Sie Culun Cintaku

Sie Culun Cintaku
Part 106


__ADS_3

Satu minggu berlalu kini Susi sudah pulang dari rumah sakit, tapi belum bisa beraktifitas seperti biasanya, karena kakinya yang belum sembuh total.


Selama di Rumah Sakit, teman-temannya bergantian menjaga Susi, karena ternyata orang tua Susi tidak berada dirumah, mereka sedang pergi keluar kota urusan bisnis.


"Apa Susi belum masuk juga?" tanya Arin yang kini duduk disebelah Zahwa, hari ini mereka ada jadwal kuliah.


"Belum, gimana kalau kita kerumahnya saja setelah pulang kuliah?"


"Boleh tuh Zah."


"Assalamualaikum," ucap Sinta dan Raka yang baru datang.


"Wa'alaikumussalam."


"Laki Lo mana Zah?" tanya Raka.


"Lagi keluar tadi sama Fathan."


Raka memilih keluar ruangan mencari keberadaan kedua sahabatnya, dari pada dia berada di dalam ruangan bersama emak-emak.


"Ada apa nih sepertinya serius banget."


"Gini Sin udah satu minggu ini kan Susi nggak ada kabar, dia juga belum masuk kuliah nah rencananya nanti setelah pulang kuliah kita mampir dulu kerumah Susi, gimana?"


"Aku sih ikut aja."


"Yaudah nanti kita tinggal bilang ke mereka para laki-laki."


"Yupz."


*


*


Selesai kelas.


"Kak kita mau kerumah Susi kalian laki-laki pada mau ikut nggak?


"Ikutlah kita kan sahabat."


"Yasudah yuk kita meluncur sekarang."


Zahwa dan yang lain siap berangkat kerumah Susi mereka naik di mobil Fathul semua, karena kan nggak mungkin kita bawa mobil sendiri-sendiri udah kayak mau kampanye.


Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah Susi.


"Assalamualaikum," ucap mereka.


"Wa'alaikumussalam," jawab seseorang dari dalam rumah.


"Silahkan masuk non, Aden," ujar ART dirumah Susi.


"Terima kasih Bi. Oiya, Susi ada dirumah tidak?"


"Ada dikamar nya non, sebentar saya panggilkan dulu."


"Tidak perlu Bi, biar nanti kita saja yang ke kamar nya."


"Kalau begitu bibi tinggal dulu."


"Iya, Bi."

__ADS_1


Zahwa dan yang lain naik kelantai dua menuju kamar Susi.


Dengan pelan-pelan dia membuka pintu kamar Susi setelah pintu terbuka mereka teriak. "Surprise."


"Kalian." Susi terkejut melihat teman-temannya datang.


"Gimana keadaan kamu?"


"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik."


"Bagus deh, kamu ngapain melamun di sebelah jendela nanti ada yang nemplok lho."


"Siang-siang mana ada setan."


"Ada, setan tidak mengenal waktu untuk menggoda manusia."


"Sudahlah, ayo! silahkan duduk," ucap Susi.


Mereka pun duduk di sofa ada juga yang di atas kasur.


"Permisi, non."


"Silahkan masuk Bi."


"Ini non." bibi mengantarkan minuman dan beberapa cemilan.


"Terima kasih Bi."


"Sama-sama Non, saya permisi dulu."


"Iya."


"Kamar Sinta aja gue belum pernah masuk, lha ini gue udah masuk ke kamar Susi, eh, benar ya meskipun gue play boy tapi seumur-umur gue pacaran sama cewek nggak pernah sekalipun gue masuk kamar dia, meskipun ada yang ngajakin nih, gue tolak bagi gue kamar itu privasi."


"Ist, gini-gini gue juga tahu dosa Bambang."


"Sakit Raka," keluh Fathan yang mendapat sentilan di keningnya.


"Sudah kalian ini berantem terus, malu ini lagi dirumah orang," omel Fathul.


"Hehehe, iya thul maaf."


"Hem... btw terimakasih ya Lo udah bantuin gue, kalau nggak ada Lo, gue nggak tau nasib gue kayak apa," ucap Susi di depan Fathan.


"Iya, itu semua sudah di atur sama Allah," balas Fathan.


