Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 48 - Dave


__ADS_3

Kepulangan semua orang di sambut oleh Eve dengan sangat baik, mempersiapkan segalanya dengan sangat baik. Kedua mata berbinar saat melihat kedua kakeknya telah sembuh, tersenyum bahagia tak pernah luntur di wajahnya.


"Kakek, aku merindukanmu!" Eve memeluk kakeknya bernama Nathan, pemimpin keluarga yang sekarang diambil alih oleh Alex. 


"Kakek juga merindukanmu," balas kakek Nathan.


"Apa kau hanya merindukan pria tua itu? Dan melupakan kakek tampan mu ini?" sela kakek Bara, adik ipar dari kakek Nathan.


Eve melepaskan pelukannya dan segera memeluk kakek Bara. "Aku juga merindukanmu, Kek. Apa kondisi para kakek ku sudah sembuh? Aku merasa sebatang kara di sini." Keluhnya mengerucutkan bibir.


"Bukankah itu bagus? Kakak bisa menguasai tempat ini." Sela seorang anak laki-laki yang bernama Dave, anak bungsu dari pamannya, Kenzi.


"Ini tidaklah seru jika kau tidak di sini!" jawab Eve memeluk anak kecil yang berusia 10 tahun.


"Apa kami akan berdiri di luar saja?" celetuk Kenzi.


"Hah, hampir saja aku melupakannya. Silahkan masuk, Mansion sudah aku bersihkan dalam tahap kinclong." Sambut Eve yang tersenyum.


Semua keluarga besar itu segera masuk, merindukan kediaman mereka setelah beberapa tahun tinggal di luar negeri. Mereka duduk di sofa dan bercengkrama, bersenda gurau membuat tempat itu kembali ramai.


"Kapan kalian akan menikah?" tanya kakek Nathan menatap twins N dan Alex secara bergantian.


"Tentu saja Niko terlebih dulu," sahut Niki.


"Mengapa harus aku?" seloroh Niko menautkan kedua alisnya.


"Bukankah kau dekat dengan wanita cupu dan kuno itu, Arabella." Goda Niki.


"Ck, tapi aku sangat yakin, jika kaulah yang lebih dulu menikah dengan gadis kaleng rombeng itu." Balas Niko tak ingin mengalah.


"Oho, jadi kedua putra kembar Daddy sudah mempunyai calon masing-masing?" seru El selaku orang tua.


"Tidak!" jawab twins N yang kompak.


"Bisakah kita membahas hal lain saja?" 


"Itu tidak mungkin, kami sangat menginginkan kalian bertiga berumah tangga dan mempunyai keluarga kecil." 


Eve hanya terdiam saja, dia tidak tertarik dengan pembahasan pernikahan ketiga kakak sepupu laki-lakinya. Dia menatap kembaran Alex yang bernama Lexa, dan Lexi. Kedua wanita kembar yang sulit dibedakan, selalu menyukai hal yang sama. 


"Kenapa kau menatap kami begitu?" tanya Lexa.


"Tidak ada, apa kalian juga tinggal di sini?"


"Hanya seminggu saja, aku akan melanjutkan karir di luar negeri," sahut Lexi.


"Dan seperti biasa, aku akan pergi bersama Lexi," sambung Lexa.


"Hem."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Tidak, hanya bertanya saja."


Eve sedikit kecewa, apalagi kedua kakak sepupu kembar itu selalu ke luar negeri untuk menjalankan bisnis menjadi desainer. Terdengar suara dering ponsel membuatnya segera mengangkat telepon, tertera jelas siapa yang menghubunginya. Enggan untuk mengangkat, membuat Lexa dan Lexi menatapnya. "Ponselmu sangat berisik sekali, angkatlah!" 


Eve mengangguk dan mengangkat telepon dari Samuel. 


"Ada apa?"


"Cepatlah kesini!" 


"Kemana?" 


"Apartemen ku, sekarang juga!"


"Aku tidak bisa kesana."


"Cepat lakukan! Apa kau ingin terjadi sesuatu pada sahabatmu?"


"Jika kau sampai menyakiti Anita? Maka kau akan aku habisi."


"Terserah kau saja, jangan lupa untuk berdandan!"


"Berani sekali kau me__," belum sempat Eve menyelesaikan perkataannya lebih dulu sambungan telepon terputus. "Dasar pria sinting!" umatnya kesal dan terpaksa bersiap-siap.


Setelah bersiap-siap di dalam kamarnya, berdandan sangat cantik dan terlihat natural. Dia menyadari, jika seseorang tengah mengintipnya di sela pintu. "Mengapa kau di sana? Ayo, masuklah!" ucapnya dengan lembut.


