Sie Culun Cintaku

Sie Culun Cintaku
Part 105


__ADS_3

Kini Fakhri dan Lala sudah bergabung dengan para orang tua dia ingin mengutarakan niatnya.


"Hem... Ma, Pa dan Ibu, Fakhri ingin bicara."


"Apa bang?"


"Begini Ma, tadi Fakhri dan Lala sudah berbicara dan kita sepakat untuk melakukan pernikahan Minggu depan. Gimana menurut Mama, Papa, dan Ibu?"


"Kalau Ibu terserah kalian saja."


"Itu sih pasti kemauan Abang, ngebet banget sih anak kamu Pa."


"Anak kamu juga Ma."


"Oiya,ya hehehe."


"Kalau sebenarnya kurang setuju karena nggak mungkin kita menyiapkan semuanya dalam waktu satu Minggu."


"Mama setuju dengan Papa."


"Maksud Fakhri Minggu depan akad doang, sedangkan untuk acara resepsi kita gelar satu bulan setelahnya"


"Oh, begitu bilang dong dari tadi." ucap Mama Ara.


"Mama terserah saja, orang mau nikah udah kayak orang kebelet aja."


"Biarin dah Ma, kemarin kata Mama Fakhri suruh buruan nikah."


"Iya sih. yaudah besok Abang sama Lala ke butik cari baju akad yang cocok buat kalian."


"Iya Ma."


Karena waktu sudah menunjukan siang hari mereka pun akhirnya pamit pulang.


"Mba, kita pamit dulu ya, maaf kita sudah merepotkan kalian, terimakasih untuk semuanya."


"Saya yang berterima kasih banyak sama Ibu, karena sudah bersedia menjalin silaturahmi dengan keluarga kami."


"Sama-sama Mba."


"Mama pulang dulu ya La."


"Iya Ma, terimakasih."


"Sama-sama sayang."


"Saya pulang dulu ya La."


"Iya Mas."


"Assalamualaikum," ucap mereka keluar rumah menuju mobil.


"Wa'alaikumussalam."


*


*


*


Rumah Sakit Al Mira


Didalam rumah sakit Susi terbaring di bangkar dengan jarum infus, tangan dan kaki sudah di perban.


Zahwa, Fathul dan yang lain langsung menuju ke lokasi saat di beri kabar oleh Fathan, dengan secepat kilat kini Zahwa sudah sampai di Rumah Sakit.


Setelah Fathul memarkirkan mobilnya Zahwa langsung keluar mobil dan lari mencari keberadaan ruang Susi.


"Sayang jangan lari," teriak Fathul.


Tapi Zahwa tak peduli dia terus saja berlari, dia menghentikan larinya saat di depan ruang melati nomor 13, dengan pelan dia mulai membuka pintu dilihatnya Susi masih tertidur mungkin ia belum sadarkan diri, kemudian matanya beralih menatap ke kursi yang berada di samping Susi ada Fathan yang dengan setia menemani.


Zahwa melangkahkan kakinya kedalam.


"Assalamualaikum," lirihnya.


"Wa'alaikumussalam, Zah."


Zahwa tersenyum dan mendekat ke Susi.


"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa bisa seperti ini?" Tiba-tiba air matanya menetes begitu saja saat melihat keadaan Susi yang seperti ini.


Arin, Sinta, dan Raka sampai di RS Al Mira.

__ADS_1


Mereka langsung menuju ruangan Susi.


Sinta dan Arin langsung menghampiri Zahwa mereka berpelukan. "Apa yang terjadi dengan Susi?" mereka menangis.


"Sebenarnya apa yang terjadi than?"


Fathan mulai bercerita.


Awalnya Fathan hanya ingin ke supermarket membeli minum dan cemilan untuk menemaninya nanti malam main game, tapi saat keluar dari mobil, fathan melihat kerumunan karena penasaran dia pun menghampiri kerumunan itu, tak di duga betapa terkejutnya dia saat melihat Susi sudah terkapar di aspal dengan darah yang mengalir dari tangan dan kakinya.


Fathan langsung meminta pertolongan kepada orang-orang untuk mengangkat tubuh Susi ke dalam mobilnya, setelah itu Fathan langsung membawa Susi kerumah sakit terdekat.


Menurut penuturan orang-orang Susi mengalami tabrak lari, jadi ada mobil dengan kecepatan tinggi tidak melihat keberadaan Susi yang sedang menyebrang jalan.


Sekian cerita dari Fathan.


*


*


*


"Lo udah menghubungi Nyokap nya belum?"


