Sie Culun Cintaku

Sie Culun Cintaku
Part 95


__ADS_3

Hari berganti hari satu bulan sudah Fakhri mengenal Lala.


"Gimana Ri?" tanya Papanya. Kini mereka sedang menikmati suasana malam hari duduk di teras rumah.


"Apanya Pa?" Fakhri tak mengerti arah pembicaraan Papanya.


"Hubungan kamu dengan Lala." Papa Ari tidak ingin anaknya hanya bermain-main dengan perempuan.


"Fakhri masih memikirkannya Pa." Fakhri masih meyakinkan ke Lala kalau dia beneran serius.


"Jangan terlalu lama mikir nanti keburu di ambil orang nyesel."


"Kalau jodoh nggak akan kemana Pa," balas Fakhri.


"Apa kamu sudah mengenalnya lebih jauh?"


"Sudah Pa, dia adalah anak yatim, kini ibunya juga sering sakit-sakitan, dia mempunyai adik perempuan yang masih sekolah SMP, dia bekerja sebagai tulang punggung keluarga, belum lama Fakhri pernah kerumahnya, bertemu dengan Ibunya."


"Cinta dia dengan ketulusan bukan karena kasihan."


"Iya Pa."


"Jika memang sudah yakin, cepatlah menemui orang tuanya."


"Baik Pa."


"Papa tidak keberatan kan, kalau Fakhri bersama Lala?" Karena status mereka yang sangat berbeda.


"Tidak, bersama dengan siapapun Papa akan selalu mendukung mu jika memang itu yang terbaik." Papa Ari tidak pernah memandang seseorang dari statusnya yang terpenting baginya adalah dia terlahir dari keluarga yang baik, dan anaknya bahagia bersamanya.

__ADS_1


"Pada ngobrolin apaan sih? nggak ngajak Mama." Mama Ara yang baru datang dengan membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat dan pisang goreng. Kemudian ia duduk disebelah suaminya.


"Mama bikin kita kaget aja," ujar Papa Fakhri.


"Mama tahu saja Abang lagi haus," ucap Fakhri. langsung mengambil secangkir teh dan meminumnya.


"Kalian lagi ngomongin apaan sih, serius banget?" tanya mama Ara.


"Itu Ma, Fakhri kalau serius Papa suruh cepat melamar Lala." Papa Ari menjelaskan kepada sang istri.


"Terus?"


"Abang masih mikir-mikir," jawab suaminya.


"Mikir apaan lagi?"


"Ma, orang berumah tangga itukan harus siap lahir batin, siap segalanya, Abang tidak ingin pasangan Abang menyesal dikemudian hari, membina rumah tangga kan tidak segampang membalikkan telapak tangan, kita harus sama-sama bisa saling mengerti, menghargai satu sama lain, mengenal sikap diantara kita."


"Iya, lebih baik siapkan terlebih dahulu, jadilah suami baik yang bisa menjadi teman bagi istri, menjadi tempat dia bersandar saat ia sedang lelah, menjadi guru saat ia butuh solusi, menjadi dairy saat ia ingin mengeluarkan keluh kesahnya, dengarkanlah suara hatinya jangan pernah kamu abaikan saat ia ingin bercerita."


Mama memberikan wejangan.


"Iya Ma."


"Belajar lebih dewasa jangan seperti anak-anak, jika menghadapi masalah."


"Iya Ma."


"Lala itu anak yang baik, kalem, sopan santun, dia juga anaknya polos apa adanya, jangan meninggalkan luka di hatinya."

__ADS_1


"Iya Ma, Abang tahu itu, makanya Abang tidak ingin terburu-buru untuk menuju ke jenjang yang lebih serius, bukan Abang tidak serius pada perempuan tapi Abang masih ingin mengenalnya lebih jauh."


"Iya, terserah Abang saja, kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik buat anaknya."


"Tapi, Lala sedang tidak dekat dengan seseorang kan?" tanya Mama.


"Katanya sih tidak Ma, waktu itu Abang sudah pernah nanya."


"Baguslah kalau begitu."


Tak terasa waktu sudah larut, kini obrolan mereka harus terhenti.


"Ma, Pa, Abang masuk kamar dulu ya." Fakhri pamit istirahat terlebih dahulu.


"Iya sayang," ucap sang Mama.


"Anak kita sudah pada dewasa ya Pa, perasaan belum lama Mama menggendongnya, bermain bersamanya, melatihnya berjalan, sebentar lagi Abang mempunyai keluarga sendiri."


"Iya Ma, gimana kalau kita bikin debay lagi," goda Papa Ari memberikan solusi.


"Ih... Papa apaan sih ingat umur Pa," jawab sang istri langsung mencubit perut suaminya.


... ****************** ...


Aduh Papa Ari nggak mau kalah sama yang muda.


Jangan lupa like dan vote nya ya kakak.


Ingat ya tulisan ini hanya fiksi belaka, haluan ku saja.

__ADS_1


__ADS_2