"Lain kali kalau memang ada masalah cerita aja sama kita jangan Lo pendam sendiri, kita bukan sekedar sahabat tapi kita sodara Lo." Fathan memberikan nasehat.


"Iya, bukan nggak mau cerita tapi memang belum sempat cerita, karena semua itu mendadak."


"Apa Lo tahu sesuatu?" tanya Susi.


Fathan mengangguk.


Cerita Fathan.


Waktu itu gue nggak sengaja lihat Lo sama nyokap Lo di sebuah Cafe R entah apa yang kalian omongin gue nggak denger karena tempat duduk gue lumayan agak jauh, terus tak lama kemudian ada seseorang yang datang menghampiri kalian, nyokap Lo dengan antusias menyambut orang itu, lain dengan Lo yang seakan menahan kekecewaan tapi Lo tetap berusaha tersenyum meskipun Lo terluka.


Orang itu lumayan ganteng, dewasa. Nyokap Lo sepertinya senang sekali dengannya, tapi gue liat Lo jutek banget.


Gue nggak tahu kalian sedang apa, setelah itu gue nggak tahu lagi karena emak gue ngajak pulang.

__ADS_1


Ke esokan harinya gue lihat Lo kecelakaan.


sekian cerita Fathan.


Susi menundukkan kepalanya menahan air matanya yang akan turun.


"Sus kamu tak apa?" tanya Zahwa. raut wajah Susi mulai berubah saat Fathan bercerita, tadi dia sangat bahagia kini jadi murung seperti ada kesedihan.


"Aku nggak pa-pa Zah."


"Apa itu benar sus? terus kecelakaan kemarin ada hubungannya dengan pertemuan itu?"


Susi mengangguk sebagai jawaban.


Cerita Susi.


Waktu itu nyokap gue mau jodohin gue sama anak salah satu rekan bisnisnya, gue sudah nolak sekuat tenaga, tapi nyokap tetap saja maksa gue untuk ketemuan sama orang itu hampir setiap hari kita berdebat, akhirnya gue mengalah dan setuju dengan ketemuan itu.


Dengan semangat Nyokap gue langsung telfon ke temannya untuk buat janji bertemu, kita putuskan ketemuan di Cafe R.


Nah hari itu kita ketemuan dengan berat hati gue hanya bisa pasrah dengan keadaan.


Gue mikir jalanin aja dulu masalah kebelakang nanti gue pikirin lagi.


Ya, meskipun orangnya nggak jelek-jelek banget, dia lumayanlah, dewasa, mapan, tapi kan namanya cinta itu tidak bisa di paksak.


Dia sih mengerti tentang gue, dia tahu gue nggak mau di jodohin, makanya dia memberikan waktu ke gue, dan mencoba untuk kita saling dekat dulu.


Tapi nyokap gue maksa buat kita cepetan nikah, gue kan nggak mau.


Gue pusing dengan keadaan kenapa seperti ini nasib gue entah apa yang dipikirkan Nyokap gue.


Awalnya sih nyokap gue nyuruh gue ngenalin seseorang, lha gue bingung mau ngenalin siapa pacar aja gue kagak punya.


Ya jadinya itu perjodohan.


Tiba-tiba air mata Susi menetes begitu saja.


Zahwa, Arin, Sinta langsung memeluk Susi.


"Tenanglah disini masih ada kita semua, kita akan bantu kamu untuk keluar dari masalah ini, tapi hanya ada satu solusinya," ucap Zahwa.


Susi langsung melepaskan pelukannya.


"Apa Zah?"


Zahwa tersenyum dan mengarahkan pandangannya ke seseorang yang duduk disamping suaminya.


Susi mengikuti arah pandangan Zahwa.


Setelah itu ia kembali menatap kearah temannya Zahwa, Arin dan Sinta mengangguk.


"Tidak ada salahnya kan di coba," ujar Zahwa dengan nada lembut.


"Itu tidak mungkin Zah," protes Susi.


"Kenapa? Apa yang tidak mungkin? Semua akan menjadi mungkin dan nyata jika Allah sudah menghendaki."


Susi hanya diam mendengar ucapan Zahwa dia bingung harus melangkah atau tidak.


...*******************...

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya kakak.😘🥰🥰🥰❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2