
Di malam hari, Samuel sangat deg-degan menunggu esok hari. Tidak ingin menggunakan kursi roda yang hanya memperlambat gerakan, dia lebih memilih untuk menggunakan tongkat khusus.
"Aku harus bertindak cepat atau ketiga pria malang itu pergi dari sini, dan bisa mempengaruhi Eve." Samuel berjalan melewati lorong dan mencari keberadaan sang petuah. Perut yang terasa ngilu, juga tangannya tak membuat semangatnya sirna. Dia ingin bertindak cepat, waktu yang tidak lama juga dempet.
Samuel menyusuri pandangan di setiap ruangan untuk mencari keberadaan Nathan yang membuat keputusan di keluarga itu, tapi tak menemukannya. "Kemana perginya kakek?" monolognya yang terus mencari tanpa peduli akan kesehatannya.
Dita melihat Samuel dalam keadaan gelisah, segera menghampiri untuk menanyakan apa yang dibutuhkan oleh calon cucu menantunya. "Apa kau butuh sesuatu?"
"Nek, dimana kakek Nathan? Sedari tadi aku tidak melihatnya."
"Kakek sedang berada di luar, ingin menemui kolega dan rekan bisnisnya dulu. Mungkin sebentar lagi akan pulang, apa ada yang ingin kau sampaikan?"
"Tidak Nek, bukan apa-apa."
"Jika butuh sesuatu, jangan sungkan memberitahuku."
"Baik Nek." Samuel tersenyum dan menatap punggung wanita tua yang semakin menjauh darinya. "Astaga…bagaimana ini? Cukup sulit untuk menemui kakek Nathan sekarang ini." Gumamnya dan segera mengeluarkan ponsel untuk menghubungi asisten Li, memerintah agar rencananya berjalan mulus.
Di sisi lain, Eve sangat deg-degan dan tidak bisa melakukan apapun dengan benar. Lea mengerti apa yang dirasakan oleh putri semata wayangnya, sangat grogi di saat esok hari menikah. "Tidak perlu mencemaskan apapun, Mom tidak menyangka jika putri kesayanganku akan menikah."
"Tapi Mom, tetap saja pernikahan ini sangat menegangkan, memacu adrenalin." Rengek Eve yang gemetaran.
"Tidak perlu cemas, persiapkan saja dirimu dengan sangat baik. Jangan lupa untuk menjaga kesehatan juga staminamu," sambung Anita yang menahan tawa.
"Kau, jangan katakan apapun lagi. Jika kau hanya ingin mengejekku, sebaiknya keluar dari sini!" usir Eve yang sangat kesal, sementara para wanita di ruangan itu tertawa melihat tingkah konyol sang mempelai wanita.
"Apa kau membutuhkan sesuatu, Sayang?" tanya Anna.
"Tidak, Bi. Hanya saja__."
"Apa?"
"Bagaimana dengan kuliahku? Aku ingin mengambil gelar sarjana, walau hanya gelar S1 saja."
"Kau tenang saja, Samuel pasti mengizinkan mu untuk menyelesaikan kuliah." Sahut Lili yang tersenyum.
"Benarkah?"
"Iya, aku yakin itu. Sam sangat mencintaimu, dia akan mengerti dan tidak akan membatasi pendidikanmu." Jelas Lili yang meyakinkan.
Semua orang meninggalkan Eve dan juga Anita dalam satu ruangan, berikan ruang untuk sahabat itu dan bercengkrama sebelum hari pernikahan.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, ternyata apa yang dikatakan oleh Tuan Samuel terkabul. Jika kau adalah calon istrinya, ya walau dia sedikit menakutkan bagiku."
"Hah, entahlah. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa mencintai pria sinting itu."
"Hus…tidak boleh mengatakan calon suamimu pria sinting."
"Aku berkata benar."
"Memang, itu artinya kau istri sinting."
"Kau ada-ada saja."
"Ada yang ingin aku sampaikan padamu, dan ini sangatlah penting."
"Ya, kau bisa mengatakannya." Sahut Eve menganggap perkataan sahabatnya remeh.
Anita mendekatkan dirinya dan mulai berbisik. "Kata orang, malam pertama itu sangatlah menakutkan bagi kaum wanita."
Seketika ketakutan Eve semakin bertambah, saat menceritakan bagaimana malam pertama yang amat menyakitkan bagi seorang wanita.
"Bagaimana kau tahu? Kau bahkan belum menikah?"
