
Fakhri dan Lala
"Dik, kamu ingin pergi liburan tidak?" tanya Fakhri pada Lala.
"Nanti saja kalau Mas Fakhri sudah tidak terlalu sibuk," jawab Lala. Kemudian memberikan segelas teh hangat dan duduk disebelah suaminya. Mereka menikmati suasana malam hari di balkon kamar Fakhri.
"Kalau kamu mau nanti saya ambil cuti sayang," ucap Fakhri.
"Terserah mas Fakhri saja," balas Lala.
"Baiklah minggu ini Mas akan ambil cuti satu minggu gimana?" Fakhri menatap istrinya meminta persetujuan.
"Kita mau kemana?" tanya Lala.
"Kita nyusul Zahwa saja, tapi jangan bilang mereka nanti gagal liburan," jelas Fakhri.
"Lala ikut Mas Fakhri saja," balas Lala. Setelah obrolan singkat itu mereka berdua masuk kedalam kamar.
**********************
Di tempat lain yang berada di jauh sana para insan manusia sedang bersenang-senang menikmati liburan mereka.
Zahwa menikmati makan malam bersama di rumah makan bebek ganas rasanya yang mantap serta harganya juga murah meriah ramah di kantong.
Mereka semua makan dengan lahap sampai ludes tak tersisa, selesai makan mereka semua kembali ke hotel untuk beristirahat sambil mengobrol bareng.
"Calon lu nggak nyariin Sus?" tanya Raka.
__ADS_1
"Dia lagi sibuk dengan kerjaannya," jawab Susi.
"Kerjaan beneran atau yang lain?" tanya Raka penuh selidik.
"Raka lu ngapa sih?" Susi balik bertanya.
"Tak apa hanya bertanya, memangnya ada yang salah dengan ucapan gue," ucap Raka.
"Au .... ah Sinta, suami lu tuh boleh tidak kalau gue lempari sendal," ujar Susi sambil mengambil sendal yang berada di kakinya dan melemparkan ke arah Raka.
"Sayang sakit." Raka mengadu pada Sinta sambil memegang jidatnya yang terkena sendal.
"Ist ... lebay banget lu," celetuk Fathan.
"Iri bilang brow," balas Raka dengan menjulurkan lidahnya.
"Ih ... gimana rasanya tuh sate lidah," sambung Arin.
"Enak Rin mau nyobain nggak lu?" tanya Fathan.
"Memangnya lu sudah pernah makan?" Arin balik bertanya.
"Belum, haha." Fathan tertawa karena kesal tanpa basa-basi Arin langsung melempar bantal ke muka Fathan, tak mau kalah Fathan balik melampar bantal ke arah Arin.
Kini mereka berada di satu kamar ada yang duduk di sofa ada yang di atas kasur ada juga yang di bawah duduk di atas karpet.
"Woi, Markonah, Bambang itu bantal hotel kalau rusak di suruh ganti," omel Raka.
__ADS_1
Seketika perang bantal pun berakhir dengan saling menyalahkan satu sama lain. "Arin noh," ucap Fathan.
"Fathan tuh," sambung Arin.
"Berdua sama nanti gue panggil penghulu sekalian nih biar sekalian bulan madu disini, haha," ucap Raka.
"Ogah, gue nikah sama dia." Arin menunjuk ke arah Fathan.
"Lha siapa juga yang mau sama lu," sahut Fathan.
"Astaghfirullah, kalian berdua ini seperti anak kecil saja, sudah diam berisik." Fathul angkat bicara.
"Hehe, maaf Thul," ucap Fathan dan Arin bersamaan.
"Cie barengan," celetuk Sinta di sambut tawa yang lain.
"Ah ... gara-gara lu nih, Fathan," teriak Arin.
"Lha kenapa jadi lu nyalahin gue." Fathan tak terima.
"Sudah, sudah diam!" ucap Fathul samua langsung diam tak ada yang berbicara.
Suatu saat nanti pasti mereka akan merasa kangen dengan keadaan seperti ini bercanda, ngobrol, berantem bareng sesuatu yang tak akan pernah bisa di ulang kembali.
... ******************** ...
Maaf ya kalau ceritanya jadi ngalur ngidul nulisnya di sambil ini itu karena lagi banyak acara di rumah. Terima kasih buat kalian yang sudah setia membaca cerita aku. lope buat kalian ❤️😘❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1