Sie Culun Cintaku

Sie Culun Cintaku
Part 104


__ADS_3

Kediaman rumah Lala.


Keluarga Fakhri sampai di rumah Lala, semua turun dari mobil.


Fakhri berjalan paling depan di ikuti Mama, dan Papanya.


"Assalamualaikum," ucap Fakhri dan keluarga sudah berada di depan pintu.


"Wa'alaikumussalam," jawab Ibu Halimah Kemudian membukakan pintu. Ibu Halimah adalah Ibu Lala.


"Silahkan masuk Pak, Bu," ujarnya mempersilahkan masuk keluarga Fakhri.


Mereka pun masuk dan duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


"Maaf ya Pak, Bu, beginilah keadaan keluarga saya."


"Tidak apa Mba," balas mama Ara.


"Maaf saya tinggal sebentar." Ibu berjalan menuju dapur menyiapkan minuman.


Mbok Rumi segera menghampiri Ibu Lala, membawa beberapa makanan yang tadi bawa dari rumah majikannya. "Biar saya bantu Bu. Panggil saja saya Mbok Rumi," ucapnya.


"Terima kasih Mbok." Mereka berdua menyajikan makanan di meja makan, kemudian Ibu Lala kembali ke ruang tamu membawa nampan berisi minuman di belakang di ikuti Mbok Rumi membawa makanan ringan.


"Maaf ya Mba, kita jadi merepotkan," ujar Mama Ara.


'Tidak Bu, justru saya yang tidak enak hati merepotkan kalian, terimakasih sudah berkunjung ke gubuk kami."


"Lala ada Mba?" tanya Mama Ara.


"Ada Bu, sebentar saya panggilkan." Ibu pergi menuju kamar Lala yang tak jauh dari ruang tamu.


"La, tamunya sudah datang." Ibu memberitahu Lala.


"Iya Bu."


Ibu menggandeng tangan Lala menuju ruang tamu, Nara berjalan mengikuti dari belakang.


"Masya'Allah kamu cantik banget La," puji Mama Ara saat melihat Lala.


Lala tersenyum, kemudian menghampiri Mama Ara dan Papa Ari mencium punggung tangan keduanya.


Ya Allah sebenarnya ada acara apa ini, Kenapa ada Mama Ara dan Papa Ari. Aku jadi gugup, deg degan, panas dingin begini. Batin Lala.


Lala duduk disamping Ibunya.


Papa Ari mulai membuka suara.


"Karena sudah kumpul semua boleh saya untuk memulai maksud dan tujuan kami kesini."


"Silahkan Pak." balas Ibu Lala.


Ini jantung ngapa jadi nggak karuan, pada dangdutan. Batin Lala.


Sebelumnya saya berterima kasih kepada Ibu karena sudah memperkenankan kami untuk bertamu.


Pertama maksud dan tujuan kami kesini untuk menjalin hubungan tali silaturahmi, adapun yang kedua maksud dan tujuan kami ingin mengantar putra kami Fakhri Ari Akbar yang bermaksud untuk mengkhitbah putri Ibu yang bernama Lala Azkia Putri.


Mudah-mudahan Ananda Lala berkenan menerima lamaran putra kami.


Mendengar ucapan Papa Ari seketika membuat Lala terkejut dia tak menyangka kalau firasatnya benar sampai matanya pun sudah berkaca-kaca seakan semua ini mimpi baginya.


Ibu Lala.


Sebelumnya saya berterima kasih sangat atas maksud dan tujuan Bapak dan Ibu.


Saya sebagai orang tua menyerahkan semua keputusan kepada anak saya.


Kita tanyakan anaknya terlebih dahulu.


"Nak," panggil Ibunya.

__ADS_1


"Iya, Bu."


Nak, apa kamu menerima lamaran Nak Fakhri?


Lala terdiam dan menatap semua orang yang ada diruang tamu, Lala tersenyum saat melihat tatapan Fakhri yang tak berpaling darinya.


Setelah diam beberapa saat.


Lala mengangguk sebagai jawaban.


"Alhamdulillah," ucap semua orang.


Mama Ara langsung berdiri menghampiri Lala.


Kini mereka berdiri berhadapan, Mama Ara memasang Cincin di tangan Lala,


Lala mencium tangan Mama Ara, kemudian mama Ara memeluknya.


"Terima kasih Bu."


"Panggil Mama, kan sebentar lagi kamu bakalan jadi anak saya."


"Iya, Ma.'


"Saya terima kasih kerena kamu sudah mau terima Fakhri."


"Sama-sama Ma."


Setelah melepas pelukannya Mama Ara kembali ke tempatnya.


Fakhri begitu terharu saat melihat dua wanita yang ia cintai berpelukan, sampai dia tak kuasa menahan air matanya.


Air mata bahagia. Fakhri tak henti-hentinya tersenyum.


