Sie Culun Cintaku

Sie Culun Cintaku
Part 107


__ADS_3

Fakhri dan Lala


Kini mereka berdua sedang di sibukkan dengan persiapan acara pernikahan mereka meskipun hanya akad nikah dan di gelar secara sederhana tapi tetap saja mereka sibuk.


Saat ini mereka berada di butik sang Mama mencoba beberapa gaun yang cocok untuknya, setelah itu mereka harus ke toko perhiasan membeli cincin, ke salon kecantikan untuk perawatan, melihat beberapa dekorasi untuk acara akad.


Sampai pukul 19.00 mereka baru selesai berkeliling sekarang mereka sedang berapa di pedagang nasi goreng pinggir jalan.


Meskipun Fakhri orang kaya tapi dia tetap nyaman makan di pinggir jalan selama makanan itu enak dan steril.


"Mang nasi goreng spesial telur ceplok dua jangan pedas-pedas."


"Baik Mas."


"Lala," panggil seseorang.


"Acep."


"Apa kabar kamu La? sudah lama tidak pernah kelihatan."


"Alhamdulillah, baik Cep."


"Ibu gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, baik juga Cep."


"Ini pesanannya silahkan Mas."


"Iya makasih."


Acep dulu tetangga Lala, mereka berteman saat SMA, setelah Lulus Lala memilih kerja sedangkan Acep kuliah.


"Saya duluan ya La, salam buat Ibu."


"Iya Cep, Waalaikumsalam."


Fakhri yang melihat percakapan antara keduanya langsung hilang nafsu makannya, dia hanya mengaduk-aduk nasi goreng di depannya.


"Mas kenapa nasinya nggak dimakan?" tanya Lala dia bingung padahal tadi dia yang semangat untuk makan nasi goreng, tapi sekarang bukannya dimakan cuma di aduk-aduk duang.


Fakhri hanya tersenyum.


Sampai nasi goreng Lala sudah habis tak tersisa hanya tinggal piring dan sendok.


Sedangkan milik Fakhri masih utuh hanya cuma berkurang sedikit.


"Mas."


"Kamu sudah selesai?"


"Sudah."


"Ya sudah ayo! kita pulang."


"Punya Mas Fakhri kan belum di makan."


"Saya sudah kenyang," balasnya kemudian beranjak dari duduknya dan membayar pesanannya.


"Berapa Mang?" tanyanya.


"30.000 Mas."


Fakhri memberikan satu lembar uang berwarna biru.


"Kembaliannya Mas."


"Ambil saja Mang."


"Terima kasih."


Fakhri dan Lala berjalan menuju mobil.


"Mas kenapa sih?" Lala membuka suara, kini mereka sudah berada di dalam mobil menuju kerumah Lala.


"Kalau ada apa-apa bilang Mas, jangan diam begini."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, sudahlah." Hanya itu yang keluar dari mulut Fakhri kemudian dia diam kembali.


"Jangan seperti anak kecil Mas, aku tahu mas Fakhri cemburu ya sama Acep."


"Tidak."


"Kalau nggak cemburu kenapa dari tadi diam aja, sampai nggak nafsu makan segala." Lala mulai menggoda Fakhri, dia nggak terjadi kesalahpahaman diantara mereka.


"Mas kalau cemburu bilang saja kenapa sih." mencolek lengan Fakhri.


"Apaan sih, enggak siapa juga yang cemburu."


"Kalau begitu besok aku boleh dong ketemu sama Acep lagi."


Tanpa aba-aba Fakhri langsung menghentikan mobilnya secara mendadak membuat Lala hampir saja terbentur di kaca.


"Astaghfirullah. Mas kenapa sih ngerem mendadak begini bahaya tau," omel Lala.


"Kamu yang mulai," kesal Fakhri.


"Mulai apaan Lala kan nggak ngapa-ngapain." Lala bingung kenapa jadi dia yang salah.


"Siapa Acep?" tanya Fakhri dengan nada yang sudah tidak bersahabat.


"Terus mau ngapain besok kamu bertemu dengan dia?"


"Mas kalau nanya satu-satu jangan langsung bererot begitu Lala jadi bingung jawabnya.


"Intinya, Acep hanya teman Lala waktu SMA. dan Lala hanya bercanda ingin ketemu Acep, atuh Mas Fakhri nya cemberut bae dari tadi."


"Teman apa teman?"


"Teman Mas, teman." Lala sengaja menekan kata temannya.


