
Zahwa sudah siap dengan kacamata tebalnya dan tak lupa tompel dipipi nya.
Fathul yang melihat kelakuan istrinya hanya tersenyum geli, bisa-bisanya istrinya berpenampilan seperti itu lagi, padahal semua teman-temannya, eh...bukan hanya temannya tapi semua murid alumni SMA A angkatannya, sudah mengetahui dia yang sebenarnya.
"Kakak, apa aku sudah cantik? tanya Zahwa dengan tersenyum.
"Sudah sayang, ayo! kita berangkat," ajak Fathul.
"Iya, kak."
Setelah menikah Fathul memutuskan untuk tinggal di Apartemen miliknya, ia ingin mandiri.
Keluarganya hanya bisa pasrah dengan keputusan anaknya.
Setiap hari libur, Fathul bekerja membantu di perusahaan ayahnya, tapi ia tidak mau bergantung kepada Ayahnya, ia memiliki usaha sendiri yaitu sebuah Cafe, yang ia dirikan saat kelas 12, tanpa sepengetahuan keluarganya, dan sampai sekarang pun orang tua Fathul tidak mengetahuinya.
30 menit mereka sampai di tempat kuliahnya, Zahwa, keluar mobil lebih dulu, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan teman-temannya.
"Zahwa," panggil Susi.
Zahwa, berjalan menghampiri Susi, dan langsung memeluknya, "aku, kangen sekali," ucapnya.
"Aku, juga kangen banget sama kamu Zah."
"Tunggu! kenapa Sus? tanya Zahwa.
Susi menatap kearah Zahwa dari atas sampai bawah. "Kenapa berpenampilan seperti ini lagi?" Zahwa hanya menjawab dengan senyuman.
Sinta dan Arin yang melihat Susi dan Zahwa, mereka berdua langsung menghampirinya, mereka pun langsung berpelukan.
Kangen banget," ucap Sinta. " Sama."
Sudah nanti lanjut lagi, apa kalian tidak malu di lihat orang," ucap Fathul.
__ADS_1
Masuk yuk!" Fathul menggandeng tangan Zahwa.
Arin, Sinta, dan Susi mengikuti dari belakang.
Hai!" panggil Raka dari belakang.
"Eh... kalian baru datang?" tanya sinta sedikit gugup.
"Kalian berdua tumben tidak berantem?" selidik Susi.
"Ist... kamu ini bahagia sekali kalau aku berantem sama Raka," kesal Sinta.
"Bukan begitu, hiburan kita itu kalian, hehehe." Karena hanya Raka dan Sinta yang paling ramai dibanding yang lain.
Sinta hanya diam mendengar ocehan Susi. Ia tidak mungkin berdebat dengan Raka yang sekarang statusnya berbeda, kini ia kekasihnya.
Sudahlah, kita masuk dulu nanti keburu Pak Dosen masuk," ucap Arin.
"Kalian dari mana lama sekali?" tanya Fathul yang melihat temannya baru datang.
"Tidak." jawabnya kompak.
*
*
*
Selesai mata kuliah, mereka menuju cafe biasa mereka nongkrong.
"Kerjaan Lo gimana Ka?" tanya Fathan.
"Alhamdulillah, semakin hari ada kemajuan, gue harus terus berusaha, biar bisa cepat nyusul Fathul."
__ADS_1
"Ngapain, kawin maksud Lo?"
"Nikah Fathan, bukan kawin," omel Zahwa.
"Sama saja zah."
"Mau kawin sama siapa Lo? si Nita? sahut Fathul, pacar terakhir Raka.
"Bukan, gue sudah lama putus sama dia."
"Terus siapa?"
"Nanti juga kalian tahu, yang pasti ini gue ingin serius, pengen cepat halalin dia juga." Raka sudah memantapkan hati saat ini, ia benar-benar ingin serius dengan Sinta.
"Wah, hebat sekali itu perempuan bisa membuat si playboy tobat."
Sinta yang sedang makan langsung tersendak mendengar ucapan temannya.
"Kamu, baik-baik saja Sin?" tanya Zahwa dengan memberikan segelas air putih.
"Aku, tidak apa Zah."
"Pelan-pelan kalau makan," ucap Raka. "Iya."
Seketika membuat semua temannya saling menatap satu sama lain tatapan mereka bertanya ada apa sebenarnya, tapi semua mengangkat bahunya sebagai jawaban.
*
********
Maaf ya kalau ceritanya kurang greget, saya lagi kurang sehat.
Terima kasih yang selalu setia dengan cerita saya, jangan lupa like dan vote ya kakak. 🥰🥰🥰🥰🥰❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1