
Episode ini khusus Susi dan Delon ya.
Semua tentang kehidupan sudah tertuliskan Allah sudah menuliskan semua jodoh, rezeki, mati semua sudah ada catatannya manusia hanya bisa menjalankan apa yang telah menjadi takdirnya.
Hari ini keluarga Delon akan berkunjung kerumah Susi untuk menyerahkan uang yang akan di pakai biaya pernikahan mereka dan menentukan tanggal pernikahan.
Kediaman Susi
Setelah selesai sholat subuh semua art sibuk masak menyiapkan hidangan untuk calon besan, meski keluarga Delon bukanlah orang yang baru mereka temui tapi tetap saja mereka ingin menyiapkan yang terbaik untuk tamunya.
Karena dulu mereka adalah tetangga akrab bahkan bukan tetangga lagi bisa disebut seperti sodara. Sodara nemu.
Para art ada yang yang bertempur di dapur ada pula yang merapikan rumah. Dirumah susi ada empat art. Susi dan Mamanya pun ikut bertempur didapur.
"Ma, apa ini tidak terlalu banyak?' tanya Susi melihat masakan banyak sekali padahal tamu mereka hanya tiga orang tap masak samapi bermacam-macam menunya.
"Tidak sayang, nanti masakannya sekalian kita bagi-bagi ke yayasan yati piatu saja," balas Mamanya.
"Oh, gitu, alhamdulillah," imbuh susi.
Orang tua Susi adalah salah satu donatur yayasan yatim piatu MZ.
Setelah Susi menjalin hubungan dengan Delon, kini hubungan dia dengan Mamanya juga semakin membaik.
Pertempuran didapur selesai Susi masuk kedalam untuk membersikan diri sedangkan Mamanya menghampiri sang suami diruang kerja.
Pukul 11.00. Keluarga Delon sampai dirumah Susi.
"Assalamualaikum," ucap Delon bersama kedua orang tuanya di depan rumah Susi.
"Wa'alaikumussalam,"jawab salah satu art kemudian membukakan pintu untuk tamunya dan mempersilakan keluarga Delon untuk masuk dan duduk disofa ruang tamu.
Setelah menyambut tamunya art tersebut berjalan menuju ruang kerja majikannya untuk memberitahu bahwa tamu mereka sudah datang.
"Assalamualaikum," ucap art tersebut didepan pintu ruang kerja.
"Wa'alaikumussalam, jawab Mama Susi dari dalam kemudian dia berdiri dari duduknya berjalan membukakan pintu.
"Ada apa Mba?" tanya Mama Susi setelah pintu terbuka.
__ADS_1
"Itu Nyonya keluarga tuan Delon sudah datang mereka ada diruang tamu," jawab art.
"Iya, Mba, sebentar lagi saya turun terima kasih," ujar Mama Susi.
"Iya Nyonya, saya permisi dahulu." Art tersebut pergi meninggalkan ruang kerja berjalan menuruni anak tangga menuju kelantai bawah.
"Pa, ayo! kita turun keluarga Delon sudah datang," ucap Mama Susi memberitahu suaminya.
Ayah Susi pun langsung menutup layar laptop-nya kemudian dia bangun dari duduknya berjalan mengikuti Nyonya besar keluar dari ruangan menuju ke ruang tamu.
"Aduh Mba, maaf ya nunggu lama," ucap Mama Susi saat sampai diruang tamu.
"Tak apa. Susinya mana?" tanya Mama Delon.
"Baru selesai mandi," jawab Mama Susi, tadi sebelum turun kelantai bawah, Mama Susi kekamar Susi terlebih dahulu, karena Susi masih mandi jadi Mama dan Papanya turun lebih dulu.
Sambil menunggu Susi para orang tua berbincang-bincang masalah bisnis mereka. Kalau sultan beda ya yang diobrolin.
Tak lama Susi turun dari tangga, ia pun langsung menghampiri dan menyalami para orang tua setelah itu duduk disebelah Mamanya.
Karena semua sudah berkumpul Papa Delon mulai membuka obrolan yang serius.
"Jadi begini Mba dan Mas, maksud kedatangan kami kesini ingin menyambung obrolan kita kala itu, tentang tanggal pernikahan putra dan putri kita. Bagaimana jika pernikahannya kita adakan dua minggu lagi?" tanya Papa Delon.