"Ingin mengunjungi teman."


"Apa Dave boleh ikut?" serunya dengan tatapan berbinar.


"Bukankah Dave baru sampai? Sebaiknya di sini saja."


"Tidak, Dave ingin ikut!" rengek bocah itu. 


Dave sangat menyayangi Eve melebihi kakaknya sendiri, mereka sangat dekat. Bocah laki-laki yang terlihat kalem, dan menggemaskan di mata Eve. Tapi, berubah menjadi sangat nakal jika berhadapan dengan orang asing.


"Baiklah, kita akan pergi bersama. Berjanji pada Aunty untuk tidak nakal!"


"Dave janji, Aunty!"


"Bagus."


****


Samuel melirik jam mahal yang melingkar di tangannya, menunggu kedatangan kekasihnya berniat untuk Dinner romantis, sebagai usaha untuk meluluhkan Eve. 


Tak lama terdengar suara bel, dengan segera memerintahkan pelayan untuk membukakan pintu. 

__ADS_1


"Ada apa kau memintaku kesini?" tanya Eve to the point. 


Samuel tersenyum dan segera berdiri menghampiri asal suara, menatap penampilan kekasihnya yang sangat cantik. Kecantikan alami membuatnya mabuk, tatapan penuh kekaguman. "Kau sangat cantik sekali, Honey!" pujinya yang hendak memeluk tubuh mungil itu. Namun terhalang saat seseorang menarik jas nya, dia menoleh ke bawah dan melihat siapa pelakunya.


"Jangan mendekat! Atau Paman akan terkena masalah!" ancam Dave dengan sorot mata yang tajam.


"Menapa kau membawa telur cicak kesini?" Samuel mengalihkan perhatiannya, menatap gadis cantik di hadapan.


Dave mengepalkan kedua tangannya, kesal dengan pria yang berani mengejeknya. Seketika tersenyum saat ide jahil muncul di benaknya. 


"Hei, dia adikku."


"Benarkah? Bukankah kau anak tunggal?"


"Adik sepupuku, bukankah itu sama saja!" 


Samuel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melirik bocah laki-laki tersenyum penuh arti kepadanya. "Sial! Seharusnya ini menjadi dinner romantis, tapi Eve malah membawa telur cicak itu." Batinnya.


Saat makan malam romantis merubah menjadi makan bersama, Samuel sangat kesal namun berusaha untuk mencairkan suasana. "Kau sangat cantik malam ini," pujinya.


"Terima kasih," balas Eve tersenyum sekilas. 


Samuel tak berputus asa untuk mendekati gadis itu, melemparkan gombalan dan menggoda Eve menggunakan keahliannya. Dave sedari tadi memperhatikan hal itu, membuatnya geram. "Paman!" panggilnya.


"Iya, kenapa?"


"Apa Paman mempunyai coklat?" 


"Kau ingin coklat?" tanya Samuel yang di anggukkan kepala oleh bocah laki-laki itu. "Pelayan, ambilkan coklat!"


"Baik, Tuan."


Samuel menoleh ke arah Dave, mengacak-acak rambut bocah tampan itu. "Katakan saja, jika kau menginginkan sesuatu!"


"Sepertinya aku tidak menginginkan coklat." Celetuk Dave dengan raut wajah tanpa dosa.


Samuel mengerutkan keningnya, karena dia tak mengerti kenapa anak laki-laki itu mengubah keputusannya dengan cepat. Sedangkan Eve hanya menahan senyum, mengetahui tindakan Dave.


"Pelayan!" panggilnya lagi.


"Iya, Tuan."


"Tidak perlu mengambilkan coklat."


"Baik, Tuan."


Setelah makan malam selesai, Samuel memaksakan diri untuk mendekati kekasihnya. Bibir merah merekah membuat imannya semakin tipis, ingin sekali dia mencium Eve. 


"Dalam hitungan tiga…dua…dan__," gumam Dave menghitung waktu, karena sebelumnya sudah memberikan obat pencuci perut pada Samuel yang selalu menempel dengan Eve.

__ADS_1


Terdengar suara memekakkan telinga, namun reaksinya luar biasa sangat bau jika tertangkap oleh indra penciuman. Eve bahkan tak sengaja menendang Samuel hingga terjerembab ke lantai. "Dasar jorok!" umpatnya kesal dna menutup hidungnya.


"Itu hanya kentut, dan jika di tahan malah menjadi penyakit." Kilah Samuel yanb hampir saja kehilangan wajahnya karena merasa malu, memegangi perut seraya pergi menuju toilet. "Siapa pelakunya?" gumamnya di dalam hati.


__ADS_2