Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 32 - Di kantin


__ADS_3

Eve tak terlalu memusingkan hal itu, dia hanya ingin hidup tenang mengingat kebebasannya ada di tangan ketiga kakak sepupunya. Menghela nafas dengan jengah, dia tak mengerti situasi apa yang akan dia hadapi nantinya. "Astaga…aku bahkan belum berlatih apapun sejak setahun terakhir ini, sebaiknya aku kembali mengasah ilmu seni beladiri ku." Batinnya yang tersenyum sekilas. 


"Apa yang kau pikirkan?" ucap Anita yang memecahkan lamunan sahabatnya. 


"Tidak ada, aku hanya lapar saja!"


"Wah, kebetulan sekali. Ayo, ke kantin!" seru Anita yang memegang perutnya, dia juga lapar. 


"Eh, tumben sekali kau ingin ke kantin. Kau jangan tersinggung dengan ucapanku, bukankah keuanganmu sekarang itu sulit?" Eve menatap wanita itu dengan menyelidik, mengerutkan kening akibat penasaran. 


"Itu memang benar, aku bekerja paruh waktu. Berhentilah menatapku seperti itu," cetus Anita yang cemberut. 


"Ya sudahlah, ayo!" pasrah Eve yang diam-diam melirik sahabatnya. Mereka pergi ke kantin dan memilih duduk di pojok, sesuai permintaan Anita. Mereka memesan makanan dan menunggu sambil berbincang. Tak lama, makanan yang telah di pesan telah tersaji di atas meja dan tersusun dengan rapi. 


"Hai, Baby!" sapa Liam yang mengedipkan sebelah matanya, tersenyum menawan untuk menarik perhatian seorang gadis. Baru saja Eve menyuapi mulutnya dengan makanan, tapi kedatangan seseorang membuatnya tersedak. 


Dengan sigap Anita memberikan segelas air mineral dan menatap Liam dengan tajam. "Kau seperti Jelangkung, datang secara tiba-tiba." Bentaknya sarkas.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengagetkan Eve." Sahutnya dengan raut wajah polos.


"Apa kau ingin membunuhku?" ketus Eve yang sangat kesal, menolak pinggang menatap pria itu.


"Ayolah, Baby! Maafkan calon suami tampanmu ini." Liam berakting seakan-akan menjadi orang tak berdaya juga teraniaya.


"Hah, baiklah." Pasrah Eve sembari mengalihkan perhatiannya kepada makanan diatas piring yang tampak menarik. 


Liam melihat begitu banyak makanan, dan hampir memenuhi meja. Memegang perutnya yang berbunyi, karena tak tahan dengan terpaksa mengambil makanan dan memakannya. "Jika kau lapar, sebaiknya memesan. Itu punya ku!" ketus Anita yang cemberut. 


Sedangkan tersangka hanya menyengir kuda, tidak terlalu menghiraukan nya. "Butuh waktu untuk memesannya, aku sangat baik dengan membantu kalian menghabiskan semua makanan ini."


"Dasar pria kere!" cibir Eve dengan jengah. 


"Bagaimana kau akan menikahi Eve? Bahkan kau sendiri tak punya uang, dan bahkan pekerjaan," sela Anita.


"Uang bisa dicari, keluarga ku sangat kaya dan aku juga mempunyai beberapa usaha kecil." Jujur Liam yang tersenyum, dan kembali menyantap makanannya. 


"Wow, lumayan. Aku tidak menyangka jika kau pria mandiri, karena selama ini aku berpikir kau hanya tahu minta uang saja." Ucap Anita. 


"Aku pernah berkata untuk tidak menilai seseorang dari covernya saja."


"Aku terkesan," celetuk Eve. 

__ADS_1


"Benarkah?" kedua sorot mata Liam berbinar cerah, seakan mendapatkan lotre ratusan juta. 


"Itu benar."


"Menikahlah denganku, kita akan berbisnis dari usaha kecil."


"Hentikan becandanya, Liam!" tekan Eve. 


"Ups…sorry! Aku hanya bercanda saja."


"Hem."


Setelah selesai mengisi perut, ketiganya memutuskan untuk kembali ke kelas. Liam selalu saja menggoda Eve, berharap gadis itu luluh dengan rayuannya. 


"Bagaimana jika kita menonton di bioskop?" tawar Liam bersemangat. 


"Itu ide yang sangat bagus," sela Anita yang tampak antusias. 


"Aku hanya mengajak Eve saja," jawab Liam dengan jujur. 