"Heh, kau membuat aku takut saja. Tapi itu tidak akan terjadi, karena kondisi Sam tidak memungkinkan."
"Tapi kau tidak bisa mengabaikannya, aku pergi dulu! Banyak hal yang harus aku kerjakan di sini."
"Jangan tinggalkan aku di ruangan ini, aku sangat jenuh. Bawa aku keluar!" pinta Eve dengan mata yang berbinar.
Anita bertolak pinggang, serta tatapan mata jengan. "Calon pengantin tidak boleh bertemu sebelum menikah, atau nasib sial akan menghampiri kalian."
"Itu hanya mitos, lagipula aku hanya ingin melihat semua orang bukan melihatnya."
"Tidak." Tegas Anita yang mengunci pintu, bergegas pergi tanpa menghiraukan teriakan Eve yang mengumpat. "Sebaiknya aku makan dulu, perutku sangat lapar. Setelah itu baru membantu kesibukan semua orang," gumamnya mencari makanan.
Lain halnya dengan twins N dan Alex yang sudah mengemasi semua pakaian dan kebutuhan lainnya, tidak ada uang sepeserpun membuat mereka hanya mengelus dada. "Cepat selesaikan mengemasi pakaian mu!"
"Ck, diamlah! Aku sangat pusing, semua fasilitas sudah dicabut. Tidak ada apapun yang tersisa, tapi aku heran kau tetap santai saja." Tutur Niko menatap kembarannya dengan heran.
"Aku akan pergi dengan bebas, tanpa pengawasan Dad El juga Alex. Apa yang tidak membahagiakan dari itu?"
"Apa kau ingin jadi gembel?"
__ADS_1
"Kau bisa bertahan hidup dengan menggunakan sedikit aksi di jalan," ide Niki membuat Niko sangat kesal dan melemparinya dengan bantal kecil.
"Apa kau kira aku ini pengemis?"
"Itu pekerjaan yang bisa kau dapatkan dengan mudah, aku tidak ingin kalian berdua mengikutiku." Tegas Niki yang bertahan hidup menggunakan harta yang selama ini dia kumpulkan, untung saja tidak ada yang tahu.
"Apa tidak ada pekerjaan lain? Bahkan kakek juga memutuskan akses pada rekan dan juga orang lain untuk tidak membantu kita."
"Bukankah kau suka celap celup bercocok tanam? Gunakan profesi itu dan menjadi pria bayaran untuk bertahan hidup."
"Sialan, aku bukan pria murahan!" teriak Niko yang menghajar Niki, mereka bergulat seperti biasanya. Hal itu membuat Alex menghela nafas, tak berniat untuk melerai dengan pemandangan yang sering terjadi.
"Tapi itulah kenyataannya, kau pria MURAHAN!" tekan Niki yang mengejek saudaranya.
Niko sangat marah dan melakukan teknik kuncian, agar kembarannya tidak bisa berkutik. "Rasakan ini!" ucapnya semakin mengeratkan kuncian.
"Ampun…" pekik Niki tak tahan dan segera membalikkan keadaan, keduanya asih bergulat di atas lantai.
"Bedebah, cepat lepaskan aku atau kau tidak aku ampuni."
"Hehe…coba saja, tidak ada di kamus Niki Wijaya kata takut, apalagi dengan dirimu yang hanya seupil saja."
"Hentikan!" celetuk Alex yang sudah muak dengan saudaranya itu, namun perkataannya hanya dianggap angin lewat.
Byur
Seember air menghentikan pergulatan dua saudara kembar, mereka menatap sumber yang tak lain Alex sebagai pelaku. "Cara halus tidak mendengar, terpaksa menggunakan cara kasar."
"Kenapa kau selalu saja mengganggu? Tinggal sedikit saja, aku mengalahkan Niki sialan itu."
"Kalian tumbuh di rahim yang sama, berhentilah bertikai."
****
Sorot mata Samuel berbinar cerah, melihat kedatangan Nathan yang sedari tadi ditunggu. Segera menghampiri dan memaksakan dirinya, untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. "Kek, aku ingin meminta waktu sebentar saja!" pintanya.
"Ada apa? Kau terlihat cemas?"
"Ada yang ingin aku sampaikan, hal penting."
"Kita tidak bisa bicara di sini, ayo ikuti aku!" Nathan melangkahkan kakinya menuju ruangan kosong, dan diikuti oleh Samuel.
__ADS_1