
Lili berjalan ke arah semua orang dengan penuh keyakinan menatap sang suami beserta istri keduanya, dia sangat kesal dan juga marah, mengingat jika pria itu berani memakai hartanya demi wanita lain. Disisi lain, Bramantyo dan istrinya sangat terkejut membelalakan kedua mata, lidah seakan keluh, berdiam diri bagai patung. Tak percaya dengan apa yang dilihat oleh mata dan kepalanya sendiri.
"Kenapa wanita sialan itu ada di sini? Apa wanita itu sudah sembuh? Tapi aku merasa, jika obat yang pernah aku berikan padanya beberapa tahun yang lalu sangatlah manjur." Batin Manda yang menatap heran.
Sementara Samuel melirik asistennya, yang menganggukkan kepala, memberikan isyarat jika semua telah dilaksanakan dengan sangat baik. Bahkan sang asisten juga memanggil Ibu atasannya untuk datang ke Mansion, dan membongkar kebusukan dari Bramantyo dan juga istrinya.
"Lili, kau ada di sini? Bu-bukankah kau__." Bramantyo sangat gugup terkejut dengan kehadiran isi pertamanya yang terlihat baik-baik saja, bahkan mulutnya tak mampu mengucapkan dan lanjutkan perkataannya.
"Di rumah sakit jiwa maksudmu?" Sambung Lili yang sangat mengerti kemana arah pembicaraan mereka, dia tersenyum menatap suaminya yang sudah lama menelantarkan putra mereka dan juga dirinya di rumah sakit jiwa. "Tadinya memang begitu, tapi keajaiban yang nyata menghampiriku dan membuat aku sembuh total. Ayolah, mengapa kalian menatapku seperti melihat hantu saja!" keluh Lili yang mendelik, berpura-pura tidak memahami keadaan yang sedang terjadi.
"Kenapa kau ada di sini? Seharusnya tempatmu adalah di rumah sakit jiwa, sebaiknya kau kembali demi kesehatanmu." sela Manda yang berusaha menutupi kegugupannya dengan bersikap manis seolah-olah menjadi adik madu yang paling terbaik.
"Aku sudah sembuh, kau tidak perlu mencemaskan kesehatanku." Ketus lili yang melirik adik madunya dengan sinis, dia bukanlah wanita bodoh yang mudah ditipu ada begitu banyak bukti yang didapatkan oleh asisten Li. Bahkan tidak menyangka, jika Manda memberinya obat hingga dirinya merasa depresi berat. "Kau tidak perlu berpura-pura baik di hadapanku, buka dan lepas lah topeng dari wajahmu!"
"A-apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti!" elak Manda.
"Ck, aku sudah mengetahui segalanya mengenai keburukan mu dan apa saja yang kau lakukan kepadaku."
"Apa maksudmu dengan menjelekkan Manda?" tanya Bramantyo dengan raut wajah menahan emosi, tidak terima jika istri keduanya mendapat hinaan dari istri pertama.
__ADS_1
"Kau begitu peduli pada istri kedua mu dan melupakan aku, tapi sekarang itu tidak penting lagi. Ada hal yang lebih penting untuk menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi beberapa tahun yang lalu!" ucap lili dengan sangat tegas. "Aku kesini ingin mengambil hak yang kalian nikmati selama beberapa tahun."
Bramantyo mulai mengerti dan mencerna situasi saat ini hingga dia menghampiri istri pertamanya hendak memeluk untuk melepaskan rindu. "Syukurlah, akhirnya kau sembuh. Aku tidak menyangka jika istri yang paling aku sayangi dalam keadaan baik-baik saja dan kita bisa berkumpul seperti dulu."
"Omong kosong! Aku tidak peduli lagi dengan apa yang kau katakan! Dan itu tidak akan mempengaruhi keputusan akhirku."
Manda dan Bramantyo sangat takut dengan ketegasan Lili, tak menyangka jika wanita yang selama ini dianggap remeh malah menyerang balik.