"Alhamdulillah,kalau begitu semua akan saya siapkan. Maksud dan tujuan kedua kami ingin menyerahkan ini sedikit untuk acara." Papa Delon menyerahkan amplop coklat yang berisi uang.
"Saya terima ya Mas, terima kasih," ucap Papa Susi mengambil amplop cokelat yang di berikan Papa Delon.
Meskipun sudah memberikan uang, tapi acara tetap masih ditanggung pihak laki-laki, uang yang diberikan hanya untuk persiapan saja.
Betapa kayanya Delon ya. Keluarga Susi juga orang kaya tapi kan memang sudah adat ya pihak laki-laki yang memberi.
Setelah acara seserahan, Mama Susi mengajak tamunya untuk makan siang.
"Kita makan siang dulu yuk Mba!" Mama Susi mempersilakan tamunya untuk menyicipi hidangan yang telah disediakan.
Semua berdiri dari duduknya berjalan menuju ke arah meja makan, Susi duduk bersebelahan dengan Delon.
Para istri mengambilkan makanan untuk suaminya, karena tidak enak hati dengan para orang tua akhirnya Susi pun mengambilkan makan untuk Delon.
__ADS_1
"Kakak, mau makan pakai apa?" tanya Susi.
"Nasi sama daging bakar bumbu pedas," balas Delon. Susi pun mengambil apa yang ditunjuk Delon.
Setelah mengambilkan makan buat Delon kini Susi mengambil untuk dirinya sendiri. Dimeja makan hanya suara sendok dan garpu yang terdengar.
Selesai makan semua kembali keruang tamu. Para orang tua yang sedang nostalgia membicarakan tentang masa lalu mereka, membuat Delon tak mengerti dan memilih untuk mengajak Susi ngobrol berdua saja.
"Hem ... Ma, Pa, bolehkah Delon berbicara berdua dengan Susi?" tanya Delon pada orang tua mereka.
"Boleh, silakan!" balas Mama Susi.
Delon memegang pergelangan tangan Susi untuk mengikutinya keluar dari rumah.
"Kita duduk di situ saja Kak," ucap Susi menunjuk kearah gazebo kayu yang terletak disebelah rumahnya.
Susi duduk di sebelah Delon mereka hanya diam tanpa ada yang berbicara.
"Dek," panggil Delon memulai membuka suara.
"Iya, Kak," jawab Delon.
"Kamu nggak keberatan kan kalau kita nikah dua minggu lagi?" tanya Delon.
"Tidak Kak, lebih cepat lebih baik kan dari pada ditunda-tunda nanti tidak jadi," balas Susi. Dia memang tidak keberatan dengan keputusan dari pihak Delon, dia juga ingin secepatnya dari pada pacaran terus takut nambahin dosa, hehe.
Lagi pula kalau sudah tunangan memang lebih baik cepat nikah sebelum diambil orang, eh ... tapi sudah nikah juga bisa saja di ambil orang ya karena sekarang pelakor sangat meresahkan.
Semua itu tergantung pemikiran orang ya, jika kita tetap bersyukur dengan apa yang kita miliki mungkin tidak akan pernah ada namanya orang ketiga, setiap manusia itu punya kelebihan dan kekurangan jangan terus kamu lihat kekurangannya, tapi cobalah kamu lirik kelebihannya.
Jika kamu hanya melihat kekurangan darinya maka kamu akan terus mengeluh, lihatlah dirimu sendiri bercermin sebentar coba kamu tanya pada dirimu, apa kamu juga punya kekurangan.
Jangan pernah menilai kehidupan orang lain, jika dirimu hanya hamba Allah. Kamu dan dia sama tidak ada bedanya, jadi sama-sama saling menutupi satu sama lain.
************************
Bersyukurlah dengan pasanganmu karena dia cerminan dirimu.
Cerita ini hanya fiksi belaka ambillah yang baik jika tidak ada abaikan saja, maaf jika ada tulisan saya yang salah, saya juga hanya manusia biasa tak jauh dari khilaf dan dosa.
__ADS_1
Terima kasih karena kalian selalu setia membaca cerita saya, jangan like dan vote ya kakak biar aku selalu semangat untuk up.
Jika ingin berkomentar silakan tapi ingat jangan sepedas cabe setan.