Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 40 - Cacing kepanasan


__ADS_3

Eve melepaskan pelukannya dan menatap pria psikopat itu dengan raut wajah yang menggemaskan, berencana menggunakan cara halus untuk menaklukkan pria kejam itu.


"Pakai bajumu!" ketusnya yang berlalu pergi terhenti karena tangannya ditarik hingga menabrak dada bidang di hadapannya. "Astaga…tubuhnya sangat seksi sekali, jika di lihat? Pasti daddy akan memarahiku. Jika aku mengabaikannya? Aku merasa rugi." Batinnya berkecamuk memikirkan langkah apa akan yang digunakan. 


Dia sangat menyukai para pria yang berbadan atletis dan macho, hobi yang tidak bisa dilanjutkan karena sang ayah mengetahui semua itu dan memarahinya. Selama ini, Eve hanya menutupi hobinya itu setelah beberapa tahun terakhir dan bertingkah layaknya seorang gadis biasa. 


Julian menjentikkan jarinya dan membuat gadis cupu itu tersadar dari lamunannya. "Kenapa kau melamun?" 


"Tidak, cepat lepaskan aku!" pekik Eve memberontak.


"Diamlah!" tukas Julian seraya bertepuk tangan dua kali untuk memanggil pelayan dan memesan sepiring makanan. Tak butuh waktu yang lama, makanan telah tersaji di atas nakas. "Buka mulutmu!" ucapnya sembari menyodorkan sendok yang berisi makanan.


"Aku bukan anak kecil, tidak perlu menyuapiku!"


"Buka mulutmu!" 


"Perutku masih kenyang dan jangan memaksa!" tolak Eve yang tidak makan.


Julian tak memperdulikan keluhan gadis cupu itu, mencengkram mulut Eve dan menuntun sendok untuk masuk ke dalam mulutnya. Sedangkan sang empunya sangat marah dengan sikap yang menurutnya tidak adil. Terpaksa memakan makanan yang disuapi oleh pria berlesung pipi.


Segera Eve merebut piring yang berisi makanan, ingin menyuapinya sendiri dan tak ingin berdekatan dengan Julian. "Biar aku saja!" cetusnya.


"Tidak, aku yang akan menyuapimu." Keukeuh Julian.


Eve menjadi kesal dan merebut piring itu kembali. "Aku masih mempunyai tangan, tidak perlu mencemaskan aku!" 


Julian menatap wajah cantik di hadapannya penuh arti, mengambil pisau lipat di saku celananya dan menggores jari Eve hingga mengeluarkan banyak darah. "Apa kau gila? Aku hanya menolakmu, tapi kau malah melukai jariku." ketus gadis cupu yang meringis kesakitan.


Dia hanya diam melihat darah yang mengenai sprei, tersenyum melihat kondisi Eve. Julian membuka laci nakas dan melihat kotak P3K, menyentak kedua tangan lentik itu dan membalutnya. "Ayo makanlah!" paksanya yang kembali menyuapi.


"Dasar pria sakit! Dia melukai jari dan tanganku hanya ingin menyuapiku? Aku menandai pria kaparat ini dengan sangat jelas." Batin Eve yang sangat geram, membuka mulutnya dan mengikuti permainan dari pria kejam itu.


"Apa kau sudah kenyang?" tanyanya dengan lembut, membelai rambut indah milik Eve.

__ADS_1


"Ya, aku sudah kenyang. Terima kasih telah menyuapiku, lain kali tidak perlu repot-repot untuk melakukannya!" cetus Eve.


Betapa senangnya Julian, karena selama ini tidak ada yang pernah dekat padanya. Tersenyum memperlihatkan dua lesung pipinya menambah nilai plus ketampanan yang dimiliki. "Aku akan tidur di sini!" putusnya yang membuat Eve terbelalak kaget.


"Tidak boleh, apakah pantas seorang pria dan wanita tidur di kamar yang sama?"


"Bukan di kamar, melainkan satu ranjang." Ralat Julian yang semakin membuat Eve syok.


"Jangan mencoba untuk melakukan hal itu, aku bukan bonekamu yang bisa kau perintahkan."


"Dan mulai sekarang, kau adalah boneka ku. Hanya menjadi milikku untuk selamanya!" 


Eve terdiam memikirkan cara untuk menjauh dari Julian, dia tak menyangka jika pelukannya menjadi bumerang pada dirinya sendiri. "Baiklah, kau boleh tidur disini. Hanya saja__,"


"Katakan!"


