
Setelah membeli gaun buat Lala, Fakhri mengajak Lala ke toko sendal dan sepatu.
"Kita ngapain kesini?" tanya lala yang bingung kenapa ke toko sepatu cewek.
"Kita beli sepatu atau sandal dulu."
Lala mengikuti Fakhri dari belakang. "Mas Fakhri mau beliin buat pacarnya?"
"Bukan."
"Terus?" Lala penasaran, ya kali gitu dia yang di beliin.
"Buat calon istri saya."
"Oh..." ucapnya singkat. Seketika hatinya terasa nyeri.
Ternyata Mas Fakhri sudah punya calon istri, kenapa hatiku rasanya sakit ya, masa iya aku cemburu, ah... itu tidak mungkin, sadar Lala kamu bukan siapa-siapa. batin Lala.
"Bantuin saya milih," ucap Fakhri.
"Lala kan tidak tahu seperti apa calon Mas Fakhri ukurannya juga Lala nggak tahu," balas Lala, dalam hatinya begitu sakit, ternyata dia diajak pergi hanya untuk menemani mencari kado buat calon istri orang yang dia sayangi.
"Ukuran kakinya sama sepertimu."
"Kalau saya ukuran tiga puluh delapan Mas.
Fakhri memilih satu sendal dan sepatu warna putih kemudian meminta Lala untuk mencoba dikakinya. "Gimana La?"
"Bagus Mas, ukurannya juga pas banget, pasti calon Mas Fakhri cantik banget ya?"
"Iya, cantik, baik, istri sholehah pokonya."
"Pasti perempuan itu, wanita paling beruntung."
"Bukan dia yang beruntung, tapi saya yang beruntung bisa memilikinya.
Setelah mendapatkan apa yang di inginkan Fakhri mengajak Lala keluar toko menuju restoran terdekat.
"Kita makan dulu ya," ajak Fakhri masuk kedalam restoran seafood.
Lala hanya mengangguk sebagai jawaban, entahlah sepertinya dia sudah tidak bersemangat lagi setelah mengetahui Fakhri memiliki calon istri membuatnya moodnya hilang seketika.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Fakhri setelah mereka masuk ke dalam restoran seafood dan duduk di kursi yang tersedia.
"Samain saja Mas." Sebenarnya Lala tidak nafsu makan, tapi dia memaksakan dirinya tak enak hati kalau menolak ajakan bosnya.
"Mba kepiting saus pedas dua, minumnya es jeruk dua."
"Baik Mas tunggu sebentar."
Sambil menunggu pesanan, Lala sibuk dengan ponselnya, Fakhri juga sibuk ngecek laporan yang dikirim asistennya.
"La, boleh saya pinjam ponsel kamu?" tanya Fakhri.
Lala pun memberikan ponselnya ke Fakhri.
"Ini udah." Fakhri mengembalikan ponsel Lala.
"Kita ambil foto bareng La."
"Nggak mau, nanti calon Mas Fakhri marah."
"Tenang saja dia tidak akan marah."
"Perempuan mana yang tidak marah kalau liat calon suaminya bersama perempuan lain, aku nggak mau kalau di bilang pelakor."
Fakhri tertawa mendengar ucapan Lala.
"Mas Fakhri kenapa ketawa?"
Fakhri hanya menggeleng. Kemudian dia duduk disebelah Lala dan mengambil foto mereka berdua, Lala memasang muka cemberut.
__ADS_1
"Jangan cemberut begitu mukanya, nanti cantiknya ilang."
Fakhri mulai mengambil foto lagi. "Senyum."
Lala pun terpaksa senyum.
"Gitu kan cantik, manis lagi, jadi pengen cepat halalin," ucap Fakhri dengan mengelus lembut kepala Lala.
"Ih... Mas Fakhri apaan sih."
"Lha memangnya saya kenapa?"
"Mas Fakhri kan sudah punya calon istri, tidak baik ngomong begitu, Lagian Lala nggak mau jadi yang kedua."
"Siapa juga yang mau jadiin kamu yang kedua."
"Mas, Mba, ini pesanannya silahkan dinikmati."
"Terima kasih Mba."
Akhirnya mereka berhenti berdebat karena pesanan datang.
"Kita makan dulu," ucap Fakhri.
Lala mengangguk sebagai jawaban. Bukannya memakan Lala hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Kenapa makanannya tidak di makan, apa kamu tidak suka?"
"Suka kok Mas."
"Terus kenapa tidak dimakan mau aku suapin?"
