Si Cupu Untuk Tuan Samuel

Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 75 - Akhir bahagia


__ADS_3

Eve terus memegang tangan Alex dan tak rela dengan kepergian ketiga kakaknya, semua orang melihat interaksinya. 


Alex melepaskan tangan adiknya yang memegang lengannya, menyeka air mata Eve dengan sangat lembut. "Jangan menangis, aku tidak menyukai air matamu yang sangat berharga. Biarkan kami menjalankan hukuman ini, sudah seharusnya hukuman ini di jalankan." Ungkapnya yang tak ingin berbohong.


"Tapi Kak__." Belum sempat Eve melanjutkan perkataannya, lebih dulu di hentikan oleh Alex. 


"Ini tidak akan lama, jaga dirimu baik-baik." Tutur Alex.


Twins N dan Alex berpamitan dengan semua orang, bahkan kepada kedua orang tua mereka. Hanya dua orang yang tidak hadir di sana, yaitu Samuel dan juga Nathan.


"Kami pergi dulu!" pamit Niko menatap semua orang, baru beberapa langkah dia kembali menoleh ke kamar sang kakek. "Kakek bahkan tidak ingin menemui kami, dia sangat terluka dengan ini." Gumamnya yang ingin menguatkan hatinya.


Ketiga pria tampan itu melambaikan tangan kepada semua orang, mereka akan berpisah selama satu tahun dan hidup secara berpisah. "Selamat tinggal!" ucap mereka serempak.


"Ayo, hentikan putra kita!" desak Anna terhadap suaminya, dia tak ingin Niko dan Niki pergi, ada rasa tak tega menyelimuti hatinya.


"Ini sudah keputusan ayah, cukup sulit untuk mengubah keputusannya."


"Apa tidak ada cara lain? Tolong, jangan biarkan mereka pergi."


"Aku tidak bisa melakukan apapun," sahut El yang menghela nafas berat, karena membujuk ayahnya tidak akan mungkin bisa merubah keputusannya.


"Tolong hentikan Alex," desak Shena yang mengguncang tubuh Al, suaminya.


"Cukup sulit merubah keputusan ayah, mustahil." 


Kedua ibu merasakan hati yang sakit, mereka tidak bisa mengendalikan diri dan menangis untuk menghentikan kepergian anak-anaknya. Keputusan dari mertua membuat mereka tidak bisa berkutik sedikitpun.


"Tunggu!" pekik seseorang yang menghentikan aksi ketiga pria yang baru saja keluar dari ruangan itu, semua orang menatap ke asal suara. Terlihat seorang pria tua berdiri di anak tangga, sorot mata tajam dan masih terlihat tampan di usianya. Nathan melangkahkan kakinya menuruni tangga, berjalan mendekati ketiga cucunya. "Kalian tidak akan pergi kemanapun!" tegasnya membuat semua orang terperanjat.


"A-apa maksudnya Kek?" tanya Alex yang mengerutkan kening, bisa dikatakan mustahil untuk merubah keputusan pria tua itu.


"Kalian akan tetap di sini, tidak ada yang pergi." 


Twins N dan Alex tersenyum haru dan menghamburkan dirinya memeluk tubuh pria tua yang di sebut dengan kakek. "Mengapa kakek tiba-tiba merubah keputusan? Bukankah__." 


"Kau keluarlah!" Nathan memanggil seseorang yang menjadi pusat perhatian, terlihat seorang pria yang berjalan menggunakan tongkat.

__ADS_1


"Samuel?" ucap ketiganya yang tak percaya, masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.


"Ya, dia mengetahui jika kalian akan pergi dan memohon kepadaku untuk tidak mengusir cucuku karena bisa berpengaruh pada kondisi Eve nantinya." Jelas Nathan yang membuat semua orang sangat bersyukur. 


Twins N dan Alex memeluk Samuel secara bergantian, tak menyangka jika pria itu bisa menyelesaikan masalah mereka. "Aku tak sangka keputusan kakek berubah karenamu."


"Apa yang dikatakan Niko benar, bahkan kami bertiga tidak bisa melakukannya. Kau sudah membuktikan, jika kau bagian dari keluarga ini," sambung Niki.


"Bukankah kalian masih sahabatku? Aku sudah melupakan kesalahpahaman kita, hanya saja statusku sekarang adik ipar kalian." Jawab Samuel yang menyombongkan diri. 


Eve tak bisa melukiskan bagaimana dia sangat bahagia, bantuan yang diberikan suaminya sangat berkesan di hati. Tanpa menunggu waktu, berlari dan memeluk suaminya dengan hati-hati, menangis haru dalam pelukan. 


"Terima kasih, kau memahami perasaanku tanpa bertanya terlebih dulu."


"Ini sudah kewajibanku untuk membahagiakanmu, tapi ini tidaklah gratis." Bisik Samuel yang tersenyum licik.


"Apa maksudmu?" Eve ingin melepaskan pelukan yang kian erat, dan terpaksa mengalah.


"Memuaskanku di ranjang," bisiknya.