"Aku sangat haus dan ingin minum jus sebelum tidur."


"Aku memanggilkan pelayan," sambung Julian yang ingin memerintahkan para pelayan, untung saja Eve mencegah dan memaksa untuk pergi ke dapur.


Sesampainya di toilet, Eve mematikan lampu untuk mengecek ada kamera tersembunyi, menyentuh cermin dan memeriksa segalanya dengan sangat cepat. Mengeluarkan sebuah ponsel yang disembunyikan, dan diam-diam mengirimkan sebuah informasi kepada Alex. "Semoga kak Alex membaca kode yang sudah aku kirimkan." 


****


Keempat pria yang berpengaruh saling duduk di meja bundar untuk menjalankan rencana, terutama Alex yang belum bisa melakukan apapun sebelum mendapatkan informasi dari Eve. 


"Kapan kita akan Bergerak?" kesal Niki yang menatap saudara sepupunya.


"Dan kenapa kau malah mengundang kuda nil ini?" sambung Niko yang melirik Samuel dengan sinis.


"Apa kau buta? Aku sekarang sudah tampan, bahkan ketampanan ku membuatmu iri padaku!" cetus Samuel yang sebenarnya enggan untuk bekerja sama dengan musuhnya itu, hanya menjalankan rencana terpaksa dia menahan segalanya.


"Hah, lupakan itu! Kalian hanya salah paham saja, karena yang terjadi bukanlah seperti yang kau pikirkan." Niki berusaha untuk menjelaskannya, tapi Samuel tak ingin mendengar apapun lagi.

__ADS_1


"Bisakah kalian diam?" tegas Alex dingin membuat perdebatan kecil itu terhenti.


Tak lama terdengar suara dering ponsel yang sudah diatur sedemikian rupa, sebuah pesan kunci menggunakan kode yang hanya diketahui oleh keluarga Wijaya. Alex segera membaca pesan dari Eve dan tersenyum lega, karena sang adik dalam keadaan baik. 


"Kenapa kau tersenyum?" tanya Niki heran.


"Eve mengirimkan pesan padaku!"


"Pesan?" seloroh Niko.


"Ya, dia mengatakan jika keadaannya baik-baik saja. Dia juga mulai mendekati psikopat itu, berharap jika pria itu takluk."


"Apa maksudmu?" desak Samuel yang ingin penjelasan lebih.


"Nyawa Eve tergantung dengan sikapnya kepada Julian." Jawab Alex membuat kedua pria lainnya mengerutkan kening.


"Aku masih tidak mengerti!" Niki menggaruk kepalanya, dan memikirkan perlakuan seperti apa yang dilakukan Eve.


"Tentu saja kau tidak akan mengerti, karena selama ini kau sibuk dengan kekayaan saja." Celetuk Niko yang memahami jika Eve tengah bermain cantik.


"Jangan mengejekku, jika kau mengerti? Tolong, jelaskan padaku!"


"Begini, Eve memberikan pria itu rasa kenyamanan yang tidak didapatkan dari siapapun. Hal itu akan memperpanjang umur si Annabelle, semacam memeluknya." Jelas Niko dengan santai.


"APA?" Samuel menggebrak meja membuat ketiga pria itu sedikit terkejut dan mengalihkan perhatian ke arahnya.


"Kenapa kau sangat berlebihan?" cibir Niki.


"Apa sekarang kau mulai menyukai Annabelle ku?" selidik Niko.


"Apa kalian tidak mengkhawatirkan Eve?" tukas Samuel seakan tak terima jika gadis cupu itu bermesraan bersama pria lain, hatinya terasa panas.


"Itu hanya dilakukan dalam situasi terdesak, kenapa kau terlihat seperti cacing kepanasan?" seru Niki.

__ADS_1


Samuel hanya terdiam dan kembali duduk, sedangkan Alex hanya menjadi penonton dari ketiga pria yang menurutnya sangat aneh juga kekanak-kanakan. "Kita mulai membuat taktik penyerangan!"


Semuanya setuju dan mulai melakukan penyerangan, sedangkan Samuel menjadi tidak tenang bila memikirkan tindakan Eve yang sangat berlebihan. "Aku tidak yakin, jika mantan pelayanku dapat menaklukkan psikopat. Apalagi dengan tampilannya yang sangat jelek!" batinnya.


__ADS_2