Lili menarik nafas dalam-dalam menatap dua orang yang mengkhianati nya secara bergantian. "Aku ingin bercerai! semua surat-suratnya sudah aku siapkan, kau hanya perlu menandatangani. Tidak ada harta gono-gini setelah perceraian kita, karena kau sudah menghabiskannya dengan istri kedua mu."
Samuel tersenyum tipis karena dia tak menyangka jika sang ibu begitu luar biasa, dan sangat cerdas dalam menghadapi para musuh, tidak ada kata lemah ataupun merasa rasa yang masih tertinggal. "Aku mengerti sekarang, jika ketangguhan ku diturunkan dari ibu." Batinnya yang sangat bangga dengan sang ibu.
"Sekarang kalian sudah mengerti, maksud dan kedatangan kami ke sini. Secepatnya berkemas lah, dan pergi dari Mension milik keluarga Matthew yang sesungguhnya." Sela Samuel.
Manda menolak untuk meninggalkan Mension, tetapi beberapa orang yang memberikan surat-surat dan juga menuntutnya jika bersikeras untuk tetap tinggal di sana. Keributan yang terjadi semakin memanas saat Liam datang ke tempat itu, dia sangat terkejut melihat begitu banyak koper yang berada di tangan para suruhan Samuel.
"Apa yang terjadi? Mengapa kau mengusir ibuku dari kediamannya sendiri?"
Seketika Samuel berbahak mendengar penuturan Liam yang begitu penuh keyakinan. "Apa kau bercanda? Mension yang ke tempati dan semua fasilitas yang kau dapatkan merupakan hak ku dan juga ibuku."
__ADS_1
"Aku tidak mengerti!"
"Tanyakan saja kepada ibumu dan juga ayahmu itu, mereka akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kau tak tidak perlu repot-repot untuk menanyakan hal ini, aku yang akan menjelaskannya. Sesuai yang aku katakan, jika semua fasilitas dan juga properti adalah milikku! Milik keluarga Matthew yang sesungguhnya."
Liam tidak bisa mengatakan apapun lagi, dia menoleh ke arah ibunya untuk menanyakan sesuatu, namun Manda hanya diam saja, menandakan semua yang dikatakan oleh Samuel benar adanya. Sakit yang berjalan di hatinya begitu kental terasa, karena selama ini sama ibu membohongi nya. Dia tidak bisa berbuat apa pun lagi, untuk membela ibunya. Bergegas naik tangga menuju kamarnya, dan mengemasi semua pakaian dan pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun karena berasa kecewa.
Samuel sangat puas dengan apa yang terjadi, melihat secara langsung mengenai kehancuran dari istri kedua yang tamak dan juga serakah.
Bramantyo dan istri keduanya tak mempunyai pilihan lain selain meninggalkan Mension dengan perasaan yang sangat kesal juga penuh amarah, setelah menandatangani surat perpisahan dengan istri pertama.
Lili dan Samuel menatap punggung yang mulai menjauh, kehancuran dengan kehilangan semua harta.
"Sekarang kita bisa tinggal di sini, dan tujuan kedua Ibu ingin melihatmu menikah!" ucap Lili yang membuat Samuel terbatuk.
"Tidak ada yang menginginkan ku." Elak Samuel seraya menutupi rona di wajahnya.
"Sangat lemah! Mengapa kau tidak berusaha untuk meluluhkan Eve? Dia gadis yang sangat baik dan aku menyukainya, segera berikan Ibu seorang menantu." Rengek Lili yang ingin melihat putranya bersanding dengan seorang wanita di altar pernikahan.
"Ibu duduk dan diam saja! Pria kelas kakap sepertiku dengan mudah menaklukkan si kepala batu, lihatlah tanggal mainnya." Jawab samuel dengan begitu bangga.
__ADS_1
Sedangkan asisten Li dan beberapa orang hanya menanggapi dengan tersenyum dengan kebahagiaan yang atasan.