
Setelah kemarin melihat gelagat aneh antara Raka dan Sinta, kini semua temannya di buat penasaran entah apa yang sebenarnya terjadi kepada kedua temannya, karena Raka dan Sinta yang biasanya seperti Tom and Jerry kini berubah seratus delapan puluh derajat, kini mereka bersikap sangat manis.
Membuat mereka penasaran tapi mereka hanya diam mencari waktu yang tepat untuk bertanya.
"Hai, Zah," panggil Arin yang baru datang langsung menghampiri Zahwa duduk di dalam ruangan.
"Hai, juga."
"Kamu sendirian Rin?" tanya Zahwa.
"Iya, Zah tadi aku berangkat bareng bokap." Suami kamu mana Zah?"
"Kak Fathul, tadi keluar sama Fathan."
Saat Zahwa dan Arin sedang mengobrol tiba-tiba ada seorang perempuan yang menghampiri mereka berdua.
"Oh...jadi ini perempuan yang sok kecantikan, yang berani dekat-dekat dengan pangeran gue, kalau dilihat dari atas sampai bawah, dia sangat jauh dari gue. "Jelas dong inces Nadia paling cantik."
Seketika Arin langsung menatap tajam kearah tiga cewek yang berdiri disampingnya, ia kesal dengan ucapan Nadia. "Eh...Lo siapa? tiba-tiba datang marah-marah tidak jelas."
"Diam! gue tidak berbicara sama Lo."
"Terus, Lo bicara sama setan gitu? disini kan cuma ada dua orang gue sama dia, menunjuk kearah Zahwa.
"Gue, bicara sama dia, si culun yang sok kecantikan, dilihat dari atas Monas pakai sedotan pun tidak akan terlihat cantik."
__ADS_1
"Apa maksud Lo?" ketus Arin yang sudah terpancing emosi.
Zahwa pun langsung menegang bahu Arin. "Biarkan dia berbicara sesuka hatinya."
"Bilangin tuh sama temen Lo, jangan dekat-dekat pangeran gue," ucap Nadia sambil mendorong pelan bahu Arin.
"Memangnya, siapa pangeran Lo?" tanya Arin.
"Fathul, dia adalah calon gue, jadi Lo jauh-jauh dari dia." Nadia memberikan peringatan kepada Zahwa.
Sontak ucapan Nadia membuat Zahwa tersenyum dan Arin tertawa.
"Kenapa Lo tertawa?"
"Tak apa, hanya lucu saja, sudahlah gue kasih tahu, lebih baik Lo, siapa tadi nama Lo? Arin mulai mengingat. "Oh...iya gue ingat inces Nadia, mendingan Lo jangan nyari masalah sama kita, atau Lo bakal nyesel." ucap Arin.
Saat Arin mau berbicara lagi langsung ditahan Zahwa, karena orang seperti itu kalau di ladenin tak akan pernah berhenti.
"Kalian kenapa?" tanya Sinta dan Susi yang baru datang. "Nih," jawab Arin menunjuk ke arah Nadia.
"Lo, siapa ada disini? Sono pergi sebentar lagi dosen datang." ujar Sinta.
"Lo, siapa beraninya ngusir inces."
"Gue, cewek paling imut dan cantik." jawab Sinta.
__ADS_1
Saat Nadia ingin berbicara lagi, tiba-tiba Fathul, Fathan, dan Raka, datang.
Fathul, langsung menuju tempat duduknya istrinya. "Ada apa sayang?" tanyanya.
Zahwa, belum sempat menjawab pertanyaan suaminya, suara cempreng itu sudah lebih dulu berceloteh.
"Eh... pangeran inces datang." Nadia langsung mendekat ke arah Fathul, tapi dengan cepat Fathul menjauh.
Sayang, kenapa malah mundur, inces kan pengen berdekatan terus dengan pangeran inces.
Fathul, langsung mendorong tubuh Raka ke depan, urusin noh, Lo kan mantan play boy," ucap Fathul.
Si**an, Lo tul gue sudah tobat, gue gak mau nanti calon bini gue marah," ucap Raka langsung mundur ke belakang Fathan, hadapi than, Lo kan masih jomblo.
Fathul, itu orang paling malas kalau berurusan dengan perempuan, kecuali perempuan itu yang ia sayangi.
"Kalian minggir inces maunya sama pangeran inces," Nadia memarahi Raka dan Fathan karena menghalangi jalannya.
Tak lama dosen pun datang.
"Kalian siapa? kenapa berada di sini?" tanya Pak dosen.
Nadia kaget saat melihat siapa yang bertanya, ia hanya tersenyum kecut dan melangkahkan kakinya keluar ruangan. "Maaf," ucapnya sebelum keluar dari pintu.
...********************...
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya kakak terimakasih 🥰❤️😘😘❤️❤️