Sie Culun Cintaku

Sie Culun Cintaku
Part 84


__ADS_3

Zahwa dan Fathul kini berada di atas kasur, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil menonton televisi.


"Apa yang terjadi tadi pagi?" tanya Fathul membuka obrolan.


"Zah, juga tidak tahu, tiba-tiba tuh si inces datang marah-marah tidak jelas, aku sama Arin juga bingung, tapi sepertinya dia suka deh sama kakak," jelas Zahwa, dia sedikit cemburu dengan kejadian tadi, tapi dia berusaha menutupinya.


Fathul menarik kepala Zahwa agar bersandar di bahunya. "Apa kamu cemburu sayang?"


"Tidak," elak Zahwa. "Beneran?"


"Iya," balas Zahwa.


"Ya sudah kalau begitu aku akan terima Nadia," ucap Fathul.


Tanpa aba-aba Zahwa langsung mencubit perut Fathul. "Sakit sayang," keluh Fathul sambil mengelus lembut kepala Zahwa.


"Awas saja kalau berani," ucap Zahwa.


"Aku tidak akan pernah menduakan mu sayang, karena kamu adalah bidadari yang akan selalu menemani ku sampai surganya Allah."


Zahwa langsung memeluk tubuh Fathul. "Terima kasih karena kakak selalu menyayangiku, semoga Allah jadikan keluarga kita, keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah."


"Amin." Fathul mencium kening Zahwa.


Setelah itu mereka merebahkan tubuhnya, dan memejamkan matanya.


*

__ADS_1


*


*


Pagi hari.


Setelah melaksanakan sholat subuh, Zahwa keluar kamar menuju dapur, karena hari ini ia tidak ada jadwal kuliah jadi ia memilih bertempur di dapur.


Fathul yang mencium bau masakan, ia langsung keluar kamar menuju dapur menghampiri sang istri. "Baunya wangi banget sayang, kamu masak apa?" tanyanya dengan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Kakak, ngagetin saja, Zah bikin ayam kecap dan sambal."


"Ada yang bisa aku bantu?"


"Kakak, kalau bantuin aku, nyuci piring saja ya!"


Fathul pun menuruti perintah sang istri mencuci peralatan dapur sesuai instruksi Zahwa.


Satu jam bergelut di dapur, kini semua masakan sudah siap, Zahwa menatanya di atas meja makan, menu sarapan hanya dengan nasi uduk, ayam kecap, sambal, dan lalapan. Hanya itu yang di masak karena mereka hanya tinggal berdua jadi masaknya tidak banyak.


Zahwa, mulai mengambil piring dan melayani sang suami. "Terima kasih sayang," ucap Fathul setelah menerima piring yang sudah penuh dengan nasi dan lauknya.


Setelah melayani suaminya, kini giliran dia mengambil buat dirinya sendiri.


"Hari ini kita main kerumah bunda yuk sayang," ajak Fathul.


"Iya Kak."

__ADS_1


Setelah obrolan singkat itu hanya ada suara sendok dan garpu yang terdengar dimeja makan.


Selesai makan Zahwa, langsung membersihkan meja makan dan mencuci piring, gelas bekas makan mereka.


Sedangkan Fathul duduk di sofa sambil menonton acara televisi.


Zahwa sudah selesai membereskan dapur, kemudian ia menghampiri suaminya, duduk disebelahnya. "Kita mau berangkat jam berapa Kak?" tanyanya.


"Nanti saja jam sepuluh, oiya...nanti setelah dari rumah bunda kita mampir ke resto ya!?"


"Iya, apa ada masalah dengan resto?" tanya Zahwa.


"Tidak, hanya ingin ngecek saja," karena sudah satu Minggu ia belum ke resto.


"Kak, apa Bunda dan Ayah, sudah tahu kalau kakak punya resto?" Zahwa sangat bangga dengan suaminya, diam-diam ia adalah seseorang yang luar biasa, mandiri dan bertanggung jawab.


"Belum." Selama ini Fathul selalu menutupinya, ia hanya ingin orang tuanya tahu saat ia sudah sukses.


"Kenapa, belum di kasih tahu?"


"Suatu saat juga pasti mereka akan tahu." ucap Fathul sambil mengelus lembut kepala istrinya, yang terpenting sekarang ia bisa bertanggung jawab sebagai seorang suami, membiayai kebutuhan sehari-hari, dan membiayai kuliah sang istri.


Meskipun Papa Ari sudah bilang kalau urusan kuliah, beliau yang akan membiayai, tapi Fathul menolaknya, ia ingan berusaha sendiri terlebih dahulu.


*************


Terima kasih yang masih setia dengan cerita ku lope lope deh buat kalian.❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


"


__ADS_2