"Ck, dasar pilih kasih." Gerutu Anita yang berjalan lebih dulu, memberi ruang kepada Liam untuk mendekati sahabatnya. 


"Bagaimana Eve? Apa kau setuju?" 


"Bagaimana jika aku mengajakmu jalan-jalan?"


"Tidak," tolak Eve, karena dia akan berlatih untuk mengasah kemampuannya di markas Black Wolf.


"Besok pagi, habiskan waktu seharian bersama denganku. Ku mohon!" bujuk Liam yang memohon membuat Eve bersimpati, dan mengangguk setuju. 


"Aku setuju, hanya untu sehari saja."


"Tidak masalah."


Eve tersenyum seraya melangkahkan kaki lebih dulu dan meninggalkan Liam yang kegirangan. "Waktu yang cukup untukmu mengenalku, Eve. Semoga saja kau juga mencintaiku!" gumamnya yang juga pergi dari tempat itu. 


Di dalam kelas, Eve memperhatikan dan mencatat beberapa point penting yang baru saja diterangkan oleh dosen. Julian yang duduk di hadapannya selalu saja menoleh ke belakang dan tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya. "Ada apa dengannya?" bbatin Eve yang tak menanggapinya. 


"Kenapa hanya Eve saja?" gumam Anita yang cemberut, karena pria yang ditaksirnya menyukai sahabatnya sendiri. 


Seseorang yang menangkap kejadian itu sangatlah kesal, menahan amarah saat Julian diam-diam melirik gadis yang dicintainya. Karena jarak mereka tidak jauh, Liam menendang keras kursi yang diduduki oleh pria berlesung pipi. 

__ADS_1


"Apa kau punya masalah denganku?" tekan Julian yang menoleh ke arah Liam dengan aura membunuh, dan dingin. 


"Sebaiknya kau kondisikan lirikan matamu."


"Aku dua langkah di depanmu, jangan mengusikku atau kau hanya tinggal nama saja." Ancam Liam yang tersenyum devil. 


"Jangan berdebat!" tegas Eve yang mulai kesal. 


Kedua pria itu terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun, hal itu membuat Anita berbinar. "Wah, Eve. Sepertinya kau sangat ahli dalam mengendalikan pria," godanya. 


"Kau terlihat sedang mencibirku," cetus Eve. 


"Tidak, kau hanya salah paham saja. Karena tidak ada mata kuliah lagi, aku harus pergi!" pemit Anita yang bergegas pergi. 


"Kau mau kemana?" pekik Eve yang menatap punggung Anita. 


"Aku harus bekerja," jawabnya. 


Tinggallah Eve, Liam, dan Julian. Suasana yang terasa canggung memutuskan untuk pulang ke Mansion. "Kau mau kemana?" ucap Julian yang mencekal tangan gadis berkacamata tebal itu. 


"Aku ingin pulang."


"Aku akan mengantarmu," sambut Julian dan Liam serempak, sedangkan Eve menatap mereka secara bergantian. 


"Tidak!" tolak Eve yang bergegas meninggalkan tempat itu. 


****


Di sisi lain, Samuel tak fokus dengan pekerjaannya. Menjadi tak bersemangat karena sang asistennya tidak menemukan petunjuk apapun mengenai musuh Eve yang sesungguhnya. 


"Kenapa kau tidak bisa menemukan informasi dari musuh Eve Wijaya?" 


"Tuan Niki lah yang memutuskan semua aksesnya, dan kita kesulitan untuk mendapatkan informasi lanjutan."


"Sial, apa Niki tidak tahu mengenai musuh yang akan menyerang Eve?"


"Sepertinya belum, apa Tuan sudah terjebak dengan cinta?" seloroh asisten Li yang menggoda atasannya. 


"Sialan! Apa kau ingin aku memotong gajimu? Tidak mungkin aku menyukai gadis jelek itu, tapi aku menyukai gadis cantik di Cafe." Samuel kembali membayangkan pertemuannya saat berada di Cafe Floress, tapi sedikit bingung karena tidak ada informasi apapun mengenai gadis cantik itu. 


"Ampun, Tuan. Jangan potong gaji saya!"

__ADS_1


"Karena aku bos yang sangat baik, maka aku memaafkan asisten laknat sepertimu." Celetuk Samuel yang membusungkan diri dengan penuh percaya diri. Jangan tanya bagaimana ekspresi asisten Li, dia hanya mengelus dada dengan sabar, mengingat posisinya. 


__ADS_2