*


*


*


"Iya Bu, saya tidak menyangka akan berbesan dengan ibu dan bapak. Terima kasih ya Bu, sudah mau menjalin hubungan dengan keluarga kami."


"Sama-sama Mba."


"Ayo! silahkan kita makan terlebih dahulu."


Dua keluarga menuju meja makan menikmati makanan yang sudah di siapkan.


Selesai makan semua kembali ke ruang tamu.


"Saya jadi malu sama Ibu dan Bapak karena datang kerumah saya membawa makanan dari rumah, padahal disini kan saya yang tuan rumah."


"Jangan ngomong begitu Mba, kan memang kita yang meminta agar Mba tak perlu repot-repot kan kita keluarga laki-laki jadi kami yang bertanggung jawab atas semuanya," ucap Mama Ara.


"Fakhri kan sudah bilang sama Ibu, Fakhri hanya butuh restu Ibu."


"Terima kasih Nak Fakhri. Oiya, boleh nggak kalau Fakhri ngobrol berdua dengan Lala di depan."


"Iya silahkan Nak." Ibu Lala memberi izin.


"Inget bang baru tunangan belum halal jangan macam-macam."


"Iya Ma."


Fakhri dan Lala keluar dari rumah.


Lala mengajak Fakhri duduk di bangku yang berada di sebelah rumah.


"Duduk Mas," ucap Lala.


"Iya La." Fakhri duduk disebelah Lala.

__ADS_1


"Cantik." Fakhri membuka suara.


Wajah putih Lala kini langsung berubah menjadi kemerahan.


"Terima kasih."


"Untuk?"


"Untuk hari ini, kejutan yang Mas Fakhri kasih buat Lala, ini bukan mimpi kan Mas?"


"Tidak." Fakhri mengelus lembut kepala Lala.


"Bukankah kemarin Mas Fakhri bilang sudah punya calon istri."


"Iya punya, ini dia ada di sebelah saya."


"Mas Fakhri tidak salah orang kan?"


"Tidak, memang nya kenapa? Apa kamu menyesal sudah menerima saya?"


"Bukan begitu Mas, Lala hanya takut Mas Fakhri salah, Lala tidak ingin mas Fakhri menyesal nantinya karena memilihku."


"Aku tidak akan menyesal La. Terima kasih karena kamu sudah mau menerima saya."


"Harusnya Lala yang berterima kasih karena Mas Fakhri mau hidup bersama Lala, yang banyak sekali kekurangannya."


"Manusia tidak ada yang sempurna La, aku juga banyak kekurangan nya."


"Oiya, gimana kalau kita nikah Minggu depan?"


Fakhri dengan semangat 45 dan senyu penuh arti.


Pertanyaan Fakhri membuatnya terkejut baru tunangan langsung mau nikah dalam waktu satu Minggu.


"Apa itu tidak terlalu cepat Mas? Itu pernikahan lho Mas, bukan kita mau pergi jalan-jalan."


"Iya saya tahu, tapi kan katanya kalau niat baik itu lebih baik di segerakan, jangan di tunda-tunda."


"Apa Mas Fakhri sudah memikirkannya matang-matang, Mas pernikahan bukan sekedar mainan belakang, bukan juga karena nafsu."


"Sudah, insya'Allah aku menikahi mu bukan karena nafsu tapi karena ingin menyempurnakan ibadah ku."


"Iya, tapi ini dalam waktu satu minggu Mas, kan kita harus mempersiapkan ini itu butuh waktu."


"Nggak perlu mikirin itu, kita akad saja dulu nanti untuk acara resepsinya sebulan setelahnya. Terus akad nikahnya dirumah saja, gimana?"


"Tapi Mas, ah... terserah Mas Fakhri saja deh, Lala ngikut saja." Mau berbicara seperti apa juga pasti kalah, lebih baik mengalah saja.


"Yaudah nanti saya bilang ke orang tua kita."


Lala hanya mengangguk sebagai jawaban.


Sebenarnya dia belum siap karena baru juga selesai tunangan, acara mendadak tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, tiba-tiba dirinya di lamar, sekarang ngajakin nikah dalam waktu satu Minggu.


Tapi ya sudahlah mungkin memang inilah jalan takdirnya.


...*******************...


Cinta dalam doa itu lebih indah.


Tiba-tiba ada yang datang melamar horang kaya, ganteng lagi, pasti kalian juga mau ya seperti itu.


Berdoalah mudah-mudahan doa kalian dikabul sama Allah SWT amin.


Terima kasih buat kalian yang masih setia dengan cerita receh saya. love you 😘🥰❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Insya'Allah nanti part awal mau saya revisi lagi.


Oiya aku mau kasih tahu nih buat kalian semua, mampir yuk! di novel aku yang kedua.


*Di antara dua pilihan*

__ADS_1


__ADS_2