
Persahabatan yang tak akan tergoyahkan meski mereka jarang berjumpa. Komunikasi adalah paling utama dalam sebuah hubungan.
Selesai dengan urusan dapur. Zahwa menuju kamarnya untuk bersiap karena hari ini, dia kuliah. "Lu, ngapa sih masih saja berpenampilan seperti itu Zah?" tanya Fathan.
"Zah, sudah nyaman seperti ini Kak," jawab Zahwa. Entahlah dia seakan tak pernah ada malunya untuk selalu berpenampilan culun, padahal dia selalu saja mendapat perlakuan yang kurang baik, tapi tetap saja dia masih nyaman dengan kaca mata tebalnya.
"Sudah, ayo, kita berangkat!" Fathul beranjak dari duduknya. Mereka keluar dari apartemen menuju kampus.
Dua puluh menit mereka sampai. Zahwa lebih dulu keluar dari mobil.
"Zahwa," panggil Sinta yang baru keluar dari mobil Raka.
"Hai." Zahwa menghampiri Sinta dan mereka langsung cipika-cipiki, biasalah ya, emak-emak kalau ketemu itu ada saja kelakuannya.
"Kok, kalian bisa barengan gitu?" tanya Raka.
"Dia, pagi-pagi buta sudah dirumah gue," Jawab Fathul.
"Habisnya rumah gue sepi banget, Emak pagi-pagi ngikut Bapak gue ke kantor, anaknya di biarin kelaparan nggak di masakin, ya sudah, gue ke apartemen Fathul saja lumayan kan dapat sarapan gratis,hehe," sambung Fathul.
Kalau ketempat temannya lain kan nggak mungkin karena mereka tinggal bersama orang tuanya. Kalau Fathul kan rumah sendiri jadi tidak sungkan.
"Sin, masuk yuk!" ajak Zahwa.
Sinta pun mengangguk.
"Kalian, masuk dulu, nanti kita nyusul ada urusan sebentar," ucap Fathul.
"Baiklah, kita duluan bye." Zahwa dan Sinta berjalan menuju ruangan mereka. Sedangkan para lelaki berbelok ke arah lain entah mereka bertiga pergi kemana hanya mereka yang tahu.
Saat menuju ke ruangannya, tiba-tiba dia bertabrakan dengan seseorang. Buku yang di pegang jatuh kebawah. "Maaf," ucap Zahwa. Sambil merapikan buku yang berserakan di lantai.
"Tak apa, saya yang salah karena jalan tidak lihat-lihat," sambungnya.
"Ini bukunya." Zahwa memberikan buku gadis yang tadi bertabrakan dengannya. Saat melihat wajah gadis itu Zahwa seperti mengenalnya.
"Noni," ucap Zahwa. "Kamu, beneran Noni kan?" Zahwa memastikan.
Gadis itu melihat dengan seksama tapi dia tidak mengenal orang di depannya. "Apa kita pernah bertemu?" tanya Noni.
"Ini, aku Zahwa. Apa kamu masih ingat?"
Noni mengangguk. "Aku, tidak salah lihat kan?"
"Tidak, ini beneran aku," ucap Zahwa.
"Tapi, kenapa penampilan kamu seperti ini?" Noni yang heran melihat penampilan Zahwa berubah seratus persen.
__ADS_1
"Ceritanya panjang, lain waktu akan aku jelaskan, ruangan kamu dimana?" tanya Zahwa.
"Disana," jawab Noni sambil menunjuk kearah ruangannya.
"Ya sudah, lain waktu kita ketemuan, aku duluan ya." Zahwa melanjutkan langkahnya menuju ruangan.
"Iya, Zah sampai ketemu lagi," ujar Noni. Dia juga melanjutkan langkahnya.
Sinta yang heran antara Zahwa dan Noni. Masa iya teman Zahwa orang berkacamata tebal semua.
"Zah, aku boleh tanya sesuatu?" Sinta membuka obrolan saat ini mereka sudah duduk di bangku masing-masing.
"Boleh, silahkan!"
"Tadi itu siapa Zah?"
"Oh, tadi Noni, teman aku saat SMP. Nanti aku ceritain," ucap Zahwa.
Dosen datang mereka pun diam, mendengarkan penjelasan guru.
