
Tak terasa tiga tahun sudah pernikahan Zahwa dan Fathul. Menginjak angka tiga keluarga semakin bawel berharap Zahwa dan Fathul segera memberikan kabar baik para orang tua ingin mendengarkan tangisan baby ramainya suara anak kecil.
"Ay," panggil Fathul pada Zahwa.
"Iya, ada apa Kak?" tanya Zahwa.
"Ay, kalau aku perhatiin kamu sekarang nafsu makannya tinggi tidak seperti biasanya," ucap Fathul. Beberapa hari ini dia melihat Zahwa porsi makan Zahwa lebih banyak dari biasanya badannya juga lebih berisi. Tapi kalau soal badan Fathul tak berani berkata takut istri tercinta tersinggung berubah menjadi singa bisa kacau.
Setiap hari Fathul selalu memperhatikan pola makan istrinya dia tak mau jika terjadi sesuatu pada Zahwa.
Jika kadang suami itu cuek sama istri berbeda dengan Fathul, dia orang yang sangat perduli dengan istri baginya istri adalah wanita terhebat yang harus di sayang.
"Iya, Zah juga merasa begitu beran badan Zah juga naik, apa ada yang salah ya Kak?" tanya Zahwa juga merasa heran dengan dirinya sendiri kenapa dia makan terus biasa sehari tiga kali sekarang bisa empat atau lima kali itu baru makan belum ngemilnya.
"Tidak, lebih baik suka makan dari pada nggak doyan makan," balas Fathul sangat berhati-hati saat mengucap takut si empunya tersinggung.
"Nanti kalau aku gendut gimana?" tanya Zahwa sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Tak apa tetap cantik," sambung Fathul.
__ADS_1
"Kakak tidak akan berpaling dariku kan? awas ya kalau Kakak ngelirik yang lain," ucap Zahwa dengan menatap tajam ke arah suaminya.
"Itu tidak mungkin sayang, aku hanya cinta sama kamu," balas Fathul dia heran kenapa dengan istrinya tingkahnya kadang seperti anak kecil, manja, kadang nyebelin marah-marah tidak jelas.
Beberapa hari ini makan juga suka minta yang aneh-aneh, masa iya istrinya sedikit konslet kan nggak mungkin.
Setiap hari Fathul harus extra sabar menghadapi Zahwa yang moodnya suka nggak jelas.
Selain makan Zahwa merapikan meja makan membawa piring dan gelas ke wastafel untuk di cuci, setelah beres urusan dapur Zahwa menyusul Fathul yang berada di ruang tamu.
"Kakak, besok libur ya, Zah ingin ditemenin." Zahwa bergelayut manja di lengan suaminya.
"Dirumah," jawab Zahwa dengan santainya seakan tak ada yang salah dengan ucapan atau tingkah lakunya.
Fathul yang mendengar jawaban Zahwa rasanya pengen nangis, kenapa coba dengan istrinya tiba-tiba dirumah minta di temenin biasanya juga sendiri.
"Apa kamu lagi sakit?" Fathul langsung menaruh telapak tangannya di jidat Zahwa.
"Ih, Kakak. Zah tidak sakit." Zahwa menyingkirkan tangan Fathul.
__ADS_1
"Terus, kenapa minta ditemenin sayang?" tanya Fathul.
"Entahlah, pokoknya ingin di temenin." Zahwa berdiri dari duduknya berjalan menuju kamar.
Fathul yang melihat Zahwa pergi dia pun segera menyusul istrinya takut Nyonya besar ngambek bisa riweh urusannya.
"Kerjaan Kakak sudah selesai?" tanya Zahwa melihat Fathul berada di belakangnya.
"Belum," jawab Fathul dengan tersenyum manis.
"Kalau belum kenapa kesini?" Zahwa bertanya kembali.
"Ingin nemenin kamu sayang." Fathul berjalan masuk mengikuti Zahwa.
"Aku ingin ditemenin besok bukan sekarang,: sambung Zahwa.
Fathul menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan istrinya ada rasa sedikit nyeri di hati Fathul, tapi dia tetap tersenyum dihadapan Kak Yani.
*"*
__ADS_1
Jangan lupa klik ya. Terima kasih.