"Tidak perlu, Lala bisa sendiri." terpaksa Lala langsung memasukkan nasi kedalam mulutnya.
"La, mau nyobain nggak, ini enak banget."
"Sama saja Mas." Lala melihat makanan Fakhri sama seperti di piringnya.
"Apa bedanya?"
"Bedanya, makannya aku yang suapin kamu," ucapnya tersenyum dengan mengulurkan sesendok makan ke Lala.
Lala menggelengkan kepalanya.
"Ayo, a-a-a, cepetan, kalau nggak mau nanti saya suruh kamu yang bayar ini semua."
Terpaksa Lala membuka mulutnya, dan menerima suapan dari Fakhri, mana punya duit dia buat bayar pasti mahal, uang gajinya saja hanya cukup buat makan dan bayar sekolah adeknya.
"Cie...ada yang lagi bucin nih," celetuk seseorang yang baru datang menghampiri mereka dan langsung duduk bergabung dengan senyum mengembang.
Suara seseorang yang tak diundang datang, membuat pipi Lala seketika berubah menjadi merah karena malu.
"Zahwa," ucap Lala dengan tersenyum kecil.
"Mba Lala." Zahwa tersenyum penuh arti.
"Kamu ngapain kesini dek, bukannya hari ini kuliah?" tanya Fakhri.
"Kuliah, udah pulang."
Zahwa dan Fathul niatnya ingin belanja stok makanan dirumah yang habis, karena sudah masuk jam makan siang jadi mereka nyari makan dulu, ternyata melihat abangnya sedang berduaan yaudah dia pun dengan semangat langsung menghampirinya.
"Ya sudah sana pesan makanan," ujar Fakhri.
"Sudah."
"Mba Lala, nggak kerja?" tanya Zahwa.
"Harusnya masuk tapi terpaksa libur."
"Pasti Abang, yang nyuruh mba Lala libur." Zahwa sudah bisa menebak kelakuan abangnya lagi bucin akut.
__ADS_1
"Iya."
"Biarin memangnya kenapa?"
"Tidak apa, Zahwa malahan senang, Abang nggak sibuk kerja, biar nggak jomblo terus."
"Abang bukannya jomblo dek, tapi belum ada yang cocok."
"Sama aja."
"Beda dek."
"Apa bedanya?"
"Sudah ayo makan," sahut Fathul kalau di biarin perdebatan antara Abang ipar dan istrinya tidak akan usai sampai besok.
Mereka pun akhirnya makan dengan tenang tanpa ada suara kecuali sendok dan garpu.
Setelah selesai makan.
"Abang habis belanja?"
"Iya."
"Buat Mba Lala?"
"Bukan zah, tapi buat calon istrinya," sahut Lala.
"Benarkah? siapa calon istri Abang?" tanya Zahwa antusias.
"Nanti juga tahu sendiri," Jawab Fakhri dengan mengedipkan sebelah matanya.
Zahwa yang melihat kedipan mata Abangnya, dia mengerti pasti ada sesuatu.
"Mba Lala tahu tidak calon Abang?"
"Tidak, pasti dia cantik ya Zah?
"Iya cantik banget, baik lagi," ucap Zahwa dengan dia mulai ikut permainan Abangnya.
"Thul, gimana kerjaan kamu?" Fakhri mengalihkan pembicaraan dia tidak tega melihat wajah Lala yang sudah mulai berubah sendu.
"Alhamdulillah baik bang."
"Alhamdulillah, mudah-mudahan makin maju."
"Amin."
"Usaha restoran kamu gimana?
"Alhamdulillah lancar bang, pengennya sih buka cabang lagi, tapi belum dapat ijin dari istri." Zahwa memang belum mengizinkan Fathul buka cabang takut suaminya sibuk dengan kerjaan.
"Memangnya kenapa dek?"
"Tidak apa, takut Kak Fathul terlalu sibuk dengan kerjaan nanti malah nggak fokus sama kuliahnya."
"Nggak fokus kuliah apa nggak foku sama kamu?" goda Fakhri dengan tertawa.
"Sepertinya sih begitu bang," sambung Fathul
Kemudian mereka tertawa bersama.
"Ih... Abang sama kakak nyebelin." Zahwa langsung cemberut kesal dengan kelakuan Abang dan suaminya.
... ********************...
Jangan lupa like dan vote ya kakak.
Terima kasih karena kalian sudah bersedia membaca cerita aku yang acakadul lope buat kalian semua.😘
cerita ini hanyalah fiksi belaka.
__ADS_1