Sie Culun Cintaku

Sie Culun Cintaku
Part 93


__ADS_3

Masih bersama Fakhri dan Lala.


Hari berganti hari setelah kejadian waktu itu, Fakhri tidak pernah menolak jika di ajak ke butik.


"Abang, di kantor sibuk tidak?" tanya Mamanya.


"Tidak Ma."


"Kalau begitu nanti antar Mama mengantar pesanan."


"Abang nganter nya sama Lala aja Ma," ucap Fakhri dengan semangat.


"Dulu aja nggak mau, sekarang semangat banget kalau sama Lala, apa Abang sedang jatuh cinta?" goda Mama nya.


"Apa sih Ma," elaknya nggak mungkin kan dia jujur sama Mamanya, malulah.


"Tidak usah berbohong, Mama juga pernah muda jadi Mama tahulah bagaimana orang lagi jatuh cinta," ucapnya dengan menepuk pundak putranya.


"Terserah Mama sajalah."


"Papa sih setuju-setuju saja Abang sama siapapun, yang terpenting dia orang yang baik dan segala hal, jangan sampai salah memilih, ingat jangan terlalu lama, jika memang sudah mantap datanglah kerumah orang tuanya," nasehat Papa Ari.


"Lala anaknya cantik, baik, pintar lagi, Mama setuju banget kalau Abang sama Lala," ujar sang Mama.


"Abang masih ingin mengenalnya lebih dulu," balas Fakhri, meskipun sudah mengetahui latar belakang Lala dari cerita Mamanya, tapi Fakhri ingin mengenalnya sendiri, karena nanti dia yang akan menjalani kehidupan rumah tangga, dia tidak mau menyesal di belakang.


"Terserah Abang saja, Mama akan selalu mendukung apapun keputusan Abang, tapi kalau bisa jangan lama-lama nanti keburu tua, ingat umur Bang."


"Iya, Ma."


Obrolan mereka disela-sela sarapan.


Selesai sarapan Papa Ari berangkat ke kantor, Fakhri dan Mamanya berangkat ke Butik.


Tiga puluh menit mereka sampai, dengan semangat Fakhri masuk kedalam butik.


"Assalamualaikum," ucap mereka bersama.


"Wa'alaikumussalam," jawab semua karyawan yang sedang membersihkan butik.


"La, hari ini ada pesanan yang harus di antar apa sudah di siapkan semua?" tanya Mama Ara.


"Sudah, Bu."


"Ya sudah, kamu tolong antar pesanan baju itu, nanti di antar sama Fakhri."


"Iya, Bu."


Mama Ara, berjalan menuju ke ruangannya.


Setelah kepergian Bosnya, Lala berjalan menuju lemari penyimpanan barang pesanan.


"Mas Fakhri mau kemana?" tanya Lala, saat melihat Fakhri jalan di belakangnya.


"Mau ikut kamu."


"Lala, mau mengambil barang, Mas Fakhri tunggu saja disitu," ucapnya menunjuk kearah bangku tunggu.


Fakhri tidak perduli dengan ucapan Lala, dia tetap saja mengikuti Lala dari belakang.


"Sini, biar saya yang bawa barang nya," ucap Fakhri.


"Tidak perlu Mas, Lala masih bisa bawa sendiri," tolaknya.


"Sudahlah, tidak apa-apa biar saya saja."


Alhasil mereka saling berebut tarik menarik paper bag.


"Kalian ngapain? berebut papar bag, nanti rusak itu paper bagnya," omel Mama Ara.


Sontak mereka berdua langsung menoleh ke sumber suara. "Maaf Bu."

__ADS_1


"Mama"


"Sudah La, biarin Fakhri yang bawa paper bagnya, dan sekarang kalian berdua cepatlah pergi, nanti keburu siang."


"Baik Bu."


"Iya Ma," ucap Fakhri.


Kemudian mereka berjalan keluar butik.


Fakhri membukakan pintu buat Lala.


"Terima kasih Mas," ucapnya, kemudian masuk kedalam mobil. Setelah Lala masuk kedalam, Fakhri menutup pintu, kemudian ia juga masuk kedalam mobil.


"Kita mau kemana dulu?"


"Ke perumahan Z, blok A no 10."


"Fakhri melajukan mobilnya menuju tempat tersebut."


"Mas Fakhri tidak bekerja," tanya Lala membuka obrolan.


"Tidak."


"Kenapa?"


"Karena ingin nganterin kamu mengantar pesanan."


"Lala, bisa sendiri kok, biasanya juga Lala sendiri kalau nganter barang," ucapnya, Lala memang suka ngantar barang sendiri naik motor.


