Sie Culun Cintaku

Sie Culun Cintaku
Part 87


__ADS_3

Bisa kita bertemu di Cafe biasa sekarang, pesan dari seseorang.


Arin yang sedang asyik membaca buku, mendengar suara ponselnya berbunyi, ia langsung mengambilnya di atas meja.


Setelah lama kamu pergi, kini kenapa harus kembali, disaat aku mulai berusaha menata hatiku, batinnya. Setelah melihat siapa yang kirim pesan.


Ia menaruh kembali ponselnya tanpa ada niat membalas pesan itu.


Lima belas menit berlalu, Arin masih setia dengan buku ditangannya, tapi pikirannya melayang jauh, memikirkan seseorang yang menunggunya.


Tiga puluh menit, ia sudah tidak bisa berfikir lagi, dengan cepat ia beranjak dari duduknya, dan berganti pakaian secepat kilat, kemudian menyambar kunci motornya, melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Tak lama Arin sampai di Cafe, dengan berlari kecil, ia masuk ke dalam Cafe, mencari seseorang yang tadi mengirim pesan. Ternyata orang tersebut sudah tidak ada di dalam Cafe.


Seketika tubuhnya lemas, air matanya menetes tanpa permisi, ia duduk di bangku dengan posisi menenggelamkan wajahnya di tangannya.


Tak lama kemudian. Betapa terkejutnya ia, saat dirinya merasakan ada tangan yang mengelus lembut kepalanya, dengan cepat ia pun mengangkat kepalanya, dan menoleh kearah samping, bukan marah dengan orang tersebut, tapi tangisannya semakin pecah.


"Eh... kenapa menangis?" tanyanya.


"Kamu, jahat," jawab Arin dengan memukul dada seseorang di sampingnya.


Orang tersebut langsung memegang tangan Arin, kemudian ia menghapus air mata Arin. "Jangan menangis lagi."


"Kenapa, baru memberi kabar, aku mengira kamu telah melupakanku," ucap Arin.


"Itu tidak akan pernah terjadi, maaf aku baru sempat memberimu kabar, aku di sibukkan dengan kuliah, dan banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan."

__ADS_1


"Apa kamu merindukanku?" tanyanya menggoda sang kekasih.


Bukannya menjawab Arin malah memberikan cubitan di tangan kekasihnya.


"Au...sakit," keluhnya. "Biarin saja." Dalam hatinya ia begitu bahagia, setelah kelulusan, dan acara resepsi pernikahan Zahwa, ia tak pernah bertemu lagi dengan kekasihnya.


"Jangan cemberut begitu mukanya, nanti cantiknya ilang."


"Tidak akan, kerena aku sudah cantik dari lahir," balasnya dengan percaya diri. Arin memang cantik tak kalah dengan Zahwa.


"Iya deh, cantik banget."


"Gombal."


"Tidak apa gombal dengan pacar sendiri, dari pada gombalin cewek orang."


"Sejak dulu," balasnya kemudian ia mencubit gemas hidung Arin.


"Ah...apa kamu akan menetap disini?" ia ingin sekali seperti teman-temannya yang memiliki kekasih dekat dengan nya, tidak harus LDR.


"Tidak, masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan di sana, Minggu besok aku harus berangkat lagi, aku tidak tega jika papa harus mengurus perusahaan sendiri."


Wajah Arin langsung berubah menjadi sendu, dengan memasang muka cemberut.


"Mukanya jangan cemberut begitu nanti tambah jelek."


*

__ADS_1


*


*


"Kamu kenapa sayang?tanya Fathul kepada istrinya, yang terus memandang ke arah depan.


"Tak apa, kakak liat deh ke arah depan, itu bukannya Arin ya?"


"Sepertinya, iya, coba kita samperin saja."


Zahwa dan Fathul berjalan menghampiri Arin.


"Assalamualaikum," ucap Zahwa dan Fathul.


Mendengar suara yang tak asing baginya, Arin pun menoleh kearah samping, betapa terkejutnya ia saat melihat Zahwa dan Fathul.


"Kalian," ucap Arin dan orang disampingnya, mereka sama-sama terkejut.


"Kak Radit," Zahwa dibuat bingung melihat Radit dan Arin berduan di Cafe.


"Kalian__?" tanya Fathul.


Arin hanya bisa menunduk kan kepalanya, ia seperti orang yang sedang terciduk berselingkuh.


************


Jangan lupa like dan vote ya kakak.

__ADS_1


__ADS_2