melawannya, biarkan ini menjadi urusanku." Samuel berjalan mendekati Julian dan meminta Alex untuk mundur, menatap mata musuh dengan sengit. "Mari kita buktikan, siapa yang lebih pantas bersama Eve."


Twins N, Alex dan Eve memperhatikan pertarungan antara dua orang yang memperjuangkan cinta mereka. Sedangkan Julian dan Samuel bersiap-siap untuk bertarung di area terbuka.


"Mau bertaruh?" celetuk Niko yang melirik kembarannya dengan sekilas.


"Tentu saja, aku di kubu Samuel." Jawab Niki.


"Aku di kubu psikopat itu, aku harap dia membuat wajah Sam babak belur, pasti sangat seru!" 

__ADS_1


Eve sedikit takut mengenai perkelahian dua orang pria yang sama-sama mencintainya dengan cara masing-masing, satu hal yang pasti adalah ketiga kakak sepupunya masih saja menjadikannya umpan. "Kapan mereka merencakan ini semua? Dan bagaimana mereka berempat bisa bekerjasama? Hah, aku sangat pusing memikirkan hal ini." Gumamnya. 


__ADS_2