"Tapi, mulai sekarang kamu tidak boleh sendiri, karena saya akan selalu ada buat kamu."


Jadi dag dig dug gini, inget Lala kamu bukan siapa-siapa jadi jangan sampai baper, aku dan dia sungguh berbeda bagaimana kan langit dan bumi. batin Lala.


Lala hanya menanggapi ucapan Fakhri dengan senyuman.


"La," panggil Fakhri.


"Iya."


"Boleh."


"Mas berhenti itu rumahnya."


Fakhri pun menghentikan mobilnya, kemudian Lala keluar dari mobil membawa dua paper bag pesanan pelanggan.


*Permisi Mba Nina ini Lala, mau nganter pesanan.


Iya, La, sebentar.


Ini pesanan gaun Mba Nina.


Terima kasih ya La.


Iya Mba*.


Setelah memberikan gaunnya Lala kembali ke mobil.


"Sudah."


Lala mengangguk sebagai jawaban.


"Mas boleh anterin Lala pulang dulu tidak?" tanya Lala hati-hati takut Fakhri marah karena ini masih jam kerja.


"Kenapa memangnya La, ada masalah?"


"Barusan adik Lala kirim pesan, ibu jatuh dari kamar mandi."


"Baiklah, kita kerumah kamu saja dulu."


Fakhri mengarahkan mobilnya menuju rumah Lala.

__ADS_1


Satu jam perjalanan, mereka sampai.


Lala dengan cepat keluar dari mobil, dan lari menuju rumahnya, kemudian ia langsung masuk menuju kamar ibunya.


"La," panggil Ibunya.


"Bu."


"Jangan nangis, Ibu tidak apa-apa besok juga pasti sembuh."


"Ibu kenapa bisa jatuh dik?"


"Adik juga nggak tahu Mba, tadi adik baru pulang sekolah, pas pulang tiba-tiba ibu sudah tergeletak di kamar mandi."


Fakhri mengikuti Lala dari belakang.


"Assalamualaikum," ucapnya di depan pintu kamar Ibu Lala.


"Wa'alaikumussalam," jawab yang ada di kamar, semua menoleh ke sumber suara.


Fakhri melangkah masuk kedalam, kemudian menyalami tangan Ibu Lala.


Ibu tersenyum melihat kedatangan Fakhri.


"Bu, kenalin ini Mas Fakhri, Anak Bu Ara Bos Lala," ucapnya memperkenalkan Fakhri.


"Maaf ya nak sudah merepotkan, mengantar Lala pulang."


"Tak apa Bu."


"Ibu istirahat ya, Lala harus kembali bekerja lagi, hati-hati di rumah jangan kemana-mana."


"Iya, La."


Lala, mencium tangan Ibunya kemudian berjalan keluar rumah, menuju mobil Fakhri.


Fakhri mengikuti dari belakang.


"Ibu kamu sakit apa La?"


"Ibu punya riwayat darah tinggi Mas."


"Kamu cuma bertiga dirumah?"


"Iya Mas."


"Kalau boleh tahu Bapak kamu kemana?"


Lala diam sejenak, menarik nafas dan menghembuskan nya.


"Bapak Lala sudah meninggal lima tahun yang lalu, akibat kecelakaan saat kerja," jelas Lala dengan mata yang sudah memerah.


"Maaf."


"Tidak apa Mas," balasnya dengan tersenyum.


Lala, selalu saja menangis saat mengenang mendiang ayah tercinta pasalnya saat Ayahnya meninggalkan impiannya seakan terkubur dalam-dalam. Ayah Lala jatuh dari lantai dua saat ingin membersihkan kaca ruangan, ia terpeleset dan jatuh ke bawah dan langsung meninggal di tempat.


Sejak saat itu Ibunya yang menggantikan Ayahnya bekerja jadi kuli cuci baju di rumah-rumah orang agar bisa bertahan hidup dan Lala bisa tetap sekolah. Saat itu Lala kelas satu SMA.


Setelah Lulus sekolah Lala memilih membantu Ibunya, mencari nafkah, saat pulang mencari pekerjaan ia bertemu dengan Mama Ara.


Saat itu Lala sedang membeli obat di apotik, dia bertabrakn dengan Mama Ara.


Ara yang melihat Lala membawa Map lamaran kerja kemudian Ara menawarkan pekerjaan untuk menjaga butik, dengan senang hati Lala langsung menerimanya.


...************...


Apa masih mau lanjut nggak? kisah Lala dan Fakhri.


Ayo beri masukan untuk author.

__ADS_1


Author ingin up sesuai permintaan kalian.


Jangan lupa kasih like dan vote buat author, terimakasih.


__ADS_2