*
*
Di rumah mewah dengan keadaan yang serba ada, tapi kasih sayang kurang, Papa dan Mamanya sibuk dengan urusannya masing-masing.
Hari ini dia sengaja tidak masuk kuliah karena tadi pagi harus mengantarkan Mamanya ke bandara. Kadang dia suka iri sama teman-teman, mempunyai keluarga yang harmonis, penuh dengan kehangatan meskipun orang tuanya sibuk tapi kasih sayang terhadap anak mereka utamakan.
Papa Ari tidak ingin anak-anaknya kurang kasih sayang. Dia berusaha sebisa mungkin untuk selalu ada buat anak-anaknya.
Begitupun Mama Ara, dia adalah madrasah bagi anak-anaknya, sesibuk apapun dirinya, tetap anaklah paling utama. Dia lebih baik menolak pesanan orang dari pada harus lembur mengerjakan gaun-gaun pesanan orang, sedangkan anaknya sendiri dirumah, menanti kepulangannya.
Kapan ya aku bisa seperti mereka, kapan orang tuaku sadar ada aku di dunia ini yang selalu menanti kedatangannya, batin Susi.
Kini dia berada di balkon rumah mengayun-ayunkan dirinya supaya bisa menghilangkan sedikit rasa lelahnya menghadapi takdir.
"Non Susi di luar ada tamu," ucap salah satu ARTnya yang berada di depan pintu kamar Susi.
"Suruh masuk saja, nanti aku turun kebawah."
"Baik, Non." Setelah itu ARTnya turun ke lantai bawah menghampiri tamunya.
"Tunggu, sebentar ya den."
"Iya, Bi terima kasih."
"Sama-sama den, bibi permisi dulu."
__ADS_1
"Iya, Bi, silahkan."
Tak lama Susi keluar kamar menuju ruang tamu. Saat di ruang tamu dia begitu bahagia melihat seorang yang datang kerumahnya tanpa aba-aba Susi langsung mendekati tamunya.
"Kakak," teriak Susi dikuping tamunya.
"Ist, kebiasaan banget, kamu mau membuat kuping kakakmu ini tuli," omel sang kakak.
"Kak Delon, kapan sampai sini?" tanyanya.
"Semalam." Delon adalah orang yang sangat dekat dengan Susi, mereka selalu bersama sejak kecil. Tapi mereka berdua harus berpisah saat orang tua Delon harus pindah ke kota X.
Dulu mereka adalah tetangga dekat, umur Delon dan Susi beda dua tahun. Delon lebih tua.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Delon dengan mengusap lembut kepala Susi.
"Seperti yang Kakak lihat." Susi menganggap Delon seperti Kakaknya sendiri. Karena Delon orang yang selalu ada buat Susi.
"Ada masalah?"
Susi hanya menggeleng.
"Apa mau pergi jalan-jalan?" Delon mencoba untuk mengajak Susi pergi agar bisa meringankan beban dirinya.
Susi mengangguk sebagai jawaban. Dengan senang hati. Dia sangat bersemangat kalau soal jalan-jalan.
"Susi, ganti baju dulu ya Kak," ujarnya.
"Iya, cepatlah jangan lama-lama, kalau kelamaan Kakak tinggal."
"Siap, Bos." Dengan berlari dia menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya, Kemudian dia mengeluarkan jurus ninja, berganti baju dan make up secepat kilat.
Dua puluh menit, Susi sudah rapi dengan celana hitam, atasan hijau, dan make up tipis membuatnya semakin terlihat cantik, tak lupa tas kecil yang ia selempangkan di sebelah bahunya.
Susi menuruni anak tangganya menghampiri Delon.
"Kakak, ayo!" teriaknya.
"Iya." Delon beranjak dari duduknya. Susi melingkarkan tangannya di lengan kekar Delon.
Mereka berdua keluar dari rumah, menuju motor Delon.
"Kita mau kemana?" tanya Delon dengan memasangkan helm di kepala Susi.
"Terserah Kakak saja," jawabnya, baginya yang penting keluar rumah mencari angin segar.
...*********************...
__ADS_1
**Hari libur pasti pada jalan-jalan nih.
Ingat protokol kesehatan selalu. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT**.