"Tapi sepertinya kalian sangat dekat."


"Kita memang dekat dia adalah orang yang selalu ada disamping Lala orang yang selalu melindungi Lala saat di sekolah, dia satu-satunya teman yang Lala miliki, karena semua orang hanya memandang status sosial saat berteman, sedangkan siapalah saya, makanya tidak ada yang mau berteman dengan Lala hanya Acep yang mau berteman dengan Lala.


Meskipun Acep anak orang kaya tapi dia tidak pernah memandang orang lain dari statusnya.


Dulu rumahnya nggak jauh dari rumah Lala, tapi sekarang dia sudah pindah di perumahan PR.


"Jangan mudah cemburu dengan orang yang tidak kita ketahui asal usulnya, lebih baik bertanya dari pada di simpan akan menjadi bumerang bagi suatu hubungan."


"Maaf," ucap Fakhri mengelus lembut kepala Lala.


"Asal Mas Fakhri tahu ini pertama kali buat Lala. Mas Fakhri yang mulai mengajarkan Lala untuk mengenal apa itu cinta, Mas Fakhri tiba-tiba hadir dalam hidup Lala, mengisi pikiran Lala, menaruh separuh jiwa di hati Lala."


"Terima kasih," ucap Fakhri. "Apa kamu tidak pernah pacaran?"


Lala menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Berarti aku laki-laki paling beruntung di dunia ini karena bisa memiliki mu, calon bidadari surga ku."


Ucapan Fakhri mampu membuat pipi Lala langsung merona.


"Itu pipi kenapa mereka begitu?"


Sontak saja Lala langsung menutupi pipinya dengan kedua tangannya.


Fakhri tertawa terbahak-bahak karena mampu membuat Lala salah tingkah.


"Duh, jadi gemes deh pengen cepet-cepet halal biar kalau gemes bisa langsung di gigit."


"Ih, mas Fakhri apaan sih. Sakitlah kalau aku di gigit." Lala dengan polosnya.


"Nggak sakit kok sayang, mau nyobain sekarang," goda Fakhri yang sudah mendekat ke arah wajah Lala.


Lala langsung memundurkan tubuhnya.


"Istighfar Mas kita belum halal."


"Tapi kamu yang mulai memancing saya sayang." Fakhri semakin mendekat.


Lala langsung memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Fakhri menyentil kening Lala dengan tertawa puas kemudian kembali ke posisi semula.


"Au, sakit, ah... Mas Fakhri."


"Lagian kamu lucu sekali."


Fakhri menyalakan mobil dan melanjutkan perjalanannya kerumah Lala.


"Besok kita mulai di pingit, yah nggak bisa ketemu."


"Sabar Mas, acaranya juga tinggal lima hari lagi."


"Iya jadi nggak sabar, coba bisa maju lagi besok saja kita akad."


"Ngebet banget sih."


"Bukan ngebet sayang, tapi takut khilaf."


Lala hanya tersenyum menanggapi ucapan calon suaminya itu.


Tak lama mereka sampai di rumah Lala.


Fakhri membukakan pintu untuk Lala.


"Terima kasih Mas," ucap Lala setelah keluar dari mobil.


"Sama-sama."


"Assalamualaikum," ucap mereka berdua kemudian masuk kedalam rumah.


"Wa'alaikumussalam," jawab Nara..


"Ibu kemana dek?"


"Pengajian dirumah Mbah Sumi katanya."


"Oh."


"Ya udah kalau saya pamit dulu ya La."


"Iya Mas."


"Saya pulang Nara."


"Iya Mas Fakhri."


Lala mengantarkan Fakhri sampai di depan pintu.


Setelah mobil Fakhri tak terlihat lagi, Lala masuk kedalam rumah mendudukkan dirinya di sofa bersama Nara.


"Cie, Mba Lala," goda Nara.


"Hust, anak kecil." hahaah.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


"Kamu sudah La."


"Iya Bu, baru sampai."


"Gimana tadi?"


"Alhamdulillah, udah beres semua Bu."


"Alhamdulillah, kalau gitu." balas Ibunya.


... *****************...


**Jangan lupa datang ya besok adalah hari pernikahan Fakhri dan Lala.


Kalau datang jangan lupa bawa amplop ya🤭


Terima kasih buat kalian ❤️😘😘😘😘❤️❤️😘😘❤️❤️**

__ADS_1


__ADS_2