Hembusan nafas yang beraroma mint membuat jantung seakan terpacu, menelan saliva dengan susah payah yang seakan tersangkut. Eve sangat malu dengan pembahasan itu, tak ingin menjawab. 


"Sekarang Eve adalah istriku, tidak ada yang boleh memeluknya tanpa izin dariku, dan kalian bertiga tidak aku izinkan!" tegas Samuel pada ketiga kakak iparnya. 


Semua orang tertawa bahagia, tangisan menghilang dan yang datang hanyalah perasaan haru. Sementara twins N dan Alex terlihat kesal karena pria yang sudah menyandang status adik ipar membuat mereka harus menjaga jarak dari Eve. "Mana bisa begitu?" 


"Aku suaminya, jangan mencoba untuk protes karena aku lebih berhak."


"Astaga…anak ini selalu saja membuat aku naik darah." Ketus Niki.


Samuel melepaskan pelukan itu dan menatap Nathan yang menganggukkan kepala, usaha yang dilakukan berhasil dalam membujuk pria tua itu. "Ini akhir yang bahagia, dan aku sangat mencintai Eve," batinnya yang menatap wajah cantik sang istri yang sudah berjanji tidak akan mengenakan atribut si cupu. 


"Kenapa kau tersenyum, dan memandangku begitu?" tanya Eve yang menyadari.


"Aku ingin kau tetap cantik di mataku, tapi berpenampilan seperti biasanya ketika keluar rumah."


"Oh halo, kau baru sehari menjadi suamiku tapi sudah mengatur!" ucapan Eve berhasil mengundang tawa semua orang, karena pasangan yang kocak di mabuk asmara.

__ADS_1


"Kecantikanmu hanya milikku."


Lagi dan lagi Eve di buat senam jantung dengan perkataan suaminya. "Dasar gombal!"


"Hei, apa kalian melupakan aku?" celetuk Dave, anak berusia 10 tahun yang memandang semua orang.


"Kau ingin apa?" tanya Niko.


"Ini akhir yang bahagia, berfoto dua kali saja."


"Wah, itu ide yang sangat bagus. Ayo, semuanya ikut berpose semenarik mungkin." Ucap Nathan yang setujui.


Semua orang berpose semenarik mungkin, menjadikan momen indah sebagai kenangan. Tidak ada yang terlewatkan, semua orang hadir untuk menciptakan album keluarga


****


Di dalam kamar, Eve sangat gugup dan ingin kabur dari tempat itu. "Astaga…aku tidak ingin malam pertama, semoga saja Sam tidak meminta haknya sekarang." Gumamnya sedikit ketakutan.


Lamunan Eve terhenti saat melihat suaminya yang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk putih dan berjalan masih menggunakan bantuan tongkat, tetesan air di badan terlihat sangat seksi. Perut yang berbentuk kotak-kotak dan juga dada yang bidang membuat imannya runtuh. "Dia sangat seksi sekali," racaunya tanpa sadar meneteskan air liur. 


Samuel melempar tongkat sembarang arah, berjalan hati-hati dan mendekati istrinya. Tatapan mereka saling bertemu dan penuh kesan yang mendalam. "Malam ini, kau dan aku akan menghabiskan waktu sepanjang malam. Bersiaplah, Eve Samuel Matthew." 


Eve tidak bisa berkutik, di saat sang suami sudah berada di atas tubuhnya. "K-kau masih sakit, di tunda dulu hingga luka di perutmu pulih."


"Apa kau lupa siapa keluargamu? Paman Al memberiku obat pemulih yang sangat terbaik, setidaknya sangat berguna untuk bergoyang." Tanpa menunggu waktu, Samuel mencium bibir istri yang sangat nikmat di saat sudah sah. Tak lupa tangannya menjalar dan meraba-raba tubuh sensitif istrinya yang ingin memberikan rasa kenyamanan.


Sentuhan yang tidak pernah dirasakan Eve membuatnya begitu terhipnotis, keahlian sang suami membuatnya seakan terbang. Samuel mencium dan melu-mat area sensitif, terdengar suara indah membuatnya tak tahan. 


Pergumulan sepasang suami istri dalam alunan syahdu yang memabukkan, menikmati setiap gerakan yang menaungi lautan ombak kenikmatan. Cukup lama mereka dalam penyatuan, hingga menuju puncak dan sedikit menambah tempo gerakan. 


Keduanya terkulai di atas ranjang dan tersenyum. "Beristirahatlah, karena sebentar lagi aku akan memintanya lagi." Ucap Samuel bersemangat.


"Apa?" tak bisa Eve bayangkan jika terjadi ronde kedua, karena **** * masih terasa perih akibat selaputnya di terobos sang suami.


"Satu saja belum cukup, Sayang." 


"Astaga…badanku terasa remuk dan dia belum puas?" batin Eve, ketakutannya akan malam pertama sangat berkesan, tidak ada rasa sakit berlebihan karena sang suami melakukannya dengan perlahan. 

__ADS_1


"Aku ingin mencetak anak." Bisik Samuel yang kembali mencium bibir istrinya dengan lembut dan melakukan hubungan suami istri untuk kedua kalinya.


...TAMAT...


__ADS_2