"Belum gue kan nggak tahu nomor emaknya."


"Hp Susi dimana?"


"Gue nggak tahu, di tempat kejadian tidak ada Hp atau tas dia."


"Ya udah kita tenang saja dulu, nanti juga pasti nyokap nya telfon ke kita."


"Terus kata dokter gimana keadaan nya?"


"Tadi bilang lukanya tidak terlalu parah di tangannya, cuma kakinya mengalami patah tulang."


"Astaghfirullah, mudah-mudahan dia cepat pulih."


"Permisi, maaf dokter ingin memeriksa pasien."


"Iya sus, silahkan," ucap Zahwa, kemudian dia mengajak teman-temannya untuk keluar dari ruangan. "Kita keluar saja dulu."


Mereka pun berjalan keluar dan duduk di bangku yang tersedia di depan ruangan.


Zahwa langsung menghampiri dokter.


"Bagaimana keadaan teman saya dok?"


"Alhamdulillah, tidak ada yang perlu di khawatirkan, sebentar lagi juga dia akan siuman."


"Tapi tolong jangan di ajak banyak bicara dulu, biarkan pasien beristirahat dulu."


"Baik dok, terimakasih ."


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu, jika terjadi sesuatu cepat beritahu saya."


"Baik dok."


Dokter pergi meninggalkan ruangan Susi. Teman-temannya langsung kembali masuk kedalam, dan duduk di sofa yang tersedia.


"Apa perlu kita lapor ke polisi?" tanya Fathul.


"Sepertinya tidak perlu, kita serahkan saja semua pada Allah SWT." jawab Fathan.


Malam hari.


Teman-temannya masih setia menunggu.


Susi mulai menggerakkan tangannya.


Zahwa yang melihat pergerakan tangan Susi, dia langsung menghampirinya dan menggenggam tangan Susi.


Teman yang lain pun langsung beranjak dari duduknya dan berdiri di samping bangkar.


Perlahan Susi mulai membuka matanya pertama yang di lihat teman-temannya yang berdiri di samping nya.


"Kalian," lirihnya.


"Alhamdulillah," ucap semua.


Zahwa langsung memencet tombol pemberitahuan, agar dokter memeriksa keadaan Susi.


Tak lama dokter datang.

__ADS_1


"Permisi, saya periksa pasien terlebih dahulu."


"Silahkan dok!"


Dokter mulai memeriksa. "Apa ada yang sakit," tanyanya.


Susi menggeleng sebagai jawaban.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu jangan lupa minum obat dan banyak istirahat."


Susi tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.


Setelah memeriksa dokter keluar kembali keruangan nya karena masih banyak pasien.


"Kamu butuh sesuatu?" tanya Zahwa.


"Minum."


Zahwa langsung mengambilkan segelas air putih dan memberikan memberikan pada Susi.


"Terima kasih Zah."


Zahwa tersenyum.


"Istirahatlah dulu." Zahwa ingin beranjak dari duduknya tapi tangannya di cekal oleh Susi.


"Tetaplah disini Zah."


Zahwa kembali duduk dengan menggenggam tangan Susi. "Apa kamu butuh sesuatu?"


"Tidak," jawab Susi.


"Ya sudah istirahatlah dulu, aku akan tetap disini."


Susi mulai memejamkan matanya kembali karena kepalanya masih terasa pusing.


*


*


*


Teman-temannya yang tadi berdiri, udah kembali duduk.


"Sepertinya ada yang tidak beres." Sinta berbisik di telinga Arin.


"Iya, perasaanku juga berkata seperti itu."


"Kita tunggu saja sampai di pulih kembali, dan bercerita kepada kita."


"Iya, aku nggak tega lihat dia seperti itu."


"Sama."


"Kalian ngapain sih bisik-bisik tetangga gitu?"


"Tidak apa." Sinta dan Arin cengengesan.


"Dasar Aneh," ujar Raka.


*


*


*


"Lo kenapa than?" Raka menepuk bahu Fathan.


"Astaghfirullah, Lo bikin gue kaget aja."


"Lah Lo ngelamun aja dari tadi kesambet tau rasa Lo. Ngapain sih ada masalah?"


"Tidak."


"Ditanya ini itu jawabnya cuma nggak mulu," Raka ngomel-ngomel sendiri.


... ************...


Entahlah ini nyambung gak nyambung ceritanya ngelantur kemana-mana, smabung-sambungin aja ya, hehehe.


Author nya lagi puyeng.


Terima kasih buat kalian ❤️😘😘❤️❤️😘😘❤️.

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote.


__ADS_2